8   +   2   =  
Bagikan

Baru-baru ini, dunia digemparkan oleh slogan “OK Boomer”. Di media sosial secara serentak , gerakan ini mendapatkan dukungan dari generasi muda. Ekpresi ini merupakan reaksi dari generasi muda yang melihat bahwa orang dewasa terlihat mengabaikan dampak atau resiko dari perubahan lingkungan, teknologi dan politik.

Kritik satir “OK Boomer” mewabah sejak anggota parlemen Selandia Baru yang berusia 25 tahun,  Chloe Swarbrick, menyindir politisi tua yang mengejeknya ketika menyampai pidato terkait perubahan iklim. Sindiran singkat dari Chloe menjadi viral, dan akhirnya dijadikan meme dan tagar bertema pandangan kolot generasi tua terhadap generasi muda.

Dari sebagai besar media kabar asing, “OK Boomer” menandai akhir dari hubungan lintas generasi yang ramah, disisi ekstrem, malah  dinilai sebagai pemicu perang antara generasi.

Semua bentuk  masukan dan kritik generasi yang lebih tua, hanya dijawab “OK Boomer” oleh generasi yang lebih muda. Ini bentuk perlawanan simbolik cukup serius yang dikobarkan generasi muda terhadap pandangan-pandangan lama.

Pada perkembangannya, melalui “OK Boomer”, generasi muda mulai menyalahkan generasi yang lebih tua karena mewarisi kemiskinan, ketimpangan, kerusakan ekologis dan masalah-masalah sosial lainnya.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena  busuknya politik, rusaknya lingkungan dan merosotnya ekonomi bukan semata-mata buah dari generasi yang lebih tua. Kita perlu ingat, bahwa pada masa lalu, banyak juga dari generasi baby boomers terlibat dalam gerakan feminis, anti fasis, anti rasialis dan anti imprialisme.

Jangan saling serang

Generasi tua menganggap generasi muda pemalas, generasi muda menganggap generasi tua keras kepala. Padahal di dua generasi tersebut, pemalas dan keras kepala pasti ada. Teori generasi hanya cukup untuk memahami  fakta sosial atau  tindakan sosial dari pola-pola umum yang terjadi pada suatu generasi.  Terus-menerus menyembunyikan keterbatasan dari teori ini tentunya akan menimbulkan komplikasi secara sistemik.

Baca Juga  Transisi Generasi Muda yang Tak Pasti

Analisis generasi baru berguna untuk mengamati perubahan skala besar dengan periode waktu yang panjang. Jika serampangan, yang terjadinya hanya melahirkan kategorisasi bermuatan stereotipe dan stigma terhadap generasi-generasi tertentu. Ditambah, sering kali media, pemerintah dan perusahaan, terutama politisi, cenderung ceroboh dalam  menggunakan label generasi untuk kepentingannya masing-masing.

Terlalu berfokus pada pembelahan dan perbedaan antar generasi dapat membuat masyarakat luput terhadap permasalah yang diakibatkan oleh keserakahan oligarki berapa pun usianya, walaupun di Indonesia masih didominasi oleh oligark berusia tua.

Anak muda  dicengkram Oligarki

Menurut Jeffrey A. Winters dalam Oligarki (2011), oligark adalah pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang bisa digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial ekslusifnya.

Dalam banyak kasus, para oligark melakukan penguasaan dan pengendalian  melalui monopoli proyek-proyek pembangunan untuk memperkaya keluarga, anak, sanak-saudara dan kroniknya.

Oligarki makin kokoh, ketimpangan kian tajam. Hukum dan pembangunan mengabdi pada kepentingan dan kesepakatan di antara para oligark. Aspirasi anak muda hanya tinggal kenangan dan masalah-masalah yang menimpa generasi mudah menjadi tanggung jawab sendiri.

Para oligark telah mencurangi masa depan generasi muda, dengan merusak lingkungan, korupsi, dan kesepakatan jahat dibidang ekonomi. Dengan demikian, oligark sejatinya adalah sasaran utama yang perlu mendapatkan “pelecehan” dari generasi muda.

Lupakan slogan “OK Boomer”, karena pada akhirnya segala  krisis multidemensi di negara maupun dunia ini pelakunya adalah para  oligark serakah. Saat di lini masa,  ingat “OK Oligarch” jika ada penguasa memanipulasi aspirasi warga lewat retorika dan fatamorgana.

Maka dari itu, menjadi penting bagi generasi muda untuk merangkul orang-orang progresif dari setiap generasi untuk bersama menjinakan oligark yang terlalu buas dalam melahap hak-hak warga negara dari setiap usia.

Baca Juga  Pemuda dan Kontribusi Nyata Terhadap Pilkada

 

Tulisan ini telah dipublikasikan kumparan.com dengan judul Dari Lupakan ‘OK, Boomer’ dan Ingat ‘OK, Oligarch.


Bagikan