5   +   1   =  
Bagikan

Baru-baru ini, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, mengundurkan diri setelah dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap dana hibah KONI sebesar Rp 26,5 miliar. Imam Nahrawi adalah Menpora kedua yang terjerat kasus korupsi.

Sebelumnya, KPK pada Desember 2012, pernah menetapkan Andi Alfian Mallarangeng sebagai tersangka korupsi proyek Hambalang yang merugikan negara hingga Rp 463, 6 miliar. Ini tentunya menjadi catatan buruk bagi proses pembangunan pemuda di Indonesia.

Korupsi yang terjadi di Kemenpora tentunya memiliki dampak yang besar terhadap upaya pembangunan sumber daya pemuda dan kepercayaan generasi muda terhadap pemerintahan. Karena korupsi tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga merusak nilai-nilai demokrasi dan keteladanan bagi calon penerus bangsa.

Bagaimana pun, yang paling merasakan implikasi negatif dari korupsi adalah generasi muda. Karena yang dihancurkan di sini adalah masa depan mereka.

Anak Muda Bukan Hanya Korban Korupsi

Korupsi di dalam bentuknya dapat berupa penyalahgunaan wewenang, perburuan rente, suap, gratifikasi, penggelapan, hingga pemerasan, bahkan praktik ini telah berkonformitas pada jajaran birokrasi di segala level, dengan istilah “sama-sama tahu” atau “bagi-bagi rezeki”. Semua kementerian dan lembaga terkait memiliki kecenderungan ini. Karena praktik korupsi telah menjadi habitus yang terlembaga.

Korupsi pada satu sisi menghancurkan integritas generasi muda di masa ini dan nanti. Karena kasus korupsi yang sangat marak, membuat kaum muda di Indonesia masih percaya bahwa segala hal dapat dibeli dengan uang, termasuk pendidikan, pekerjaan, hingga jabatan. Sebagaimana kata mereka, “kalau ada duit, semua bisa diatur”.

Tidak heran, anak muda menjadi semakin permisif dan pesimis terhadap pemberantasan korupsi, seperti ungkapan mereka, “ah teriak-teriak antikorupsi, paling kalau sudah menjabat juga bakal korupsi”.

Baca Juga  Perjuangkan Kuota 30 Persen Anak Muda di Parlemen!

Maka yang perlu mendapat perhatian bersama pada situasi mutakhir, kita harus memahami pemuda Indonesia bukan hanya menjadi korban korupsi, tetapi bagaimana mencegah mereka agar tidak menolerir korupsi, atau ikut-ikutan berkolusi.

Pemberantasan Korupsi Tugas Generasi Muda

Tidak hanya di Kemenpora, korupsi di kementerian lain juga memiliki dampak negatif bagi pembangunan kepemudaan di Indonesia. Maka dari itu, keterlibatan anak muda dalam pemberantasan korupsi menjadi semakin penting dan sentral.

Hingga saat ini, keterlibatan pemuda dalam tata kelola pemerintahan masih terbatas dan dangkal, kontribusi mereka bahkan tidak memengaruhi kebijakan dan pengawasan anggaran. Dengan demikian, kaum muda perlu dilibatkan dalam fase formulasi agenda antikorupsi sebagi perserta aktif.

Tantangannya adalah bagaimana menciptakan mekanisme dan prosedur yang dapat menciptakan ruang representasi dan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan. Sekaligus menciptakan semacam talent pool yang dapat mencetak talenta muda yang berkompetensi dalam pemberantasan korupsi di setiap sektor dan level.

Perlu diakui bersama, tidak cukup hanya melibatkan anak muda dalam proses pemberantasan korupsi, mereka perlu untuk mengakhiri korupsi. Maka, menjadi langkah penting bagi pemerintah untuk melembagakan keterlibatan pemuda dalam pemberantasan korupsi. Sebagaimana kata Curt Cobain, vokalis band Nirvana, “The Duty of youth is to challenge corruption”.

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development. Ia dapat ditemui di Instagram @wildan.shah

 

*Tulisan ini telah dipublikasikan  Kumparan.com dengan judul “Menpora 2 Kali Korupsi, Bisakah Anak Muda Mencegahnya?”.


Bagikan