6   +   6   =  
Bagikan

 Kolaborasi Membumikan Pancasila – Warga Muda

Gembita Indonesia merdeka bergema. Merah putih berkibar dari pusat kota hingga pelosok desa. Semua menyambut suka cita, 75 tahun Indonesia merdeka yang diproklamasikan Soekarno-Hatta, pada 17 Agustus 1945.

Sehari setelahnya (18 Agustus), Pancasila dikukuhkan sebagai dasar negara Indonesia. Pengukuhan yang menjadi titik temu atau konsesus bersama para pendiri bangsa sejak fase pembuahannya pada dekade 1920-an. Semua dipersatukan lewat imajinasi menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, mandiri dan berkepribadian dalam berkebudayaan. Titik temu dalam kerangka dasar falsafah (philosofische groundslag) (filosofi dasar) dan cara pandang dunia (weltaunschauung) Indonesia merdeka.

Konsesus tersebut juga menunjukkan kebesaran hati bahwa bangsa Indonesia berdiri di atas semua golongan dan keberagaman suku, budaya dan agama. Pancasila secara sah sebagai dasar, falsafah, ideologi, dan ligature (pemersatu) bangsa Indonesia.

Suatu ketika, Kenz—-anak saya—, bertanya ihwal patung burung yang dilihatnya terpasang di dinding ruangan Perpustakaan Provinsi Banten. Burung itu adalah Pancasila.

Mendengar kata Burung Pancasila, Kenz bertanya lebih lanjut, apa itu Pancasila? Kenapa, dan untuk apa dipasang? Dan, pertanyaan-pertanyaan mendasar lain layaknya anak-anak seusianya.

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tapi bukan perkara mudah menjawabnya. Butuh jawaban logis, mudah dipahami, juga sekaligus menanamkan imajinasi untuk anak yang usianya baru empat tahun. Sebagaimana kita memahami Pancasila yang memiliki proses pertalian dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kala itu, saya hanya berucap: Pancasila di hadapanmu Kenz, bukan untuk sekadar dipandang, dihafal, apalagi sekadar pajangan. Amalkanlah itu sebagai nilai pikiran, tindak-tanduk dalam pengabdian kemanusiaanmu menyemai kebajikan. Sekali lagi Kenz, amalkan itu sebagai laku pengabdian tanpa harus menjadi yang paling Pancasilais dan agamis.

Sepenggal momen ini saya ceritakan ulang pada Senin, 10 Agustus 2020. Pembuka pembicaraan seminar virtual, “Membumikan Pancasila” yang dihelat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Banten. Forum penting untuk membuka kembali sekaligus memaknai ulang Pancasila pada generasi muda. Apalagi, sepanjang Juni-Agustus, adalah bulan yang secara historis berkelindan dengan hari kemerdekaan Indonesia, sekaligus lahir dan pengukuhan Pancasila sebagai dasarnya.

Baca Juga  Bagaimana Cara Pemuda Indonesia Melawan Corona?

Pancasila sebagaimana dibahasakan Yudi Latief sebagai warisan dari jenius Nusantara. Warisan yang sesuai dengan karakteristik lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau. Nusantara yang merefleksikan sifat lautan, yang menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungan. Keluasan sifat yang mampu menampung segala segala keragaman jenis dan ukuran.

Sementara, negeri kepulauan terbesar di dunia ini, tanahnya membujur di titik strategis persilangan antar benua dan antar samudera. Lengkap dengan daya tarik sumber daya alam yang berlimpah di pekarangannya. Maka, jadilah Nusantara sebagai taman sari peradaban dunia. Pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya yang mengembangkan corak kebudayaan yang beragam dari negeri mana pun.

Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Zuhairi Misrawi menyebut Pancasila adalah takdir sejarah. Nilainya menjadi sumber jati diri dan kepribadian atas rahmat Tuhan, yang sedari awal sudah terkadung di dalam bumi Indonesia. Soekarno, sebagai sosok sentral lahirnya Pancasila pun telah mengucapkan, bahwa dirinya bukanlah pencipta Pancasila, melainkan hanya penggali dari bumi Indonesia sendiri. Penggalian yang disebutnya sebagai ilham atas doanya kepada keagungan Tuhan, pada malam 1 Juni 1945.

Hasil penggalian ini dicitakannya sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Dasar yang dapat meletakan negara di atas meja statis yang mempersatukan segenap elemen bangsa. Sekaligus juga, menjadi leistar dinamis yang menuntun dan mengarahkan mencapai tujuan kemerdekaan bangsa.

Pancasila Era Milenial

Selayaknya sifat laut yang serba menyerap dan kesuburan tanah yang menumbuhkan itu, membuat Pancasila atau bangsa Indonesia tidak pernah sepi dari gangguan dan asupan tanaman dari luar. Pada masa kolonial misalnya, hama ekonomi-politik oleh kolonialisme-kapitalisme telah meninggalkan jejak kelam penindasan dan ketidakadilan. Bahkan mengerus kemakmuran, kosmopolitan, religius, toleransi, dan kekeluargaan dari tanah air ini.

Masa kini, ketika dunia memasuki era perkembangan teknologi informasi, ketahanan Pancasila kembali diuji oleh zaman. Banyak ideologi luar merasuk ke dalam sendi-sendi bangsa melalui media informasi. Hama dari kesuburan Pancasila semakin kompleks. Mulai dari lunturnya moral generasi muda yang cenderung semakin hedonistik, individualistik, egois, opurtunis, dan gejala penyakit apatisme terhadap lingkungan sekitarnya. Merosotnya nilai-nilai altruisme di tengah kehidupan masyarakat, dan ketidakpedulian terhadap karifan lokal yang mengajarkan aspek moral–normatif: rasa malu, sikap kesatria, jujur, dan rendah hati.

Baca Juga  Cara Milenial Meraih Kebebasan Finansial

Di sisi lainnya, kita diperlihatkan elit politik yang semakin miskin keteladanan yang mengacu pada nilai dan jatidiri Pancasila. Menguatnya politik identitas berdasarkan suku agama dan rasial. Belum lagi, banjir informasi hoaks dan ujaran kebencian, yang merusak tali persatuan, toleransi dan keakrabran berwarga negara.

Pancasila sebagai warisan sejarah bangsa memang membanggakan. Kendati, ada anggapan kebanggan itu sekaligus mudah dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan tertentu. Terjebak dalam politik adagium atau jargon yang bertolak belakang dengan realitas praktiknya. Juga kerap dikambinghitamkan sebagai alat kekuasaan, sehingga timbul perasaan resisten untuk memperbincangkan keberadaannya.

Belum lagi, dominasi anggapan tidak fungsional untuk mengatasi problem riil masyarakat, seperti: kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, konfiik dan keutuhan Indonesia. Bahkan, tidak lagi menjadi mainstream referensi publik dalam memandang persoalan kehidupan sosial politik.

Ujian ketahanan itu memang sebagai keniscayaan pada arus evolusi perkembangan zaman. Selayaknya karakter “tanah-air yang menyerap dan menyuburkan, kita perlu mengelola secara sifat-sifat tersebut. Membumikan Pancasila sebagai sumber jati diri, moralitas, kepribadian dan haluan keselamatan bangsa.

Proses pembumian dilakukan dengan memperdalam pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan keutamaan Pancasila. Merajut kesalingterkaitan setiap sila yang satu dengan sila lainnya, dan mengamalkannya secara konsisten. Cendekiawan Muslim Kunto Wijoyo menyebutnya, dengan istilah proses “radikalisasi Pancasila.” Revolusi gagasan untuk membuat Pancasila tegar, efektif, dan menjadi petunjuk bagaimana negara ditatakelola dengan benar.

Radikalisasi Pancasila yang dimaksudkan itu, dengan mengembalikan Pancasila sebagai ideologi negara, sekaligus mengembangkannya sebagai ilmu. Selain itu, mengusahakan Pancasila mempunyai konsistensi dengan produk perundang-undangan dan keterkaitan langsung dengan realitas sosial. Lalu memaknai Pancasila yang semula hanya melayani kepentingan vertical (negara), menjadi Pancasila yang melayani kepentingan horizontal (rakyat), dan menjadikan Pancasila sebagai kritik negara.

Radikalisasi Pancasila yang dimaksud itu, juga agar membuat Pancasila menjadi lebih operasional dalam kehidupan dan ketatanegaraan. Bahkan, sanggup memenuhi kebutuhan praktis dan fungsional. Pemikiran-pemikiran lain yang bersifat abstraksi-filosofis juga bukan tanpa makna. Namun, akan jauh lebih bermakna sejauh diberikan operasionalisasinya agar menyejarah dalam kehidupan di masa depan.

Baca Juga  Herd Immunity ala Indonesia Terserah!

Secara praksis, proses pembumiannya dapat dilakukan negara melalui produk hukum dan lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan harus menjalankan tugasnya sebagai ruang internalisasi nilai-nilai Pancasila. Menyuburkan Pancasila melalui kurikulum pembelajarannya. Sementara itu, keluarga dan masyarakat ikut menyokong lewat partisipasi aktifnya melalui berbagai gembyar aktivitas kesehariannya.

Terlebih, di tengah gemerlap teknologi-informasi, peran keluarga dan masyarakat, khususnya kaum muda (milenial) tidak kalah penting. Gen milenial ini yang diyakini menjadi tulang punggung keberlangsungan Indonesia merdeka. Mereka adalah pewaris zaman yang punya kecenderungan spontanitas, kreativitas dan inovasi baru yang segar.

Jika pemerintah dan kalangan akademik melakukan kerja-kerja formal melalui sosialisasi empat pilar, seminar, workshop, dan lainnya, maka gen milenial bisa membumikan Pancasila secara informal. Platform-platform media sosial bisa menjadi kanal media untuk membumikan Pancasila secara segar dan memikat. Baik melalui tulisan populer di website atau blog, meme kreatif, grafis, video, vlog, dan film pendek konten-konten edukasi yang sarat nilai-nilai Pancasila.

Akhirnya pembumian Pancasila memerlukan kerja-kerja kolektif seluruh elemen bangsa. Karena itu juga yang menjadi perwujudan dari spirit gotong royong sekaligus membumikan Pancasila. Spirit yang menjadi inti dari Pancasila itu sendiri.

Gotong royong itu pun senafas dengan yang oleh milenial akrab disebut sebagai kolaborasi. Sebuah proses mendasar dari bentuk kerjasama yang melahirkan kepercayaan, integritas, dan terobosan melalui pencapaian konsesus. Juga kepemilikan, dan keterpaduan pada semua aspek organisasi. Maka, sebagaimana perkataan Soekarno, Pancasila itu sajalah yang bisa mempersatukan kami semua. Tanpa perlu saling menuding khilaf(ah), kita hanya perlu merajut kembali rasa kekeluargaan bangsa Indonesia dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Pancasila adalah kolaborasi gen milenial kita masa kini!

 

Ken Supriyono adalah Jurnalis penikmat kopi hitam/Koordinator Journalist Lecture dan Founder Milenial Banten Community (MBC). Ia dapat ditemui, IG: @kensupri, Twitter: @kensupriy dan FB: Ken Supriyono


Bagikan