7   +   5   =  
Bagikan

Chaos isn’t a pit, chaos is a ladder– Petyr Baelish (Game of Thrones)

Sudah hampir memasuki satu tahun, fenomena Covid-19 tak kunjung lenyap dari muka bumi pertiwi. Bumi pertiwi yang sudah menua, serta permasalahan yang satu per satu muncul seakan merupakan suatu bom yang dilemparkan bertubi-tubi. 

Dari sekian banyak negara, Indonesia seakan ikut berlomba untuk memenangkan suatu pertandingan tingkat kasus corona tertinggi. Dikutip dari kompas.com, menurut data Worldometers, Indonesia kini menempati peringkat ke-23 dunia per tanggal 14 September 2020 dengan total 221.523 kasus. Namun sampai saat ini, belum ada langkah yang begitu berarti untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit ini.

Berangkat dari perkataan karakter fiksi pada serial Game of Thrones, Petyr Baelish, yang berkata bahwa kekacauan bukanlah jurang, kekacauan adalah tangga. Perkataan tersebut seakan merupakan suatu mata pisau yang seharusnya bisa menjadi suatu bahan introspeksi. 

Memang betul, bahwa kekacauan adalah tangga untuk menggapai suatu kesuksesan dan untuk menuju kesempatan lain. Namun perlu diingat, jangan manfaatkan kekacauan yang orang lain miliki sebagai tangga untuk diri kita sendiri. 

Setiap insan—tanpa membedakan sistem kelas, politik ataupun lainnya— pasti memiliki suatu hasrat dalam mencari celah-celah demi menggapai suatu kepentingan, keinginan ataupun kebutuhan dari suatu hal yang bahkan sangat rumit. Hal inilah yang sering kali disebut sebagai opportunity

Seiring perkembangan, opportunity di sini mengalami suatu pemahaman konotasi negatif yang seringkali memiliki ambiguitas batas-batas antara baik dan buruk. Pemahaman yang abu-abu ini tanpa disadari melahirkan pemikiran-pemikiran manusia yang egosentrisme.

Seperti contohnya, pada awal mula kemunculan penyakit ini, orang-orang beramai-ramai menimbun masker untuk kemudian dijual kembali dengan harga mahal. Tentu saja itu merupakan peluang untuk mendapatkan suatu keuntungan. Hal tersebut didasari karena daya beli masker melonjak pada saat itu.

Namun jika dipandang dari sisi lain, hal ini merupakan suatu penyimpangan dan penyelewengan. Pembelian masker yang tinggi untuk tujuan penimbunan, membuat ketersediaan masker menipis. Hal ini menyebabkan orang-orang dengan terpaksa membeli dengan harga mahal dari mereka-mereka yang melihat peluang.

Contoh di atas merupakan contoh yang paling sederhana. Begitu naif memang jika menjawab fenomena ini dengan mengatasnamakan hakikat manusia dalam pemenuhan kebutuhan. Tetapi memang tidak dapat dimungkiri bahwa itulah satu-satunya pembelaan retoris.

Hal ini memang sudah tidak dapat dihindarkan. Kekacauan akibat pandemi ini sudah banyak ditunggangi oleh berbagai macam kepentingan, bahkan dari para elite politik. Kaum-kaum elite politik seakan saling unjuk gigi, saling sikut satu sama lain dan panjat-memanjat demi menunjukkan suatu eksistensi. 

Apabila si A menerapkan kebijakan dalam hal menangani pandemi dan melahirkan suatu kontra, si B melihat peluang untuk berpihak kepada si kontra demi menjatuhkan si A. 

Di sisi lain,  pihak pro A berlomba-lomba mendukung si A dan mengorek-ngorek koreng si B dengan membanding-bandingkan antara kebijakan si A dan si B. 

Aneh memang. Tetapi memang seperti itulah kelihatannya. Saling goreng, saling sikut dan saling guling untuk berlomba-lomba memanjat tangga demi mencapai puncak teratas.

Sebenarnya siapa yang salah? Mengapa ini tak kunjung usai?

Jawabannya adalah manusia. Manusia memang tak pernah puas. Oleh karena itu, berhentilah menjadi koruptor dari diri sendiri. Tanpa disadari kita semua adalah koruptor, yang selalu egois mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan orang banyak. Sekali lagi, ini memang merupakan jawaban yang begitu naif. Namun sebagai seorang sipil, apa yang bisa kita lakukan? mengkritik pemerintah?

Hei bung! Lihatlah diri kita, kita adalah koruptor. Saat muncul peraturan untuk tidak keluar, kita keluar dengan yang terkasih dan bersenang-senang. Saat muncul peraturan untuk menggunakan masker, kita diam-diam melepas masker atas nama pernapasan. Saat muncul peraturan untuk tidak bergerombol, kita bergerombol saling menceritakan kisah hidup dan mendeklarasikan ke teman-teman bahwa takdir di tangan Tuhan. Lalu dengan ba-bi-bu kita mengutuk pemerintah dengan segala kebijakan? 

Kita mungkin tidak salah dalam hal mengkritik. Bisa jadi anggapan negatif tersebut tentang pemerintah memang benar begitu adanya. Jika memang benar seperti itu, biarlah mereka menjadi koruptor. Biarlah mereka menikmati permainan-permainan mereka. Percayalah, teriak-teriakanmu tak akan sampai pada mereka yang tinggi. Biarlah yang menciptakan manusia menjadi hakim agung yang seadil-adilnya.

Jadilah Generasi Pengubah, Bukan Generasi Penerus!

Tugas kita adalah memutus lingkaran koruptor dari diri sendiri. Sebagai anak muda yang berpikir kritis, ubahlah statement “generasi penerus” menjadi “generasi pengubah”. Seimbangkanlah id, ego, dan superego yang kita miliki. 

Ini mungkin memang bukan merupakan solusi. Namun lingkaran ini akan terus ada jika kita tidak mencoba untuk memutusnya. Mulailah dari dirimu sendiri, buatlah dirimu jadi ujung putusnya sikap ini. Percayalah, ibu pertiwi berharap kepadamu. 

Buanglah penglihatan peluang atas kekacauan yang dialami oleh orang lain. Jangan jadikan kekacauan orang lain sebagai tangga untuk diri kita sendiri. Bantu mereka agar tidak semakin banyak orang yang jatuh ke dalam jurang. Sudah saatnya mengesampingkan kompetisi dan mulai berkolaborasi untuk mengatasi pandemi ini.

 

Baca Juga  Herd Immunity ala Indonesia Terserah!

Adi Kurniawan adalah mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta. Ia aktif dalam kegiatan seni maupun sastra. Salah satu anggota bengkel sastra UNJ yang gemar menulis tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Baginya, seni adalah keramaian dan deadline adalah motivasi untuk menjadi pribadi produktif.


Bagikan