9   +   10   =  
Bagikan

Allah berikanlah kemenangan melawan kekafiran, Yesus berikanlah kekuatan melawan orang-orang yang tersesat, Yahweh berikanlah semangat menghancurkan penindasan, Doa siapa yang akan Tuhan kabulkan? Semua anak-anak selalu berdoa untuk menang dalam perang. Apakah Tuhan sedang bingung melihat umatnya berdoa untuk saling memusnahkan?

Hidup berdampingan, seperti sebuah dongeng belaka. Dibanyak tempat, perbedaan keyakinan beragama menjadi penyulut utama terjadinya kekerasan atas klaim membela kebenaran agama. Menyakiti dan menghilangkan nyawa manusia berubah menjadi ritual wajib bagi pemeluk agama.

Acap kali, agama hanya dipahami sebagai identitas. Padahal, memaknai agama sebagai identitas merupakan kecacatan dalam berke-Tuhan-an. Semangat eksistensi beragama yang melupakan subtansi adalah sejarah kelam agama dan akhirnya umat yang mengaku beragama terjebak pada sentimen primodial berkepanjangan.

Sejarah agama selalu diwarnai dengan pertumpahan darah, seperti pada masa Voltaire, di Prancis, ada perselihan antara Protestan dengan Katolik, di India pada masa Gandhi juga terjadi saling bantaian antara Hindu dengan Islam.

Bahkan, Indonesia sebagai negara berslogan “Bhineka Tunggal Ika” merupakan panggung berdarah krisisnya toleransi. Banyak korban sia-sia karena semangat “kebutaan” beragama yang membabi buta. Maluku, Poso, dan bom bunuh diri menodai sejarah sopan dan ramahnya ibu pertiwi. Tanpa sadar bangsa Indonesia sudah meng-agama-kan  benci daripada cinta.

Berpuasalah untuk membenci

Bangsa Indonesia hari ini seolah terbagi menjadi dua antara penonton dan aktor dari drama horor yang ditayangkan media elektronik. Tokoh agama memang pintar berakting membela Tuhan-nya dan menjatuhkan Tuhan lainnya, saling hujat dilayar kaca terlihat menjadi kebiasaan dalam beragama, dan penguasa media memang cerdik menjadikan konflik berbau agama sebagai pedulang uang, ya, mengkomoditikannya untuk dibeli umat yang haus akan perselisihan.

Baca Juga  Ketika Hobi dan Bisnis Melestarikan Tawuran Remaja

Drama horor penuh ancaman menjadi tontonan keluarga mulai dari adik, kakak, ibu, bapak dan kakek, nenek yang mau wafat pun ikut berpartisipasi menghujat lawan dari agamanya yang ada dilayar kaca, di sela-sela waktu  berbuka puasa.

Kebencian berkembangbiak terus saja beranak pinak, hingga saat mereka keluar dari rumah dengan pikiran diselimuti kebencian, ketakutan, karena merasa terancam oleh umat agama “yang lain”, dan berdoa pada Tuhan, “semoga esok si kafir musnah”.

Kesadaranya terombang-ambing, ketakutan memaksanya pensiun menjadi penonton, dan memutuskan untuk terjun menjadi aktor dari drama horor yang pernah mereka tonton saat makan malam.

Sedikit potret keluarga bahagia yang tampil dalam mozaik intoleransi beragama di bumi pertiwi. Mungkin ini sedikit mewakili suasana rumah yang dipenuh segerombolan orang dungu didalamnya.

Persoalan akan bertambah rumit ketika keluarga dungu ini berkumpul dan berserikat dalam rangka membela dan sok mewakili agamanya. Berteriak atas “kebenaran”, bertindak berdasarkan kebencian.

Alhasil, apa yang akan dilakukan atas nama agama akan mengalami disorientasi yang memicu konflik dengan menghalalkan kekerasan.

Jangan merasa berkuasa dari yang Esa

Lingkaran kekerasan terus berputar menyedot banyak perhatian bagi umat beragama. Bunuh-membunuh dan kekerasan mengkristal menjadi budaya massa.

Seolah manusia mampu mensiasati agama untuk membenarkan tindakannya melukai manusia lainnya. “Tuhan tidak butuh dibela”, ujar Gus dur. Kenapa kita harus saling membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan. Padahal, agama apa pun mencita-citakan perdamaian dan keselarasan.

Kita selalu terbalik memahami pemikiran Nietzche yang telah membunuh Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Ternyata, umat beragamalah yang sebenarnya membunuh Tuhannya. Karena, Kita membunuh manusia dengan maksud ingin menyelamatkan Tuhan.

Kita merasa lebih esa dan mampu menentukan takdir Tuhan, hingga harus menjaga-Nya agar tidak mengalami kematian.

Baca Juga  Cara Memanipulasi dan Menginspirasi Gen Z untuk bergerak serentak, Resep ampuh bagi pengurus organisasi kepemudaan!

Manusia memang perlu digugat karena keangkuhannya. Manusia sudah memberontak Tuhan dengan saling memusnahkan. Padahal, tak satupun dari mereka yang benar-benar memahami keutamaan yang terkandung dalam agamanya, karena memang umat beragama sudah tidak lagi berfikir.

Kita telah terlalu lama melacurkan agama untuk menyerang dan menjatuhkan manusia lainnya, memfitnah Tuhan untuk membenarkan perilaku primitif kita yang biadab.

Jika intolerasi berasal dari hukum ilahi pasti akan selalu disalah gunakan oleh umatnya. Kita mengenal dan mengakui bahwa hukum ilahi adalah ajaran Tuhan yang mengajarkan langsung dari-Nya.

Tuhan mengatur banyak hal supaya umatnya berdampingan dengan alam dan manusia. Namun, manusia sudah tidak lagi taat untuk menjaga sesamanya. Ini bukti, begitu dangkalnya manusia dalam beragama sehingga ia mudah tersulut dengan segala bentuk hasutan yang ada.

Manusia menjadi meluap-luap bahkan mampu saling membunuh dan melukai. Karat yang begitu besar ini memperlihatkan manusia tak lagi memiliki tanda-tanda keberadaan Tuhannya, pikiran-pikiran yang biadab akan mengisi kekosongan Tuhan yang dialpakan di jiwanya. Mungkin, manusia telah lupa peran agama yang mereka telah anut. Peran yang selalu hadir untuk menjaga agar tak ada kejahatan tersembunyi didalam benak manusia.

Agama bukanlah sebuah benda yang harus dibenturkan satu dengan yang lainnya. Manusia beragama selalu untuk mendapatkan ketenang dalam jiwa yang sudah kering, lelah mencari tujuannya.

Keyakinan tidak seperti tentara yang menyerang dengan kekerasan agar kita percaya bahwa telah diserang dan harus melawan. Keyakinan manusia adalah pedewasaan iman dalam beragama, mengerti dengan ritual dan posisi kebaikan yang terkadung di dalam agama.

Agama bukanlah identitas yang dipamerkan tetapi dijadikan pedoman dalam kehidupan. Terlepas dari agama apapun pasti memaknai kebaikan sebagai nilai universal.

Baca Juga  Koperasi Pendidikan untuk Demokrasi dan Buruh

Toleransi, kebebasan dan dialog adalah penghargaan atas manusia yang terkandung di dalam agama. Beragama dimulai dari diri sendiri secara personal sebagai proses mendewasakan Iman kita dan menjadi langkah untuk bersahabat dengan menjalin hubungan sesama manusia, sesama umat yang beragama.

Semua agama akan saling selaras menjalani kehidupan tanpa ada acaman dan ketakutan. Semua doa tidak lagi untuk saling memusnahkan, doa tidak lagi ditujukan untuk seluruh manusia dan doa hanya untuk Tuhan sang pencipta alam.

Doa di bulan yang suci

Tuhan pembuat galaksi dan lautan biru dibumi. Mudah bagi Mu untuk memusnahkan kami yang lemah tak berdaya. Kau buat api dalam kegelapan, kaum berikan air untuk kesuburan. Jagat raya tempat ku berdiri melihat wahyu-Mu sebagai keadilan jalan hidup ku. Janganlah Tuhan menanam kebencian di benak ciptaan-Mu.

Berikanlah kami akal untuk saling menolong, ajari hati kami untuk berbagi berkah-Mu yang tak cukup untuk aku sendiri. Lelah aku berdiri di jagat yang Engkau ciptakan, Aku butuh teman untuk membantu ku melewati rintangan yang tak kunjung henti. Buatkanlah perbedaan ini sebagai keragaman tanpa ada benih permusuhan didalamnya.

Bila Tuhan berkenan, ingatkanlah pada seluruh manusia bahwa mereka semua bersaudara, jangan biarkan mahluk ciptaan-Mu diselimuti ketakutan saling mengacam dan memusnahkan akan membuat tirani kebencian di hatinya.

Tuhan, sadarkanlah manusia bahwa mereka mempunyai mulut untuk berbicara, beritahu mereka bahwa mereka mempunyai telinga untuk mendengar dan tampar mereka Tuhan, bila manusia lupa Engkau telah menciptakan hati untuk memahami sesamanya, manusia dungu beragama dangkal yang telah salah memahami-Mu, Tuhan ku, Tuhan bagi seluruh manusia.


Bagikan