7   +   9   =  
Bagikan

Tak terasa kita sudah 75 tahun merdeka. Artinya, kita memiliki 25 tahun lagi untuk bersiap menuju Indonesia Emas. Untuk mewujudkannya, seyogyanya kita sudah tidak lagi  bergantung 100 persen pada SDA negara. Terutama pada SDA yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable natural resources).  

Usia 75 tahun merupakan waktu yang cukup untuk menjadi negara yang mandiri. Negara yang tidak selalu bergantung pada negara lain, meskipun menjadi negara yang menutup diri secara total dari bantuan, pengaruh, dan kerjasama Internasional juga bukan pilihan yang tepat. 

Akan tetapi, di balik kekayaan alam Indonesia yang semakin menipis karena terus dikeruk oleh para Oligarki, negeri ini masih punya harapan dari Sumber Daya Manusianya (SDM). Dalam upaya meningkatkan kualitas SDM, pemerintah semestinya tidak perlu meminta pertolongan pada SDM asing untuk membantu SDM Indonesia secara terus-menerus. Misalnya, melakukan transfer knowledge dengan tujuan pekerja lokal menjadi lebih kompetitif untuk bersaing dengan para pekerja asing. 

Ada satu hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah yakni, Diaspora Indonesia. Mereka tersebar di berbagai penjuru dunia, dan tidak sedikit dari mereka yang masih memiliki rasa cinta terhadap bangsa yang begitu besar. Sayangnya, pemerintah belum sepenuhnya fokus dalam merangkul semua Diaspora Indonesia sebagai aset potensial untuk negara. Tentunya, Diaspora Indonesia bisa menjadi salah satu pendorong penting untuk mewujudkan misi Indonesia Emas pada 2045. 

Diaspora sebagai Aset Negara

Apa yang dimaksud dengan ‘Diaspora’? Diaspora dibagi menjadi 4 (empat) kelompok. Pertama, Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di luar negeri dan secara sah masih memegang paspor Indonesia. Kedua, WNI yang sudah menjadi Warga Negara Asing (WNA) dan secara sah sudah tidak memegang paspor Indonesia. Ketiga, WNA yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia. Keempat, WNA yang tidak memiliki paspor Indonesia maupun pertalian leluhur dengan Indonesia sama sekali, namun memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia (diasporaindonesia.org). 

Nyatanya, jumlah Diaspora Indonesia itu sangatlah banyak. Berdasarkan data Institut Kewarganegaraan Indonesia menunjukkan Diaspora Indonesia berjumlah sekitar 8 juta yang tersebar di berbagai negara. Terdapat 5 (lima) negara terbesar yang ditempati oleh Diaspora yakni, Malaysia (2.500.000 jiwa), Belanda (1.800.000), Saudi Arabia (1.500.000), Singapura (200.000), dan Amerika Serikat (187.220).

Lantas, apa saja keistimewaan yang dimiliki Diaspora Indonesia? Dengan populasi Diaspora Indonesia yang hampir menyamai jumlah populasi penduduk di Swedia dan Austria, setiap tahunnya, Diaspora Indonesia mengirimkan devisa ke tanah air hingga US$ 7 miliar atau sekitar hampir Rp 70 triliun. 

Bukan hanya itu, ternyata ada banyak Diaspora Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, dan mereka semua tersebar di banyak negara. Tentunya, ini memberikan “angin segar” bagi tanah air yang memerlukan lebih banyak ilmuwan dan pakar.

Lalu, bagaimana peran negara yang seharusnya diberikan kepada Diaspora Indonesia? Melihat banyaknya persebaran Diaspora Indonesia, pemerintah seharusnya lebih gencar lagi dalam menjalin hubungan kerjasama dengan para Diaspora Indonesia. Terlebih lagi pada kelompok pertama Diaspora, yang mana mereka masih berstatus sebagai WNI dan masih memiliki paspor Indonesia secara sah. 

Menuju Indonesia Emas bersama Diaspora Indonesia

Peran negara harus benar-benar aktif dan hadir, karena jika hubungan antara Diaspora dan pemerintah Indonesia dapat berjalan dengan baik, maka sinergi antara keduanya dapat membantu mensejahterakan kehidupan penduduk Indonesia. Sayangnya, stigma negatif  “Tidak cinta tanah air, tidak berbakti pada bangsa, terlalu betah di luar negeri sampai lupa negara sendiri, dan lain sebagainya” sudah sering menjadi santapan sehari-hari bagi para Diaspora, dan kerap membuat mereka dilema tentang cara berkontribusi pada bangsa.

Dalam hal ini, perlu ada inisiasi dari pemerintah Indonesia untuk membuka peluang bagi Diaspora Indonesia agar dapat berkontribusi pada Indonesia. Kolaborasi jangka panjang (long-term collaboration) sangat penting untuk persiapan menuju Indonesia Emas. Untuk  mewujudkan kolaborasi jangka panjang yang lebih luas dan menguntungkan, baik bagi pemerintah dan Diaspora Indonesia, maka saya mengajukan satu program bernama ‘Diaspora untuk Tanah Air’ atau DUTA. 

Selain membantu negara dengan menanamkan modal dan investasi, Diaspora dapat dikategorikan sebagai SDM unggul yang sudah memiliki banyak pengalaman dan terlatih keterampilannya di luar negeri. Mereka diharapkan dapat membantu memajukan negeri, baik melalui pelatihan bisnis, UMKM, dan pendidikan. Dari tiga titik fokus tersebut, dibagi kembali ke dalam tiga sub-program:

D.U.T.A Modal dan Bisnis

Divisi pertama adalah DUTA Modal dan Bisnis, di mana Diaspora bisa memilih untuk menanamkan modal mereka di tanah air (tanpa harus kembali ke Indonesia), atau berkunjung untuk mengajarkan bisnis ke perusahaan-perusahaan domestik. Tentunya, diharapkan mereka membantu mengajarkan dan melatih bisnis di perusahaan domestik yang sedang ingin berkembang, sehingga akan sangat memerlukan transfer knowledge yang tinggi dari para Diaspora. Logikanya, daripada Indonesia harus bersusah payah memberi upah para expatriate dengan gaji yang mahal hanya untuk transfer knowledge dalam bidang bisnis, Diaspora Indonesia juga bisa melakukannya. Bahkan, ini akan memperluas jaringan mereka secara langsung di tanah air. 

Di sisi lain, penanaman modal yang dilakukan oleh para Diaspora Indonesia juga akan amat membantu perekonomian Indonesia. Keputusan ini tentunya jauh lebih bijaksana dibandingkan negara harus terus bergantung pada modal asing yang diberikan oleh negara lain atau berhutang pada lembaga ekonomi dunia seperti, International Monetary Fund atau World Bank.  

D.U.T.A UMKM

Divisi kedua ini akan mengajak para Diaspora Indonesia untuk membantu pelatihan UMKM. Jika pada divisi sebelumnya, Diaspora diajak untuk berkolaborasi dalam transfer knowledge kepada para pengusaha dan karyawan di level perusahaan. Pada divisi ini, mereka melakukan transfer knowledge seperti, mengadakan pelatihan, memberikan tips dan trik tentang bagaimana membangun UMKM yang sukses di luar negeri, agar para pelaksana UMKM dapat menerapkan nilai-nilai positif tersebut untuk UMKM di Indonesia. 

D.U.T.A Pendidikan

Seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya bahwa ada begitu banyak Diaspora Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Fakta ini seharusnya menjadi angin segar bagi dunia pendidikan tanah air. Para ilmuwan bisa melakukan kunjungan selama 1-3 bulan (jangka pendek) atau 1-2 tahun (jangka panjang) untuk membantu penelitian, terutama dalam kajian-kajian strategis.

Perlu diperhatikan, agar program ini dapat berjalan dengan baik, pemerintah berperan penting dalam pemberian izin masuk dan izin tinggal bagi para Diaspora yang bergabung dalam program DUTA. Selain itu, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kementerian Pendidikan, serta Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, semuanya harus saling bersinergi dan mengakomodasi para Diaspora Indonesia yang nantinya ikut bergabung dalam program DUTA.

Semoga dengan lebih memperhatikan Diaspora Indonesia, pemerintah sadar bahwa Sumber Daya Alam Indonesia bisa habis, namun gagasan, ilmu, inovasi, kreativitas, koneksi, serta pengalaman yang dimiliki Sumber Daya Manusia Indonesia akan terus bertambah. 

 

Baca Juga  Anak Muda Bisa Mencoba Bisnis Kuliner

Bagikan