0   +   6   =  
Bagikan

Untuk Presidenku nanti, siapapun orangnya, dari aku, Wildan, anak muda yang mungkin kau tak hitung keberadaannya. Tak apalah, biasa saja itu untukku.

Lafran Pane yang pendiri HMI saja, butuh waktu lama, puluhan tahun, sampai akhirnya keberadaannya dilihat, diangkat, dipuja-puji setiap jasanya, harumlah namanya jadi pahlawan nasional.

Kalau aku, ah masih jauhlah, aku tidak risau apakah kau tahu keberadaanku ini atau tidak. Wahai presidenku, aku hanya berdoa kau selalu sehat dan bugar. Itu saja, sederhana.

Aku yakin, ambisimu untuk memimpin negara ini berat, belum tentu semua kuat sepertimu, apalagi aku, keturunan Sleman-Medan tanpa darah biru, yang isi dompetnya cuma cukup untuk hidup, berkegiatan sosial dan beli buku.

Di tengah keterbatasan dan harapan, aku sempatkan menulis surat untukmu, semoga kau ada waktu membacanya tanpa perlu membalasnya.

Aku pikir, mungkin kau sedang menghitung-hitung peluang, berusaha memetakan lawan dan kawanmu, atau sedikit berdiam diri, melihat situasi terkini, menyesuaikan arah suara rakyat agar bisa masuk kotak suaramu. Santai saja, ini hal wajar, tak perlu sungkan, apa lagi malu-malu.

Seperti kata seniorku, tidak ada yang abadi, semua tergantung opportunity. Ya, macam koalisi politik, tidak ada yang sejati, di atas ingin jadi oposisi, di bawah harmonis sekali. Ya namanya demokrasi, semua orang termasuk aku harus maklum tanpa boleh menghakimi, apalagi yang tidak ngerti.

Aduh, aku jadi ngelatur, mohon maaf, kadang anak muda memang susah diatur, berat sekali bagi kami ikut peraturan, apalagi peraturan-peraturan yang dibuat tanpa melibatkan kami, tanpa persetujuan kami, tanpa bertanya pada kami.

Semua itu sakitnya “di sini” wahai calon presidenku, seperti mau makan mie goreng tapi malah dikasih mie rebus, perih ga ketulungan. Kesannya sama, padahal beda. Ini menunjukan sering kali perbedaan usia diantara kita membuat selera kita juga berbeda.

Jika kamu memimpin negeri ini nanti, jangan keseringan merintah kami sesuai seleramu, kita beda zaman, beda tantangan, beda peluang, beda pergaulan.

Mungkin dulu kamu merayu gebetan pake surat, kami sekarang pake whatsapp. Dulu kamu naik ojek pangkalan, sekarang aku naik ojek online. Dulu semangatnya owning economy, sekarang semangatnya sharing economy. Udah banyak bedanya, udah banyak berubah, masa sih kamu masih mau terjebak nostalgia? aku sih enggak.

Memang salah ya kalau kita sama-sama belajar? duduk bareng, saling curhat dari hati ke hati, gosipin potensi bom ekonomi informal, virus stunting yang menyerang generasi bangsa sampai tata kelola bonus demografi dan transisi demokrasi kita nanti. Ya, biar sama-sama suka dan tahu arahnya mau kemana. Kalau boleh minjam kata-kata Dee lestari, anak muda tuh maunya “seiring bukan digiring”.

Baca Juga  Kala Gen Z Berpolitik dengan Santai

Aku tahu sih, tahu banget malah, ini berat buat kamu. Tapi pas momen kampanye dimulai nanti, kamu, aku ramal bakal ceramah dan koar-koar bahwa anak muda adalah kekuatan utama bangsa-lah, agen perubahan-lah, harapan negara-lah. Gombalan kamu pasti bakalan romantis banget, terharu, Dilan-Fahri pasti kalah telak.

Kebayang sih, di spanduk, orasi dan seminar, akan bertaburan wajah manjamu itu. Pastilah kamu bakal komporin anak muda buat terlibat politik, dan tidak lupa buat milih kamu untuk jadi “RI 1”. Malah feeling ku, pesan yang kedua kayanya yang paling penting dan bakal diulang-ulang melulu tiap hari sama kamu dimana-mana.

Santai, aku ngerti kok, dan terus mendukung dengan berdoa pada Yang Maha Kuasa, bahwa kursi istana itu hanya milikmu seorang wahai calon presidenku.

Saat ini aku belajar memahami dan mengerti kamu, semoga kamu melakukan hal yang sama. Kalau benar adanya, itu baru namanya cinta, oh indahnya, kekuatan tanpa batas antara orang tua dan anak muda.

Seperti kata  Erich Fromm,  seorang psikolog psikoanalis yang berasal dari Jerman, dunia ini semakin rusak karena orang terlalu mencintai dirinya sendiri dan berharap lebih banyak dicintai orang lain. Padahal, hakekat cinta adalah mencintai bukan hanya dicintai.

Mencintai berarti rela berbagi, berkorban dan saling menjaga, Indonesia butuh banyak orang yang mencintai manusia, mencintai negaranya, bukan hanya mencintai dirinya sendiri. Sedangkan, wahai dia yang akan jadi presidenku nanti, cinta itu tidak bisa diukur dari like di Instgram dan banyaknya spanduk di jalanan, tapi ia hadir dari perbuatan dan keberpihakan.

Dari situlah rakyat akan mencintaimu dengan “ada apanya”, karena sejatinya, bangsa ini telah lelah mencintai pemimpin dengan “apa adanya”. Kalau kata Tulus, “tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan”.

Belajar dari Tulus, demi cinta seharusnya kau terbuka,  bahwa banyak anak muda yang kini semakin penuntut, gagah dan berwibawa, yang bisa kau ajak kerja sama membangun bangsa dari Sabang sampai Merauke, oh iya, Timor Leste juga perlu dibantu sebagai negara tetangga  kita.

Karena seperti ajaran Soekarno dan Mahatma Gandhi, nasionalisme kita adalah mencintai kemanusiaan. Berbuat baik kepada sesama manusia sampai kapan pun tak bisa dibatasi oleh suku, agama, ras bahkan teritorial negara. Mudah diucapkan, sulit dilaksanakan.

Dari pada jadi galau ngebahas cinta-cintaan, sekarang aku sebagai anak muda Indonesia, mau curhat wahai dia calon presidenku 2019-2024. Sekiranya ini bisa jadi tuntutan dan tuntunan untukmu kedepan.

Pertama, Aku lihat ada beberapa kebijakan kepemudaan yang saling tumpang tindih dan tarik menarik antar kementerian. Coba nanti kamu dan tim suksesmu itu, luangkan waktu baca-baca lagi semua UU yang berkaitan dengan anak-anak muda, dan bagaimana alur kordinasi lintas kementerian maupun mekanisme konsolidasi dengan unsur swasta dan masyarakat sipil. Apakah sudah ditata dan dikelola dengan rapi? Aku rasa sih, ini pendapat pribadi lho ya, perlu ada langkah pengarusutamaan anak muda segera, mengingat sebentar lagi kita akan menghadapi momentum bonus demografi. Kalau dikaji serius, bisa jadi program kampanye nih! Misalnya, nama programnya Muda Menata atau apalah namanya nanti, intinya program untuk menata dan mengelola kebijakan juga lembaga yang mengurusi segala sisi kehidupan anak muda.

Baca Juga  Pemuda Tanpa Narkoba? Harusnya Bisa!

Kedua, ini bukan zamannnya lagi, senior tidak pernah salah, dan bila senior salah kembali kepasal satu. Zaman sekarang bukan era senior versus junior. Maka dari itu, kolaborasi lintas generasi jadi semakin penting, medikte kami seolah tidak mengerti apa-apa itu baru bahaya laten. Tugas calon presidenku nanti adalah mengajak keterlibatan anak muda dalam setiap perumusan program dan formulasi kebijakan. Tentunya, calon presiden juga harus bisa merubah persepsi para aparat negara  melihat eksistensi anak muda dengan merealisasikan partisipasi anak muda yang inklusif dan aktif di pemerintahan. Bisa jadi kampanye juga!

Ketiga, calon presiden harus memulai  memetakan eksistensi anak muda yang beragam dengan melibatkan organisasi, komunitas dan institusi pendidikan untuk melakukan penelitian terkait subjek anak muda yang beragam berdasarkan geografis, hobi, gender, suku, agama, ras, kelas sosial, tradisi, budaya, tingkat pendidikan dan atribut sosial lainnya sebagai representasi sekaligus penyeimbang kebijakan. Nanti jadiin ini slogan di sosmed!

Keempat, wahai presidenku, urusan anak muda itu bukannya hanya persoalan akhlak, wirausaha, kesehatan dan olah raga. Kalau pandangannya masih seperti ini, kami hanya akan dapat program seminar motivasi setiap bulan tanpa ada dampak signifikan selain kami jadi lebih percaya diri “menasehati” orang lain. Anak muda seharusnya lebih banyak dilibatkan pada isu-isu strategis lainnya seperti reformasi birokrasi, pembangun ekonomi, penguatan representasi politik, revitalisasi demokrasi, penanggulangan kemiskinan, restorasi pendidikan, bonus demografi, pemberantasan virus stunting dan menyambut Indonesia emas 2045.  Asli, kita mau kok dilibatkan disini, serius deh.

Kelima, kayanya calon presidenku nanti perlu melakukan audit terkait efisiensi dan efektifitas program anak muda secara berkala untuk mengevaluasi setiap kebijakan dan program anak muda di tingkat lokal hingga nasional secara berkala. Jangan lupa dipublikasikan sebagai bentuk transparansi.

Keenam, Presidenku harus gaul dan asik, bisa dimulai dengan “meremajakan” strategi komunikasi dengan memproduksi konten informasi yang lebih menarik minat anak-anak muda agar seluruh kebijakan dan program dapat mendorong keterlibatan yang lebih meluas. Jangan cuma jago bikin kampanye keren, tapi ga bisa bikin humas kementerian jadi ikutan keren.

Baca Juga  Enam Cara Mengelola Relawan Masa Depan

Ketujuh, dukung gagasan penguatan representasi politik anak muda di parlemen. Ingat, anak muda itu stakeholder terbesar dalam pilpres 2019. Menurut sejumlah survey, 52 persen pemilih atau 100 juta orang dalam Pemilu 2019 tersebut merupakan kaum muda yang berusia antara 17-35 tahun. Dan pada kenyataanya, peran anak muda di parlemen masih sangat minim, tidak ada yang mewakili aspirasi dan gagasan anak muda secara serius, yang banyak malah orang tua yang selalu mengklaim mengatasnamakan generasi kami. Jadi wahai presidenku, jangan cuma cari suara kami saja, kami butuh Kouta 30 persen di parlemen untuk benar-benar menyuarakan apa yang anak muda inginkan untuk berkontribusi pada bangsa dan negara ini.

Kedelapan, wahai calon presidenku, apakah kenal dengan Sebastian Kurz? Kalau belum kenal, sempatkan waktu kenalan dengan dia. Sebastian Kurz adalah perdana menteri termuda di dunia, saat menduduki kursi kekuasaan dia baru berumur 31 tahun.  Ia berhasil menyedot perhatian warga negara dunia,  dengan gagasan dan sikap politiknya. Anak muda berpolitik tidak hanya Kurz, ada tren global dimana saat ini anak muda memimpin di jajaran eksekutif. Contoh lainnya adalah perempuan brilian bernama Shamma Binti Suhail Faris Al Mazrui yang pada usia 22 tahun sudah dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Urusan Pemuda di Uni Emirat Arab, dan dia memang berhasil memberikan kontribusi positif dengan amanah tersebut. Jadi ini menunjukan, memimpin itu bukan soal pengalaman dan seberapa tua usia, Presiden Soekarno saja sebelumnya kemerdekaan tidak punya pengalaman jadi Presiden, bahkan presiden-presiden selanjutnya, ya sama-sama masih baru.

Tenang kami tidak minta jadi presiden kok, kami cuma menuntut di kabinet berikutnya ada menteri yang muda “beneran” bukan yang termuda dari yang paling tua. Karena ini jadi penting buat kami dan bonus demografi agar semua kebijakan pemerintah pusat mempertimbangkan segala aspek soal keberadaan kami para anak muda.

Ya, kalau belum bisa menteri minimal ada wakil menteri muda sebagai bukti keberpihakan calon presidenku nanti kepada anak muda dan Indonesia emas 2045 yang sejatinya ada di tangan kami, anak muda yang menjadi stakeholder untuk  masa sekarang dan masa mendatang.

Mohon maaf jadi malah panjang lebar, karena jadi bawa perasaan dan galau. Semoga para calon presiden berkenan dengan tulisan yang tiada faedahnya ini. Intinya, siapapun yang mau bekerjasama memperjuangkan aspirasi, kebutuhan, kepentingan dan gagasan anak muda. Dia Adalah Presidenku tahun 2019-2024.

Wildanshah adalah Komisaris Warga Muda dan #pemburubuku di Instagram. Wildan dapat dihubungi lewat akun Instagramnya, @wildan.shah

 

*Tulisan ini telah dipublikasikan Asumsi.co dengan judul “Dia Adalah Presidenku tahun 2019-2024”


Bagikan