5   +   9   =  
Bagikan

Kali ini saya menulis ada rasa sedikit ketakutan. Bisa saja dinilai keluar untuk menyongsong dunia dalam kerangka keimanan.

Adapun, tujuan yang sebenarnya adalah ingin mencerahkan bagaimana orang-orang diluar sana bisa memahami dan menghapus stereotip identitas visual pada perempuan yang mengerikan.

Dalam sejarah dari zaman manusia baru pertama kali hidup di dunia sampai zaman Yunani kuno, perempuan memang telah ditempatkan pada posisi sekunder, selalu nomer dua, di bawah subordinat laki-laki.

“Perempuan memang telah ditempatkan pada posisi sekunder, selalu nomer dua, di bawah subordinat laki-laki.”

Sekalipun di era yang telah mengalami perkembangan dan perubahan, tapi tetap saja tidak berubah. Nasib perempuan tetap sama, menerima beban ganda dengan hak yang tak sama.

Bahkan fakta menunjukan bahwa selama zaman perang,perempuan dan anak-anak memperoleh perlakuan yang mengerikan sekali, seperti penyiksaan, pemerkosaan, dan perbudakan.

Dalam hal ini, saya ingin sekali mengembalikan stereotipe bahwa perempuan memang menjadi mahluk yang lemah lembut dan berperasaan. akan tetapi, perempuan bukan hanya sebatas objek bagi kepentingan pasar dan laki-laki.

Bahkan sekalipun perkembanganya, ekonomi politik internasional menjadi fokus perhatian, analisis ini sering kali mengambil bentuk analisis hubungan antar negara dan pasar, struktur dominasi dan eksploitasi.

kenapa saya bisa bilang kepentingan pasar? Kita ambil saja contoh perusahaan rokok, saat ini mereka membuat kemasan rokok yang feminim, ini bisa diartikan bahwa perempuan saat ini telah menjadi target pasar.

Memang dalam hukum tidak ada larangan perempuan untuk haram merokok, akan tetapi bagaimana jika perempuan binasa akan kebiasaan merokok seperti laki-laki? Ini sangat mengganggu pertumbuhan generasi yang sehat.

Perempuan bisa berkuasa

Intervensi awal feminis sudah banyak di berbagi bidang, salah satunya dalam disiplin hubungan internasional ditandai oleh pertanyaan Cynthia enloe: dimana kaum perempuan?, pertanyaan ini bisa mempunyai beberapa jenis jawaban.

Baca Juga  12  Wabah Paling Mencekam Dalam Sejarah Dunia Selain Corona, Kenapa Milenial dan Gen Z Harus Tahu?

Orang bisa saja menjawab pempimpin perempuan yang tidak ragu menggunakan kekuasaannya dalam menyelesaikan konflik-konflik internasional seperti Margaret thacher, atau Golda Meir misalnya.

Bisa juga perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan adalah bahwa kaum perempuan jarang mempunyai kesempatan untuk berkuasa. namun yang mereka khawatirkan adalah,  jika perempuan mempunyai kekuasaan mereka akan berprilaku menjadi kaum laki-laki.

Kendati sangat pelan dan isu feminisme bisa masuk dalam ranah hubungan internasional, yang merupakan salah satu yang paling maskulin dari ilmu sosial.

“Gender jarang dipertimbangkan sebagai sebuah keperluan yang penting untuk kepentingan analisis.”

Dalam konteks ini hubungan gender jarang dipertimbangkan sebagai sebuah keperluan yang penting untuk kepentingan analisis.

Perempuan Gen Z menghadapi globalisasi

Dan yang menjadi pertanyaan simpulan bagi kaum Gen Z adalah, bagaimana kesetaraan gender di era globalisasi?

Istilah globalisasi sering digunakan untuk menggambarkan fenomena dunia kontemporer. Ciri utama globalisasi adalah peningkatan kesalinghubungan antar masyarakat. Sehingga peristiwa dalam skala kecil bisa memberikan pengaruh yang besar terhadap bangsa di pelosok-pelosok negara.

Dalam mendiskusikan bagaimana kesetaraan gender di era globalisasi, harus lebih dulu disimak paradigma gender yang ditawarkan oleh beberapa ahli, misalnya, Peterson dan Runyan (1993) berpendapat bahwa dibandingkan denga laki-laki, perempuan adalah kelompok yang tidak diinginkan dunia. Kaum feminis beragumen bahwa perang dan perdamaian, konflik dan kerja sama adala aktivitas gender.

Selajutnya, prespektif feminis menyatakan timbulnya perang karena hubungan yang tercipta antar-aktor dilihat pada tataran yang maskulin. Pandangan yang maskulin membuat hubungan antar-aktor bersifat kompetisi dan mengukur segala sesuatu dengan kekuasaan.

Globalisasi merupakan proses yang tidak dapat dihindar, namun harus dihadapi. Perempuan sebagai makhluk yang merdeka dan bebas juga tidak bisa menghindari efek globalisasi ini.

“Perempuan berhak memilih, menjalani, dan menikmati hidup selayaknya, dan menjadi makhluk yang bebas, setara, sejahtera dan merdeka.”

Perempuan Gen Z harus terus maju dan berjuang mempertahankan hak-hak untuk bisa bertahan dan tidak ditindas oleh gelombang globalisasi. Perempuan berhak memilih, menjalani, dan menikmati hidup selayaknya, dan menjadi makhluk yang bebas, setara, sejahtera dan merdeka.

Baca Juga  Saatnya Anak Muda Berpolitik Praktis

Bagikan