10   +   9   =  
Bagikan

Transisi Kehidupan Anak Muda di Indonesia – Warga Muda

Setiap anak muda tentunya akan melewati masa transisi dengan caran dan rencananya masing-masing, walaupun fase ini  selalu tidak menawarkan kepastian apapun  kepada mereka. Setidaknya, pada zaman ini, anak muda lebih mememerlukan waktu yang lebih lama untuk masuk ke masa dewasa.

 

Pondasi masa lalu memang sedikit berbeda. Jika di generasi baby boomers atau generasi x,  saat muda, ketika mereka bersekolah pun sudah ada yang meninggalkan rumah bahkan banyak merantau ke ibu kota untuk bekerja, dan tidak sedikit memutuskan untuk membangun rumah tangga di usia belia.

 

Ini menunjukan bahwa fase transisi kehidupan anak muda sebenarnya memang tidak pernah teratur. Jadi apa yang disampaikan teori-teori transisi kehidupan tentang fase anak muda meninggalkan rumah orang tua, memasuki dunia kerja dan membentuk  keluarga sendiri, sebenarnya mustahil untuk di generalisasi.

 

Di Indonesia masih banyak rumah yang diisi lebih dari tiga keluarga bahkan tiga generasi.  Banyak anak muda, yang telah bekerja tetap nyaman tinggal bersama orangtua mereka, sekalipun mereka telah menikah, rumah mertua masih sangat indah untuk ditinggali di tengah pembangunan ekonomi yang tak pasti.

 

Hal ini terjadi disebabkan, karena antara satu tahap ke tahap  kehidupan lainnya, anak muda dapat dipastikan akan mengalami berbagai gangguan, hambatan, atau lompatan dalam fase kehidupan mereka.

 

Standarisasi tahapan transisi adalah proses yang sangat berat, bahkan untuk penyelenggara pemerintah sekalipun. Apalagi di tengah tren dimana generasi milenial dan generasi z tidak terlihat terburu-buru untuk “menjadi” dewasa.

 

Saya ambil contoh sederhana saja. Misalnya, jika dahulu membaca komik atau menonton film superhero selesai pada usia memasukin 19 tahun. Kini kedua hobby tersebut bahkan bisa lestari hingga kita berusia 45 tahun, bahkan lebih. Ini juga disebabkan oleh industri “mainan & hiburan” yang menargetkan usia yang lebih dewasa sebagai konsumen utamanya.

Baca Juga  Kesehatan Mental Gen Z dalam Keadaan Darurat, Rentan dan Menakutkan!

 

Pergerakan industri hiburan tersebut membuat seorang kepala rumah tangga masa kini sudah tidak merasa malu lagi untuk bermain apapun yang mereka sukai.  Sangat berbanding terbalik, dengan orangtua masa lalu yang dipaksa untuk lebih “dewasa” dalam menikmati hobby.

 

Secara umum, fenomena ini menggambarkan bahwa transisi itu masih sangat terkait dengan konstruksi sosial dan ekonomi yang menyertainya. Artinya, menjadi anak muda bukanlah sesuatu yang bersifat objektif,  natural, statis dan terjadi begitu saja, tapi juga bermuatan kultural dinamis dan subjektif.

 

Karena pada intinya anak muda akan menentukan pilihannya dan berdialektika dengan lingkungannya untuk memutuskan peran seperti apa yang akan ia ambilnya di tengah masyarakat.

 

Di sinilah peran negara untuk menjadi konektor masa lalu, masa kini dan masa depan anak muda. Harapannya, anak-anak muda ini dapat menjalani hidup mereka dalam iklim sosial yang terbuka, dimana anak muda dapat memilih masa depannya sendiri dengan caranya sendiri.


Bagikan