4   +   1   =  
Bagikan

Sekarang  kita hidup di era semua orang dapat terhubung dengan cepat. Teknologi berperan penting dalam mempertemukan berbagai ide, keresahan dan pengalaman anak muda di seluruh dunia.

Platform digital secara cerdas mampu mengatur ketidakteraturan dengan sempurna menggunakan algoritma. Kemampuannya mengoordinasikan ketertarikan setiap orang secara “alamiah” membuat  anak muda berkomunitas tanpa  perlu ijin mereka.

Internalisasi nilai-nilai bukan lagi monopoli lembaga-lembaga sosial tradisional. Sekarang, sejak ada sosial media, secara aktif anak muda menyerap nilai dan norma sosial yang bertaburan di “gengaman” mereka hampir setiap detik.

Media sosial membawa semangat baru di generasi muda. Konstruksi sosial terhadap anak muda sedikit banyak bergeser, jika kita ragu untuk menyebutnya berubah total.  Bila pada masa lalu, usia muda dianggap sebagai masa persiapan untuk bekerja (belajar), usia dewasa sebagai masa bekerja, dan usia tua sebagai masa pensiun (Kohli, 1994).

Sekarang, konstruksi sosial cukup berbeda, pondasi konseptualnya sudah semakin cair. Karena yang sering terjadi tidak sesederhana itu. Konstruksi belajar, bekerja dan pensiun bukanlah sebuah tahap “pasti” menuju masa depan.

Kita harus jujur, tidak semua anak muda melalui peta jalan semacam ini. Ada anak muda yang bekerja lebih dahulu baru belajar, ada juga yang bahkan tidak melalui tahap belajar sama sekali namun mereka dapat pensiun dengan bahagia.

Hal ini perlu saya jelaskan, agar kita dapat lebih jernih melihat persoalan dan kebutuhan anak muda di Indonesia. Dengan mengakui banyak peta jalan hidup tersebut, kita akan lebih adil dalam menafsirkan realitas anak muda karena peduli dengan beragam identitas, gaya hidup, lingkungan dan tuntutan  masyarakat yang melekat di masing-masing kelompok anak muda.

Baca Juga  Politisasi SARA Basi!

Dari keberagaman itu, saya menilai bahwa dimensi perencanaan adalah sesuatu yang dapat diterima semua kategori anak muda, tanpa harus memilih jalan tunggal menuju masa pensiun.

Sebagaimana  Berger dan Luckman, dalam The Social Construction of Reality (1966), menyatakan pembentukan identitas dalam arti modern dijamin oleh kepatuhan terhadap logika rencana. Maksudnya, rencana kehidupan dalam zaman modern  yang penuh “ketidakpastian” akan sangat menentukan pembentukan identitas individu yang bersangkutan.

Di Indonesia, sejak munculnya wabah Covid-19, anak muda mengalami kekalutan luar biasa, ketidakstabilan politik dan ekonomi menimbulkan kegelisahan massal. Semua ingin selamat, tanpa mengambil sebuah perencanaan,  anak muda dipastikan akan mengalami krisis masa depan dikehidupannya sendiri.

Krisis memaksa masyarakat  untuk berpikir bahwa hidup tidak hanya untuk hari ini dan saya sangat yakin bahwa wabah pula yang akan berkontribusi membentuk identitas anak muda Indonesia pada masa depan nanti.


Bagikan