5   +   3   =  
Bagikan

Remaja Indonesia dan Pergolakan Dunia- Warga Muda

Masa remaja adalah masa penuh pergolakan. Menginjak masa remaja, manusia akan dihadapi oleh berbagai pilihan yang akan mempengaruhi hidupnya.

Remaja merupakan waktu transisi dimana kita sebagai individu, harus menghadapi tantangan biologis dan emosional dalam menentukan pilihan-pilihan penting  yang akan  mempengaruhi masa depan dan hari tua.

Di saat bersamaan, kita juga perlu mengakui bahwa masa remaja merupakan periode yang paling beresiko dan sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan yang negatif.

Resiko dan ancaman yang menyertai masa remaja untuk menjadi dewasa lebih kompleks jika dibandingkan masa lalu.

Globalisasi dan kemajuan teknologi kini hadir di tangan remaja. Berkat hal tersebut, Gaya hidup dan tren dunia makin mudah diadopsi dan dikonsumsi oleh remaja di Indonesia.

Melimpahnya aneka budaya pop dunia membuat selera dan gaya hidup remaja di Indonesia semakin beragam. Tidak jarang nilai-nilai atau budaya pop yang menumpangi globalisasi membawa ide-ide baru yang bertolak belakang dengan norma juga tradisi masyarakat kita.

Coba lihat sejenak, remaja Indonesia kini terbiasa dengan Koreanisasi, Japanisasi, Westernisasi, Arabisasi dan lainnya. Terlepas dari perdebatan baik-buruknya budaya asing yang mewarnai Indonesia sekarang. Globalisasi dan akulturasi telah berhasil membentuk perilaku sekaligus orientasi seksual remaja secara hegemonik.

Perubahan fisik maupun psikologi pada masa transisi di tengah akulturasi budaya global yang menawaran “kebebasan seksual”  menyebabkan remaja semakin mudah terjerumus perilaku yang berisiko, termasuk resiko yang mengancam kesehatan reproduksi dan mental mereka.

Negara, swasta dan masyaraka sipil sebaiknya mulai berinvestasi pada kesehatan reproduksi dan mental remaja untuk menyelamatkan generasi  ini dari fetisisme seksual yang menyimpang, imajinasi seks yang berbahaya, kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual, aborsi, kemiskinan bahkan kematian.

Baca Juga  Anak Politik!

Dengan demikian, kita harus sadari bersama investasi kesehatan reproduksi dan mental untuk remaja menjadi garansi bagi terwujudnya “SDM unggul, Indonesia Maju”, dan menghindari diri kita dari nasib buruk “SDM Hancur, Indonesia Mundur”.

Saya juga percaya, bahwa remaja akan dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan menimbang lagi baik-buruknya budaya yang dibawa oleh globalisasi.

Remaja akan mencari identitas dirinya, orientasi seksualnya, peran gendernya dan idealnya negara hadir untuk membantu mereka  mencapai masa depan yang gemilang, dengan memberikan pelayanan yang optimal dan inklusif.

Di tambah lagi, perlu menjadi perhatian bersama oleh para stakeholder  bahwa akulturasi budaya global akan cenderung menyebabkan remaja Indonesia mengeksplorasi dan bereksperimen dengan beragam tren budaya pop dan tekanan dari persaingan “pamer” gaya hidup di media sosial. Hal ini yang membuat remaja rentan terjerat dengan lingkungan negatif dan destruktif.

Kita harus terbuka, jika dibandingkan 40 tahun yang lalu, remaja hari ini bisa dikatakan memasukin masa remaja yang benar-benar berbeda.

Remaja masa kini lebih lama bersekolah, lebih lama untuk bersenang-senang, menikmati masa berkarir , menghindari pernikahan dini, berpartisipasi aktif secara seksual bahkan menolak memiliki banyak anak.

Namun, lucunya, peran gender tradisional tidak begitu banyak berubah, sterotipe laki-laki harus bertanggung jawab sebagai pencari nafkah dan perempuan mengurus rumah tangga masih begitu melekat di masyarakat di wilayah sub urban dan rural.

Hal ini dapat terjadi karena, remaja di Indonesia hidup dalam situasi yang anomali. Pertama, nilai, norma dan budaya bangsa tidak begitu mengakar di kalangan remaja.

Kedua, sementara itu keluarga dengan gigih menanamkan nilai-nilai agama  secara dogmatis pada anaknya yang remaja.

Ketiga, nilai-nilai dari budaya popular global membajir media sosial remaja dengan konten seksual yang eksplisit.

Baca Juga  Bukan Valentine, Ini Penyebab Anak Muda Tidak Bisa Berinovasi, Mungkin Kamu adalah Korbannya?

Akibatnya, remaja tidak memiliki karakter kebangsaan, spritualitas yang ambigu dan dorongan seksual yang semakin berani diekspresikan.

Maka menjadi sangat strategis bagi kita: pemerintah swasta dan masyarakat untuk berkolaborasi melakukan pembangunan remaja dalam menyiapkan diri untuk menghadapi masa sekarang dan mempersiapkan kehidupan mereka di masa mendatang.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi semua pihak baik dari pemerintah, swasta masyaraka sipil dan organisasi kepemudaan untuk berkontribusi mempersiapkan potensi remaja agar menjadi anggota masyarakat yang tangguh dan tangkas menghadapi tantangan dan pergolakan dunia yang semakin cepat berubah.


Bagikan