2   +   4   =  
Bagikan

Rasa Bosan Dorong Remaja Cari Pornografi di Masa Pandemi – Warga Muda

Pandemi COVID-19 menyebar keseluruh dunia dengan sangat cepat dan membahayakan. Pandemi berdampak pada negara, keluarga bahkan perilaku remaja. Remaja tertekan secara fisik dan emosional karena situasi sosial yang tak menentu.

Selama pandemi, remaja merasa bosan, mereka semakin aktif bermedia sosial, berselancar di dunia maya, untuk membunuh rasa bosan. Secara sengaja atau tidak sengaja, remaja menemukan informasi yang seharusnya tidak mereka temukan: pornografi.

Konten pornografi di dunia maya meningkat pesat, terakses melalui gawai mereka tanpa pantauan orangtua. Pornografi online masih menjadi fenomena yang belum dipahami sepenuhnya oleh orangtua masa kini.

Orang tua yang kini sedang memiliki remaja, merasa dimudahkan dengan adanya teknologi digenggaman anak-anaknya, tanpa pernah berusaha untuk mengetahui hal-hal buruk yang bersembunyi dibaliknya.

Pornografi sekarang sangat berbeda dengan pornografi pada 25 tahun yang lalu. Saat ini, pornografi sangat mudah diakses kapanpun,  dimanapun, dan gratis untuk siapapun.

Remaja semakin aktif di dalamnya, mereka semakin berani mengonsumsi konten-konten pornografi, karena mereka tidak perlu membongkar identitasnya di dunia digital, remaja merasa merdeka tanpa merasa diawasi.

Melalui gawai, remaja semakin terbiasa untuk mencari informasi yang tidak tersedia di media tradisional seperti radio dan televisi. Jika dulu, orangtua mampu memantau televisi, sekarang sulit bagi orangtua untuk mengawasi anak remaja mereka secara daring.

Bahkan sebelum terjadinya pandemi,pada tahun 2016, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dengan Katapedia, memaparkan bahwa 63.66 persen anak usia  9 hingga 19 tahun telah terpapar pornografi melalui Google, media online dan berbagai media sosial atau situs lainnya.

Pandemi bonus pornografi

Di tengah sekolah diselenggarakan secara online  karena pandemi. Remaja lebih sering beraktivitas di kamarnya sendiri. Remaja tidak diawasi oleh guru, komunitas dan keluarganya. Mereka terpapar  konten pornografi di lini masa mereka secara implisit maupun eksplisit

Secara implisit konten pornografi hadir melalui media sosial seperti Tiktok, Twitter, Instagram, Bigo Live hingga Youtube. Konten yang dimaksud disini, masih tidak sepenuhnya vulgar, hanya “menjurus” bernuasa seksual. Media sosial pada dasarnya mempermudah setiap orang untuk berbagi informasi, bahkan informasi yang “senonoh”.

Misalnya, banyak ditemukan konten “Ngajak Wik Wik”,  “PAP TT”, “Fakboi”, “Fakgirl”, “bagi link”, “enak yang gede apa yang kecil”, “kapan terakhir coli? “,“imajinasi seks terliar lo?”, “Hentai” dan berbagai  konten vulgar yang produksi oleh banyak akun inluencer di media sosial masing-masing.

Mungkin banyak yang bertanya, bukannya konten pornografi sudah diblokir pemerintah? Nyatanya tidak semudah itu. Remaja sekarang lebih cerdas, mereka cukup mengunduh aplikasi VPN (Virtual Private Network), semua saluran yang diblokir pemerintah dengan mudah diakses tanpa hambatan berarti.

Singkatnya, dengan pengetahuan sederhana  saja tentang digital, semua konten “menyimpang” ini masih sangat gampang dicari pada mesin pencarian oleh para remaja.

Di kalangan remaja masa kini. Seks semakin jadi perbicangan yang dapat dibuka di publik. Konten “seks” ada dimana-mana, bisa dibahas secara parodi satir, lucu hingga sangat serius.  Ini menunjukan bahwa sekarang obralan tentang “seks” sudah tidak menjadi hal yang tabu bagi remaja di Indonesia.

Pada sisi yang lebih eksplisit, Situs web pornografi terbesar di dunia, Pornhub, telah melaporkan peningkatan lalu lintas  kunjungan di websitenya yang  mengalami peningkatan 18% dari jumlah normal setelah membuat konten premiumnya gratis selama 30 hari bagi orang-orang yang setuju untuk tinggal di rumah.

Di banyak wilayah, lonjakan penggunaan ini terjadi setelah anjuran jaga jarak sosial diterapkan. Bahkan, sebelum pandemi, menurut Similar Web, Indonesia juga termasuk negara pengakses situs porno tersering dengan durasi terlama di dunia.

Ada pertanyaan besar, kenapa jumlah penonton pornografi melonjak selama pandemi? Menurut Asisten Profesor Psikologi  Universitas Bowling Green State, Joshua B. Grubbs, dalam artikelnya “Porn use is up, thanks to the pandemic”, Semakin bosan seseorang, semakin besar kemungkinan mereka ingin melihat pornografi. Maka tidak aneh, jika remaja melakukan hal yang sama saat pandemi seperti sekarang ini, dampak buruknya mungkin saja membuat mereka kecanduan pornografi.

Dilihat dari sisi apapun, tidak ada manfaat positif pornografi online bagi remaja. Pornografi seperti obat-obatan adiktifi, ia merangsang pusat kesenangan di otak secara berlebihan.

Seperti narkoba, pornografi membuat kecanduan dan sangat merusak masa depan para remaja. Ancaman pornografi itu nyata, sayangnya para orangtua yang memiliki remaja belum memiliki cara ampuh untuk menghadapinya.


Bagikan