4   +   8   =  
Bagikan

Pemuda Menjaga Pilkada di Tengah Pandemi Corona – Warga Muda

Berbicara tentang Pilkada saat ini, kebanyakan dari kita akan beranggapan tentang pertarungan yang berujung kalah atau menang. Bahkan, beberapa pihak menganggap Pilkada sebagai mesin perputaran uang cukup besar. Hal tersebut tercermin dari awal penyelenggaraan hingga saat ini, masyarakat melihat dinamika tersebut secara berulang-ulang.

Pilkada adalah cerminan demokrasi di setiap daerah dan pilkada sebagai wajah kondisi masyarakat suatu daerah. Sayangnya, Pilkada saat ini seperti kehilangan marwah politiknya. Ada beberapa hal yang mengakibatkan hal tersebut. Tahun 2020 ini, Pilkada mengalami dampak yang besar akibat penyebaran pandemi virus corona, sehingga terjadi perubahan tahapan serta perubahan pencoblosan.

Ditundanya Pilkada adalah langkah yang baik dan tepat. Mengapa? karena secara tidak langsung keputusan ini sedang menjaga marwah atau kehormatan dari Pilkada itu sendiri sebagai pesta demokrasi bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat daerah.

Dalam kondisi seperti ini, kita sedang menghadapi kondisi yang luar biasa atau extraordinary situation, yang membuat kita semua harus fokus pada penyelesaian masalah kesehatan. Pilkada seharusnya diterapkan dengan semangat jiwa partisipatif dan representatif anak muda di segenap daerah Indonesia.

Selain itu, kegiatan peninjauan, sosialisasi, kampanye dan lain sebagainya juga akan terganggu dengan masih diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti ini. Mengundur Pilkada bukan berarti menghambat demokrasi Indonesia, namun menjaga kehormatan atau marwah dari Pilkada dan demokrasi kita.

Pilkada adalah tahapan pelaksanaan demokrasi yang dibangun sesuai dengan norma dan etika sesuai kebiasaan Indonesia. Keberhasilan penyelenggaraan Pilkada adalah urgensi pendidikan politik yang menjadi kunci. Pemuda disatu sisi menjadi pondasi dalam pelaksanaan Pilkada, maju atau mundurnya daerah dalam penyelenggaraan pilkada terletak pada kaum pemuda.

Baca Juga  Ngabuburit Virtual dan Nasib Bukber Kita

Pemuda merupakan sosok abadi yang akan diperbincangkan dan tidak akan lekang oleh generasi. Partisipasi pemuda sangat diperlukan dalam konstetasi pesta demokrasi di daerah. Pemuda sangat dibutuhkan oleh daerah karena memiliki peran yang vital dalam perkembangan politik. Pemuda bisa memiliki kontribusi yang nyata dalam penyelenggaraan Pilkada serentak tahun 2020.

Berdasarkan hasil Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, perkiraan jumlah pemuda sebesar 64,19 juta jiwa atau seperempat dari total penduduk Indonesia. Jangan sampai pemuda sebagai individu yang dinamis, progresif serta kritis di era sekarang terninabobokan oleh kenyamanan yang ada. Pemuda merupakan aspek yang menentukan perubahan.

Peranan pemuda harus dapat diharapkan dalam memperbaiki sistem pemilu, karena pemuda sebagai tonggak perubahan yang memiliki kontribusi dalam kebaikan Pilkada di daerah. Pemuda juga harus menjadi garda terdepan dalam menangkal radikalisme, black campaign, bahkan politik uang.

Pilkada dan pemuda harus menjadi satu kesatuan yang dapat menciptakan terobosan dalam proses politik di daerah. Pendidikan politik yang mumpuni dalam diri pemuda harus bisa disebarluaskan kepada masyarakat luas di daerah. Pemuda harus dapat menancapkan stigma kepada masyarakat bahwa Pilkada harus dilakukan secara sehat dan tanpa negative politik.

Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk opini kepada masyarakat dalam mewujudkan Pilkada yang sehat. Pemuda dapat berkontribusi menciptakan budaya politik sehat dengan bersinergi kepada masyarakat. Demi menciptakan pesta demokrasi di daerah yang adil dan sehat, maka pemuda harus menjadi agen perubahan dalam penyelenggaraan Pilkada. Sehingga, tingkat anak muda apatis yang menjadi pemilih dalam Pilkada bisa berkurang.

Pemuda yang merupakan bagian dari komponen bangsa tidak terlepas dari politik, pemuda bisa dikatakan sebagai zoon politicon. Pilkada sebagai sistem politik memiliki ruang yang luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Pemuda merupakan kelompok yang memiliki posisi yang kuat, berdiri sendiri, dan merdeka, sehingga harus bisa memiliki peran tersendiri.

Baca Juga  Refleksi 1 tahun Pemilu 2019: Haruskah Pemilu Serentak Dilanjutkan?

Mereka harus bangkit dengan tidak lagi menjadi penonton dan menerima hasil dengan begitu saja. Ruang yang luas dalam Pilkada harus bisa dimanfaatkan oleh pemuda dalam ikut serta proses demokrasi di daerah. Semangat untuk semua pemuda daerah di seluruh penjuru Indonesia!


Bagikan