10   +   9   =  
Bagikan

Ngabuburit Virtual ide bagus, bukber udah ga mungkin.

Kita sudah memasuki bulan puasa ramadan. Pada tahun lalu, sebelum terjadinya wabah COVID-19, undangan bukber (buka bersama) langsung menumpuk di group-group WhatsApp. Mulai dari ajakan teman SD, SMP, SMA, sampai anak tongkrongan waktu kuliah. Tidak cuma itu. Ajakan dari teman-teman kantor lama, sampai jaringan komunitas pasti ada aja yang ngadain acara semacam ini.

Katanya, bukber untuk silahturahmi, biar nambah rezeki, ya hitung-hitung reuni atau pelepas penat yang murah-meriah. Bukber telah jadi tradisi. Wajar sih, dari dulu orang Indonesia sukanya berkumpul. Banyak modus dan motif agar bisa bertemu: tatap muka, bercanda sekaligus bernostalgia. Kalau kata Slankers, “makan ga makan asal kumpul”, mau tua atau muda hobinya sama: gosip dan menertawakan nasib.

Saya merasakan sendiri asiknya bukber. Saat menunggu berbuka puasa, kita dapat berbincang santai bahkan cenderung satir soal masa lalu, masa kini dan masa depan. Bukber adalah ajang saling berbagi motivasi dan inspirasi. Hal ini terjadi begitu saja di meja makan, tanpa perlu rencana apalagi agenda acara. Suasana sopan-santuy semacam itu dapat memicu imajinasi kita sebagai bekal menjalani hidup yang maha asyik.

Bukber adalah hak segala bangsa

Menariknya bukber bukan hanya berlaku eksklusif umat muslim, tapi agenda anak semua bangsa dengan segala keberagamannya.

Saya pernah ikut acara bukber tahun lalu yang sedikit rada konyol, kalau dilihat dari sisi standar moral masyarakat. Karena dari sepuluh orang yang datang, hanya tiga yang benar-benar berpuasa. Tiga orang ini pun malah punya latar belakang yang cukup ajaib.

Orang pertama adalah seorang penganut agnostik, ia ikut berpuasa untuk menghormati teman-temannya. Orang kedua merupakan seorang gay, katanya “buat ngurang-ngurangin dosa”. Orang ketiga sebenarnya biasa-biasa aja, karena sehari-harinya sholat kalau hari jumat aja

Baca Juga  12  Wabah Paling Mencekam Dalam Sejarah Dunia Selain Corona, Kenapa Milenial dan Gen Z Harus Tahu?

Tujuh lainnya: dua beragama Hindu dan Katolik. Satu orang lupa sahur. Satunya sedang “datang bulan”. Tiga batal di tengah jalan karena kerjaan, termasuk saya. Satu orang lagi beralasan ga keburu “mandi wajib”. Kocak, tapi mau gimana lagi, mereka tetap teman terbaik saya.

Toh, walau yang puasa hanya tiga orang, acara bukber tetap berjalan menyenangkan. Di sini saya petik pelajaran hidup bahwa bukber adalah cermin kebersamaan sesama umat manusia. Karena apapun latar belakang atribut sosial dan kelakuan kita, bukber adalah panggilan terbaik bagi setiap anak bangsa untuk berkumpul bersama tanpa syarat dan peringkat. Dan di meja makanlah bhinneka tunggal ika saya rasakan hadir secara nyata tanpa prasangka.

Ngabuburit Virtual patut dicoba, Lupakan Bukber

Suka tidak suka, karena COVID-19 memaksakan diri kita untuk menyelenggarakan bukber adalah tindakan ga ada akhlak buat saat ini. Kita punya cara lain untuk tetap berkumpul dan merayakan ramadan dengan sempurna. Caranya dengan mencoba ngabuburit virtual.

Ngabuburit virtual bisa jadi sarana silahturami yang luar biasa dengan bantuan teknologi. Berbasis videocall kita dapat bertemu dengan siapa pun dan darimana saja di seluruh dunia.

Ini momen “romantis” untuk menyapa lagi sahabat-sahabat lama yang mungkin sudah tinggal jauh dari kita. Atau orang-orang yang tidak pernah bisa hadir dibukber tahun lalu karena berbagai kendala.

Saya yakinkan kalian, sekarang merupakan momentum yang paling tepat untuk berbincang dengan mereka yang tak pernah hadir di acara bukber di tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana kata Ariana Grande, “Hal terbaik tentang memiliki sahabat adalah anda bisa tidak bertemu setelah berbulan-bulan, namun mereka tetap hadir untuk Anda”.

 

*tulisan ini telah dipublikasikan kembalikeakar.com.


Bagikan