7   +   9   =  
Bagikan

New Normal lagi marak jadi bahan pembicaraan saat ini. Dan, sore tadi tiba-tiba saya teringat akan satu hal. Bagaimana tragedi World Trade Centre (WTC) mengubah banyak sistem keamanan di dunia. Pasca tragedi WTC atau yang dikenal 9/11, orang-orang menjadi semakin takut dengan kata teroris. Kondisi ini membuat banyak negara, khususnya Amerika Serikat untuk memperketat kembali prosedur keamanan negara mereka.

Setiap kali mau masuk ke gedung, harus kasih kartu identitas, tas harus di scan. Bahkan, setiap gerak-gerik kita dapat diamati melalui pengawasan kamera cctv detik demi detik. Mungkin awalnya akan terdengar begitu rumit. Kita dipaksa untuk mengikuti berbagai protokol yang melelahkan demi keamanan bersama.

Namun, lihat bagaimana kita sekarang? Tanpa disadari, kita sudah menganggap semua itu menjadi hal yang lumrah. Pengecekan barang menjadi hal yang normal, keluar rumah selalu membawa kartu identitas, dan lain sebagainya.

Kondisi ini tidak berbeda dengan pandemi COVID-19. Isu kesehatan global ini seakan memaksa kita semua untuk terbiasa dengan ‘cara baru’ dalam beraktivitas. Cara baru ini dikenal dengan istilah “The New Normal”. The New Normal akan membuat kita terbiasa untuk belajar dan bekerja secara daring. Bahkan, beribadah pun secara daring. Misalnya, mendengarkan kajian dari ustadz atau ibadah gereja online. Intinya, semua serba online.

Terlebih lagi, imbauan untuk belajar, bekerja dan beribadah dari rumah sepertinya masih belum menemukan ujung waktunya. Menurut Gideon Lichfield dalam artikelnya berjudul “We’re not going back to normal” berpendapat bahwa untuk menghentikan pandemi COVID-19, kita perlu bersikap lebih radikal.

Sikap radikal yang Lichfield maksud adalah dengan mengubah hampir segala cara yang kita lakukan dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari cara bekerja, belajar, berbelanja, bersosialisasi, mendidik anak-anak, merawat anggota keluarga, hingga menjaga kesehatan diri dan orang-orang di sekitar.

Dalam artikelnya, Lichfield juga memprediksi tentang adanya kebiasaan baru atau The New Normal yang mungkin mengancam beberapa sektor bisnis, terutama bisnis yang mengundang banyak keramaian orang. Misalnya, usaha restoran, hotel, tempat wisata, gym, pasar, dan lain sebagainya. Sebagaimana penerapan keamanan pasca 9/11, semuanya akan terasa rumit di awal.

Baca Juga  Cerita Cinta Remaja di Era Teknoseks

Meskipun demikian, Lichfield meyakini bahwa secara berangsur kita akan terbiasa dengan hal ini. Beberapa sektor bisnis mungkin akan menerapkan cara baru dengan julukan “ekonomi tertutup” atau shut-in economy. Maknanya, pebisnis tetap akan menjalankan usahanya tanpa harus membuat orang banyak berkumpul. Contohnya, jika kamu punya usaha gym, maka kamu bisa membuat tutorial berolahraga di rumah melalui kursus daring atau menjual alat-alat fitnes.

Sayangnya, kondisi ini kurang cocok untuk diterapkan di Indonesia. Ada banyak sektor bisnis, terutama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bisa terancam dengan cara baru ini. Oke, sekarang kita sampingkan dulu tentang kegiatan ekonomi, ya. Yang pasti dari The New Normal ini, kamu akan mendapati diri kamu terbiasa dengan hal-hal baru. Mungkin sebelumnya itu terdengar aneh atau tidak biasa, namun lambat laun kamu akan terbiasa menjalankannya.

Dalam hal ini, saya memprediksi beberapa aktivitas yang akan menjadi The New Normal bagi kita, khususnya pemuda-pemudi Indonesia. Yuk, langsung aja simak di bawah ini:

1. Belajar dan Bekerja secara Online akan Menjadi Kegemaran Baru

Sebelum pandemi COVID-19 datang, sebagian orang mungkin akan meremehkan orang-orang yang bekerja dari rumah atau kerja online. Mereka yang mencari penghasilan dari rumah melalui media online dianggap tidak memiliki penghasilan yang jelas, introvert, kurang gaul, dan lain sebagainya.

Hal ini pernah saya alami sendiri, lho! Setahun yang lalu saya sempat bekerja freelance dari rumah selama tiga bulan. Dan yang terjadi, bukan hanya tetangga saya yang nyinyir. Namun, ibu saya juga kerap mempertanyakan “sebenarnya, itu kamu beneran kerja?” Well, coba kita lihat fenomena yang terjadi sekarang.

Bekerja secara online di rumah seakan menjadi hal yang sangat menguntungkan, privilege gitu! Bahkan setiap meeting online, banyak orang yang memamerkan screenshoot foto rapat daring mereka di media sosial. Bisa Work From Home dari rumah seakan mendapatkan rejeki durian runtuh.

Ups! Bukan hanya bekerja, tapi belajar pun sekarang serba online. Semenjak Presiden Jokowi mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Ada berbagai e-learning startups yang membuka kelas online gratis. Mulai dari kelas untuk keterampilan memasak, menulis, hingga kelas olahraga online secara langsung dengan instruktur senam yang handal.

Baca Juga  Pemuda Tanpa Narkoba? Harusnya Bisa!

Dari fenomena ini, saya melihat betapa keponakan-keponakan saya sibuk belajar online karena harus menempuh ujian dari rumah. Eits, bukan hanya anak-anak kecil saja. Nyatanya, orang dewasa seperti ibu saya pun dipaksa harus memahami teknologi selama pandemi COVID-19 ini. Hal ini terlihat bagaimana ibu saya merasa asyik geser-geser layar ponselnya ke bawah dan ke atas lagi, hanya untuk mengecek harga bahan pokok dan belanja online.

Kalau saja situasinya tidak seperti ini, mungkin ibu saya tidak mau diajarin belanja bahan pokok dari pasar online. Namun, ini bukan berarti mensyukuri adanya pandemi COVID-19, sehingga semua orang jadi melek digital, ya! Lagi-lagi, kita sedang membicarakan adanya The New Normal di tengah-tengah kehidupan kita sekarang ini, dengan atau tanpa kita sadari.

 

2. Menjaga Kebersihan dan Kesehatan

Ketika pandemi COVID-19 ini berakhir, jangan heran jika sistem keamanan menjadi semakin diperketat. Saat kita bepergian ke suatu tempat, para petugas keamanan bukan hanya menanyakan apa kepentingan kita untuk datang ke tempat tersebut, atau mengecek barang-barang yang kita bawa di dalam tas.

Pasca COVID-19, para penegak keamanan mungkin tetap akan mengecek suhu tubuh kita sebelum memasuki suatu ruangan atau kendaraan. Imbauan untuk tetap menjaga kesehatan dan kebersihan tetap berada dimana-mana. Kesehatan dan keamanan menjadi dua unsur penting yang harus dijaga di dalam kehidupan bermasyarakat. 

3. Adab Batuk dan Bersin Menjadi Lebih Diperhatikan

Kalian sadar ga semenjak pandemi COVID-19 ini hadir, setiap ada orang yang batuk atau bersin, secara otomatis kita langsung menoleh ke arah mereka. Situasi ini saya perhatikan ketika berada di dalam gerbong kereta. Kala itu, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum diterapkan, namun transportasi massal sudah mulai menerapkan physical distancing.

Ketika ada seseorang yang batuk, semua mata sontak tertuju pada orang tersebut. Dari situasi ini, saya memprediksi bahwa ke depannya orang-orang akan lebih memperhatikan bagaimana adab mereka dalam bersin atau batuk. Isu COVID-19 ini adalah isu bersama, tidak membedakan kalangan kelas, ras, etnik, dan segala bentuk perbedaan lainnya.

Baca Juga  Generasi Milenial adalah Generasi Negatif, Masa Iya?

Lagi-lagi saya memperhatikan, sebelum pandemi COVID-19 datang masih banyak orang yang menyepelekan adab batuk dan bersin di depan umum. Ada yang bersin atau batuk tidak ditutup, bahkan perilaku meludah sembarangan masih sangat melekat di kalangan masyarakat kita.

Sedangkan, pandemi COVID-19 memaksa kita untuk menjaga adab-adab tersebut. Setidaknya dengan menerapkan adab batuk dan bersin, kita tidak mendapatkan sanksi sosial dari tatapan sinis orang-orang di sekitar kita. Dan sepertinya, memperhatikan adab batuk dan pilek di depan umum akan menjadi The New Normal yang positif bagi kita semua.

4. Gaya Hidup Sehat Jadi Tren Baru Anak Muda

Akhir-akhir ini, berjemur menjadi aktivitas baru yang menyenangkan bagi banyak orang. Berjemur di halaman rumah mungkin segera menjadi The New Normal bagi kita semua. Semenjak pandemi COVID-19 datang, ajakan untuk berjemur di luar rumah sekitar pukul 9-10 pagi menjadi hal yang sering terdengar.

Logikanya, vitamin D yang terkandung dari sinar matahari dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ketika imun kita bertambah, maka tubuh kita dapat menangkal virus dengan baik. Pandemi COVID-19 lagi-lagi membuat kita lebih menghargai lingkungan di sekitar. Mungkin sebelumnya kita tidak pernah berjemur di bawah terik matahari pagi. Namun, sekarang menghirup udara luar dan melihat matahari adalah hal yang menyejukkan, terutama bagi mereka yang sudah lama di rumah untuk mengkarantina diri sendiri.

Bukan hanya itu, minuman tradisional mpon-mpon, vitamin C, jamu tradisional, sekarang seakan jauh lebih terkenal daripada minuman boba. Ya, walaupun minuman kopi dalgona juga sedang hits. Namun setidaknya, anak muda Indonesia semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat. Pandemi seakan membuktikan bahwa kalimat “kesehatan itu sangat penting” adalah pernyataan yang 100 persen benar!

Nah, dari beberapa bentuk The New Normal di atas, pemuda-pemudi Indonesia harus siap menghadapi segala kemungkinan di masa depan. Dan tentunya, kita harus menjadi pemuda-pemudi Indonesia yang selalu memperhatikan kesehatan diri dan orang-orang tersayang di sekitar kita. Kalau ga ada yang disayang, ya belajar  menyayangi fakir miskin dan anak telantar yang dipelihara oleh negara bukan keluarga.


Bagikan