0   +   7   =  
Bagikan

Kebangkitan gerakan anak muda dan gelombang revolusi industri keempat tak dapat terbendung layaknya bencana banjir di awal tahun 2020. Negara-negara otoritarian mulai mendapatkan perlawanan di akar rumput dan di awan digital.

Anak-anak muda mulai berani menyabotase rezim-rezim diktaktor dan melawan penyelenggaraan sistem demokratis yang semu. Sederhananya, anak muda  mulai mengorganisir diri  untuk menuntut ruang publik yang lebih partisipatif dan representatif.

Anak muda berjuang bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai anggota gerakan mahasiswa, gerakan keagamaan, asosiasi profesional, kelompok hak asasi manusia, serikat pekerja, komunitas kreatif, pers, pengusaha, seniman, aktivis koperasi dan asosiasi lainnya.

Untuk memahami gerakan anak muda dibutuhkan berbagai perspektif dan dimensi kajian yang beragam. Karena  gerakan anak muda harus dipahami sebagai kehidupan sosial yang terorganisir, bersifat partisipatif, sukarela, mandiri dan memandirikan.

Gerakan anak muda merupakan tindakan kolektif dalam mengekpresikan ide, hasrat, aspirasi dan kritik di ruang publik. Aksi bersama ini merupakan upaya bagi anak muda  meminta pertanggungjawaban negara untuk memenuhi semua kebutuhan dan harapan generasi muda.

Gerakan anak muda dapat dilihat sebagai entitas perantara. Ia berdiri di antara ruang privat dan ruang publik. Ia berada di tengah-tengah generasi. Ia adalah jembatan bagi semua pihak untuk membuat kompromi.

Anak muda vitamin demokrasi

Anak-anak muda adalah vitamin yang dibutuhkan bagi kesehatan demokrasi kita. Maka, gerakan anak muda  sebaiknya tidak hanya mengontrol kekuasaan negara, tetapi memastikan distribusi kesejahteraan ditegakkan dengan kokoh.

Keanekaragaman gerakan anak muda adalah potensi bagi Indonesia. Sejauh organisasi-organisasi plat merah, fudamentalis agama, chauvinis etnis, para militer tidak berupaya melakukan monopoli politik dengan mengklaim bahwa merekalah jalan satu-satunya yang sah, paling benar juga paling tahu “kebutuhan” anak muda .

Baca Juga  Enam Cara Mengelola Relawan Masa Depan

Karena watak semacam itu bertentang dengan prinsip-prinsip demokrasi dan multikulturalisme. Keberpihakan dalam konteks demokrasi menandakan bahwa tidak ada kelompok-kelompok anak muda yang mampu secara utuh merepresentasikan seluruh generasi muda di dalam sistem politik. Dengan demikian, kita perlu melihat bahwa kelompok-kelompok anak muda yang beragam sebenarnya mewakili kepentingan yang berbeda pula.

Gerakan anak muda memiliki fungsi sebagai kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Karena gerakan anak muda adalah salah satu sarana  untuk memastikan sistem politik tetap berada pada jalur yang demokratis dan terbuka di masa kini juga masa depan.

Berangkat dari hal tersebut, ada delapan fungsi gerakan anak muda. Pertama, sebagai pembatas dan kontrol terhadap kekuasaan negara dan perusahan. Kedua, mendorong partisipasi dan representasi anak muda. Ketiga, mengendalikan polarisasi politik di tengah masyarakat. Keempat, menjadi corong aspirasi dan agregasi kepentingan selain partai politik. kelima, menjadi wahana regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan. Keenam, melestarikan kulur demokrasi dan prinsip hak asasi manusia. Ketujuh, membela dan memperjuangkan hak-hak anak muda juga  warga negara. Kedelapan, mendorong inovasi sosial, ekonomi dan politik di tengah masyarakat.

Yang harus diwaspadai anak muda

Kita perlu mengakui, tidak semua anak muda dan organisasi kepemudaan memiliki potensi, kinerja dan kreatifitas  dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut. Hal ini dikarenakan kapasitas dan kapabilitas  sangat tergantung dengan dinamika internal di organisasi masing-masing.

Fragmentasi anak muda di tengah kultur yang heterogen adalah sebuah keniscayaan, dan sebenarnya semakin bagus untuk kelestarian sistem demokrasi. Keanekaragaman membantu gerakan-gerakan anak muda tumbuh berkembang. Ekosistem tersebut mendorong pembelajaran bagi anak muda untuk saling bekerjasama dan bernegosiasi satu sama lain.

Perbedaan karakteristik dari masing-masing organisasi kepemudaan tentunya akan mempengaruhi pola relasi kekuasaan antara negara dan generasi mudanya. Bisa jadi bentuk-bentuk pola interaksi yang terbangun antara negara dan anak muda  bersifat menguatkan atau saling menghancurkan. Hal ini sangat terkait sekali  pada niat kedua belah pihak dalam mengelola konflik dan konsensus diantara mereka.

Baca Juga  Milenial Kelas Bawah

Secair dan sesantai apapun gerakan anak muda, pada level tertentu mereka juga akan terdesak untuk melembagakan nilai-nilainya dalam bentuk organisasi.  Pelembagaan adalah salah satu cara untuk menjaga stabilitas dan menjamin keberlangsungan gerakan anak muda.

Suka tidak suka, pelembagaan gerakan anak muda adalah sebuah keniscayaan, sejarah telah membuktikannya. Gerakan yang awalnya sangat progresif, berakhir menjadi sangat konservatif ketika mapan. Tapi setidaknya, usaha pelembagaan ini dapat memperkuat posisi tawar anak muda dihadapan negara.

Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana memulai melakukan internalisasi nilai-nilai demokrasi pada struktur organisasi kepemudaan itu sendiri dengan prinpsip-prinsip transparansi, akuntabilitas dan rotasi kepemimpinan.

Karena seringkali ditemukan, masalah yang cukup serius adalah organisasi kepemudaan  masih banyak bertumpu pada kekuatan figur dan donatur politik. Ini menyuburkan budaya politik klientelisme dan surbordinasi.

Hal ini dipeparah, oleh kecenderungan oportunistik dari figur-figur pemimpin organisasi kepemudaan yang  memanfaatkan modal simboliknya untuk mengakses sumber daya ekenomi dan politik untuk kepentingannya sendiri. Maka kedepan,  di tengah bajir gerakan anak muda, demoralisasi kepemimpinan anak muda harus kita waspadai bersama-sama.

 

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development. Ia dapat ditemui di Instagram @wildan.shah.


Bagikan