6   +   6   =  
Bagikan

Bonus demografi sebentar lagi. Yang intinya, bangsa Indonesia bakalan diisi lebih banyak oleh penduduk usia produktif dari 15 sampai 64 tahun dari pada jumlah penduduk tidak produktif.

Katanya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), diramalkan penduduk produktif ini mencampai 180 juta orang atau 70% dari seluruh penduduk di Indonesia. Mantap bangetkan Sob!

Pemerintah saat ini sepertinya masih optimis, bahwa bonus demografi bakal jadi kekuatan besar bangsa ini, terutama karena momentum tersebut membawa Sumber daya Manusia (SDM) yang sangat banyak sekali. Boleh aja sih pemerintah optimis, tapi SDM yang dimaksud pemerintah sudah siap atau belum? Siap kualitasnya? Siap jiwa raganya? Siap etos kerjanya? Siap ditempatkan di berbagai bidang pembangunan bangsa atau enggak?

Kalau enggak, wah, pasti jadi gawat sob! Penduduk produktif malah jadi petaka buat bangsa ini, karena pasti banyak yang nganggur, kalau nganggur pasti jadi miskin, kalau miskin dan kemiskinan meraja rela bisa jadi konflik dan frustasi sosial menjamur dimana-mana. Meledaknya penduduk, pasti tindakan kriminal meningkat tajam. Kita emang butuh banget lapangan kerja! Mana susah banget cari kerja lagi sekarang. Tapi ada 3 hal lain sebenernya yang kita butuhin lagi selain lapangan kerja.

Nah, ada baiknya ni Sob, mumpung masih ada waktu, kita kudu tahu apa aja sih yang perlu disiapkan pemerintah, jadi kita bisa ikut kasih masukan atau berisik di media sosial, biar para pejabat dan korporat tahu apa maunya anak muda!

1. Pendidikan keren adalah hak kawula muda

Mau ga mau ni sob, SDM yang canggih dan ajaib itu hasil dari pendidikan yang keren pastinya. Semua tokoh dunia, kalau bikin kata-kata bijak, pasti ujung-ujungnya bilang “pendidikan sangat penting”. Mereka ga salah sob, malah betul banget.

Baca Juga  Warga Muda Belajarlah Menyelesaikan Masalah Melalui Hukum!

Pendidikan itu ibarat perguruan silat, kita bakal diajarin berbagai jurus, mantra dan kebijaksanaan untuk menghidupi hidup. Maka aneh bin ajaib sih, jika pemerintah ga serius garap pendidikan keren di berbagai pelosok Indonesia. Pendidikan keren ga cukup di kota-kota besar, dia harus hadir bahkan sampai sudut-sudut desa di seluruh nusantara. Biar maju dan mandiri bersama.

Dan yang paling penting, SDM kita itu perlu dibekali jurus dan pengetahuan terkait teknologi, bahasa internasional, dan kemampuan teknis yang dibutuhkan langsung oleh sektornya masing-masing. Yang lebih penting, pemerintah perlu kasih tunjangan pendidikan, terutama kepada anak-anak muda di pedesaan dan difabel.

2. Kesehatan lebih penting dari pada kenangan

Mensana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, slogan yang sering kita dengerin waktu masih di sekolah dasar. Sekarang, seharusnya, “Masyarakat Sehat Negara kuat! jadi slogan baru bangsa ini. Karena kesehatan bukan urusan pribadi tetapi juga urusan public service.

Coba bayangin, kalau saat bonus demografi, anak mudanya penyakitan semua, ga sehat dan rapuh, ngeri Sob! kaya kumpulan zombie. Makanya, pemerintah perlu galak banget ni buat sosialisasi dan bikin program hidup sehat.

Mulai soal gizi, ruang publik yang sehat dan pengawasan obat-obatan terlarang kudu dimasifin lagi di komplek perumahan, kampung-kampung, sekolahan, kampus ampe perkantoran.

Sama yang paling penting sosialisasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) perlu ditingkatkan. Karena BPJS sangat-sangat bermanfaat terutama berhasil membantu kalangan menengah kebawah untuk mengakses kesehatan.

Karena penyelenggaran kesehatan yang baik, akan mendorong anak muda yang tumbuh sehat secara baik pula!

3. Saat Kamu, Aku Maksa ke KUA

Jatuh cinta memang tidak bisa dihindari tapi bisa dibikin perencanaanya. Maraknya nikah muda memang jadi fenomena biasa Sob di negeri kita. Nikah muda tuh ga mudah! tapi paling enggak, Sobat muda harus siap segala hal.

Baca Juga  Sudahkah Pemuda Merdeka dengan Program Merdeka Belajar?

Siap punya tabungan, siap punya investasi, siap punya kerjaan dan siap yiapin macem-macem pokoknya. Intinya semua ga instan, dan memang perlu rencana dari awal yang namanya mau bangun keluarga. Karena membangun sebuah keluarga tidak semudah rayuan gombalnya Dilan ke Milea.

Ini biar sobat muda tahu aja, Berdasarkan data yang diperoleh Perkumpulan Warga Muda, sejak tahun 2009-2016, terlihat kenaikan angka perceraian mencapai 16 hingga 20 persen. Yang parahnya lagi, BKKBN pernah mengingatkan Indonesia darurat perceraian mengingat angka perceraian di Indonesia pernah menjadi yang tertinggi di Asia Pasifik. Hingga hari ini Sob, kantor KAU kita itu ga cuma ramai ngurusin orang mau nikah, tapi juga banyak banget yang gugat cerai.

Memang Sob, ini sangat bikin kita was-was dan mengkhawatirkan jika nikah cuma karena tren aja. Ngeri kan jika nanti kita jadi orang tua yang ga menghasilkan apapun buat keluarga dan anak. Anak kita kena dampak dari perceraian orang tuanya karena dulu orang tuanya ga nyiapin apa-apa untuk masa depan keluarganya.

Bisa jadi anak kita nanti malah ga ada yang ngurusin, jadi beban negara, dan bayangin saat bonus demografi tapi angka perceraian terus meningkat! Serem Sob, banyak anak-anak yang frustasi karena kelakuan orang tuannya, bangsa ini bakal suram masa depannya, karena anak muda tumbuh dewasa tanpa pengawasan orang tuanya.

Bonus demografi harus membuat pemerintah  tanggap, dorong KUA menjadi tempat wajib konseling perencanaan sebelum menikah. Walaupun sudah ada pelatihan semacam itu, tapi para peserta masih seenaknya sendiri, maka perlu diwajibkan dan buat aturan yang tegas juga buatkan surat permohonan ijin untuk peserta agar dapat mengikuti pelatihan dengan ijin resmi dari tempat bekerjanya.

Baca Juga  Presiden dan Parlemen Anak Muda, Sekarang Juga!

Bagikan