3   +   3   =  
Bagikan

Mahasiswa Jadi Agen Tangkal Krisis Pendidikan – Warga Muda

Sebagai mahasiswa bela negara, identitas yang menjadi titik gerak dan tuntutan kita untuk menciptakan langkah nan heroik dalam segala persoalan bangsa. Di tengah keprihatinan bersama, pandemi Covid-19 menuntut kita untuk kembali menggelorakan semangat bela negara yang dimiliki pemuda Indonesia, khususnya sebagai kader bela negara. Kita harus mengepalkan tangan dan mengokohkan kembali semangat patriotisme dalam upaya melawan pandemi global yang menyerang bumi pertiwi ini.

Bagi saya sebagai mahasiswa bela negara, sudah sepatutnya kita bangga untuk turut serta dalam membela negara Indonesia. Bela Negara adalah suatu sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.

Bela negara merupakan kesadaran tentang hak dan kewajiban warga negara. Bukan saja ditekankan, namun dibangun di atas keyakinan akan kekuatan sendiri, keyakinan akan kemenangan, serta tidak kenal menyerah. Berbicara tentang mahasiswa, kita kerap mendengar gaungan “Mahasiswa adalah Agent of Change”. Menurut Robbins & Coulter, agen perubahan adalah orang yang bertindak sebagai katalisator dan mengelola perubahan yang terjadi.

Palabelan itu dikarenakan mahasiswa merupakan tokoh perintis, penggerak, dan penggagas untuk melakukan perubahan dan mempengaruhi seseorang kearah yang lebih baik lagi. Potensi yang dimiliki oleh mahasiswa dapat membuat perubahan terhadap masyarakat dari pembodohan.

Situasi pandemi Covid-19 jika digambarkan dengan Permenhan No. 19 Tahun 2015 yang dikategorikan sebagai wabah penyakit, merupakan ancaman nyata bagi NKRI. Artinya, diperlukan perhatian serius dalam menyikapi pandemic ini. Segala usaha juga diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa di kala pandemi COVID-19.

Baca Juga  Kegagalan dan Keberhasilan sama Pentingnya Bagi Anak Muda Penggiat Startup

Pandemi Covid-19 Jadi Alarm Kebangkitan Mahasiswa

Virus ini sangat berdampak bagi seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, seharusnya ini menjadi momentum kebangkitan mahasiswa dalam upaya bela negara serta menjadi ghirah bangkitnya semangat pemuda agar mereka tidak dalam “keterkungkungan” derita, sehingga kita sebagai mahasiswa dapat menjadi katalisator di masa pandemi Covid-19.

Pemuda Indonesia harus kembali melahirkan semangat dalam mempelopori persatuan dan kesatuan Indonesia, terutama dalam “memerangi” pandemi global agar Indonesia mampu survive dan bangkit dari keterpurukan. Dampak ini terus meluas pada sosial, ekonomi, pariwisata, bahkan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, saya sebagai pemuda dan mahasiswa Indonesia dengan identitas bela negara mencoba mengagas gerakan kepedulian terhadap Pendidikan kita yang dinilai cukup terdampak selama pandemi Covid-19.

Gerakan ini saya beri nama “Gerakan Mahasiswa Rangkul Sekolah Dasar”. Ide ini muncul atas keperihatinan saya yang melihat sendiri akan ketimpangan pendidikan, khusunya di lingkungan tempat tinggal saya. Tak jarang bahkan banyak orangtua siswa yang mengadukan permasalahan ini dan meminta saya untuk membantu mereka. Saya sangat percaya lewat gerakan ini, mahasiswa mampu menjawab permasalahan pendidikan yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Ancaman Krisis Pendidikan Selama Pandemi COVID-19.

UNESCO manyatakan per tanggal 17 April 2020, diperkirakan 91.3% atau sekitar 1,5 miliar siswa di seluruh dunia tidak dapat bersekolah karena munculnya pandemi COVID-19. Menurut Badan Pusat Statistik, dalam jumlah tersebut termasuk di dalamnya kurang lebih 45 juta siswa di Indonesia atau sekitar 3% dari jumlah populasi siswa yang terkena dampak secara global.

Kemendikbud kemudian memutuskan untuk menunda semua kegiatan sekolah dan beralih ke metode pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di rumah sesuai Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020.

Baca Juga  Untuk perempuan Gen Z yang tidak sedang dalam pelukan, Berjuanglah!

Sayangnya, perubahan metode pembelajaran ini telah merugikan pelajar yang berasal dari keluarga pra-sejahtera, serta mereka yang berada di pedesaan. Dalam kondisi normal, mereka kerap menghadapi hambatan untuk mengakses pendidikan. Apalagi sekarang? Kesenjangan teknologi semakin memperburuk keadaan.

Jaringan internet di Indonesia yang kurang memadai, jangkauan 4G yang terlalu terkonsentrasi di Pulau Jawa, semua ini menjadi ancaman baru dalam pendidikan. Data   Asosiasi   Penyelenggara   Jasa   Internet   Indonesia (APJII) menyatakan jumlah pengguna internet di Indonesia baru mencapai 143,26 juta atau 55% dari populasi. Tidak hanya itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan masih ada 479.423 rumah tangga belum teraliri listrik.

Ketidakmerataan ini telah menciptakan kesenjangan konektivitas bagi seluruh anak bangsa. Ditambah lagi beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompetensi informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) guru-guru Indonesia tidak tersebar merata di seluruh wilayah, sehingga pendidikan antara Jawa dan luar Jawa sangatlah nampak.

“Gerakan Mahasiswa Rangkul Sekolah” Menjawab Krisis Pendidikan.

Gerakan mahasiswa tidak semata sebagai kumpulan mitos dan slogan yang selalu didengung-dengungkan para aktivis. Akumulasi mitos ini justru menina-bobokan mahasiswa dalam zona nyamannya. Gerakan mahasiswa seharusnya menuntut adanya posisi yang jelas dan tegas, misalnya, dimana mahasiswa seharusnya berada di tengah masyarakat.

Ghirah pemuda masa kini mungkin berbeda dengan para pelopor kemerdekaan Indonesia. Namun, kacamata mengenai pendidikan yang dijiwai effort pemuda dalam “menelanjangi” teknologi, tentu diharapkan melahirkan gaya baru dalam meresolusi berbagai persoalan bangsa.

Dalam konteks pandemi Covid-19, Gerakan Mahasiswa Rangkul Sekolah menjadi salah satu bukti nyata akan keberadaan mahasiswa yang seharusnya hadir di tengah-tengah masyarakat. Perjuangan ini bertujuan untuk membebaskan masyarakat khususnya siswa sekolah dari belenggu permasalahan pendidikan akibat pandemi Covid-19.

Data BPS pada 2019 mencatat total jumlah mahasiswa Indonesia pada 2018 sebanyak 7 juta jiwa. Sementara itu, jumlah sekolah berdasarkan data pokok pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dari jenjang SD sampai Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) di Indonesia berjumlah 307.655 sekolah pada tahun ajaran 2017/2018. Artinya, terdapat suatu perbandingan yang jauh sehingga, mahasiswa dapat memasuki setiap lini sekolah dan merangkul siswa dalam menghadapi krisis pendidikan saat Covid-19.

Baca Juga  Bonus Demografi, Lalu Anak Muda Ngapain?

Dengan adanya Gerakan Mahasiswa Rangkul Sekolah diharapkan mahasiswa mampu menjadi mitra para guru dalam menjawab segala permasalahan demi mensukseskan pendidikan selama pandemi. Mahasiswa Indonesia diharapkan mampu membuktikan effort dan etos di tengah pandemi dengan menjadi kontributor utama dari bonus demografi Indonesia. Sekarang, saat yang paling tepat bagi mahasiswa Indonesia untuk melakukan perjuangan dalam memutus krisis pendidikan di masa pandemi Covid-19.

 

Bilal Sukarno adalah Kolabolator dari perkumpulan Warga Muda, ia merupakan Mahasiswa Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta dengan Konsentrasi studi Politik Perkotaan dan Sistem Pemilu, ia juga aktif menggeluti isu-isu Pendidikan, Sosial dan Kepemudaan khususnya di Kabupaten Bekasi dan Merupakan inisiator gerakan #TitikNolBhagasasi

 


Bagikan