5   +   6   =  
Bagikan

Anak muda adalah tiang penyangga kohesi sosial. Karena generasi muda yang gelisah, secara perlahan-lahan memperbaiki tatanan sosial kita, yang makin tak terduga dan anomali.

Generasi muda, terutama milenials, telah merayakan kebebasan dan keberagaman, yang mereka adopsi dari seluruh dunia. Banyak negara sedang berupaya mengoptimalisasi potensi anak muda dengan memompa rasa nasionalisme di benak identitas kesukuan mereka masing-masing.

Tidak terkecuali di Indonesia. Anak-anak muda adalah bagian penting bagi perjalanan bangsa ini, mulai dari era revolusi, reformasi hingga industri 4.0. Namun, di tengah gempuran informasi dan pengetahuan instan, ada baiknya generasi muda, melirik kembali sejarah tentang perjalanan bangsa ini, yang berapi-api kadangkala pilu.

Bangsa kita pernah di tempa praktik kolonialisme, pemerintah diktaktor, genosida politik, krisis ekonomi, konflik SARA dan semuanya memakan korban nyawa manusia. Dan diantaranya pelakunya adalah anak muda dan korbannya adalah sebayanya.

Sementara zaman bergerak maju, generasi muda kita hari ini, makin abai dengan sejarah, bahwa bangsa ini dibangun oleh harapan dan pengorbanan banyak orang. Bukan hanya dibangun dengan “like” dan “share” di media sosial.

Pemahaman ini menjadi penting untuk membantu anak muda mengetahui bahwa segala bentuk penindasan, ketiadakadilan, diskriminasi, marjinalisasi, stigmanisasi berserta tindakan pembusukan lainnya, walaupun kecil, tetap saja bersifat destruktif, pada titik yang paling ekstrem bahkan membunuh manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pahitnya kerusuhan dan bagaimana mencegahnya

Kita perlu merenungi pahitnya “Kerusuhan Sampit”, “Konflik Poso”, “Konflik Ambon” dan momentum kelam lainnya. Nyatanya, saling bantai antar manusia dan adu senjata bukanlah jalan keluar menyelesaikan masalah, itu hanya menumpahkan darah dan meninggalkan tulang belulang tanpa arti.

Baca Juga  Perjuangkan Kuota 30 Persen Anak Muda di Parlemen!

Menjaga persatuan dan perdamaian adalah proses yang perlu dijaga oleh generasi muda dengan cara-cara baik juga beradab. Setiap anak muda Indonesia merupakan pihak-pihak yang membentuk wajah negeri ini, sekarang dan nanti.

Kaum muda kita, terlepas dari embel-embel Generasi Milineal dan Gen Z, mereka semua berkewajiban menjadi agen kohesi sosial, menjaga komitmen sosial untuk menekan perselisihan dan mencegah fragmentasi masyarakat. Ada dua pendekatan untuk menjamin kohesi sosial di tengah masyarakat, melalui: quality of life approach dan acces to right approach.

Yang pertama, dengan mengevaluasi indikator kualitas ekonomi, hubungan sosial, dan kebebasan politik di tengah masyarakat. Sedangkan yang kedua, dengan menganalisa cara masyarakat dalam mendapatkan seluruh hak-haknya sebagai warga negara maupun individu. Dengan dua pendekatan ini, harapannya, kita dapat meminimalisir “ketimpangan-ketimpangan” yang berpotensi meringkus kohesi sosial.

Kohesi sosial tidak dapat dicapai hanya melalui undang-undang dan peraturan pemerintah kohesi sosial terbentuk karena jejaring sosial, dimana individu merasa menjadi bagian dan mengintegrasikan diri pada “komunitas bersama”: bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Memulai bersama dengan tindakan bukan perkataan

Kita dapat memulai ini, dengan mendorong anak muda memposisikan diri sebagai kolaborator utama dalam pembangunan sosial. Dengan, membudayakan ekosistem kerja sama yang inklusif, pada komunitas maupun organisasi masing-masing. Karena organisasi dan komunitas anak muda tidak hanya menjadi ruang aktualisasi diri, tetapi juga menjadi tempat bagi tumbuh kembang kohesi sosial, pada tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Melalui pengalaman anak muda berorganisasi dan berkomunitas, mereka akan siap untuk menyembuhkan berbagai patologi sosial yang mulai menjangkiti masyarakat kita. Dengan demikian, pemerintah, swasta dan organisasi masyarakat sipil berkewajiban menanamkan visi dan niat baik mereka kedalam organisasi dan komunitas kepemudaan.

Baca Juga  Cara Memanipulasi dan Menginspirasi Gen Z untuk bergerak serentak, Resep ampuh bagi pengurus organisasi kepemudaan!

Di luar itu, perusahaan media arus utama perlu turun tangan mempromosikan kohesi sosial melalui program, pertunjukan, pesan dan produk lainnya agar membangun pemahaman bersama untuk hidup bersama. Di saat yang sama, media sosial memiliki pengaruh besar pada pandangan anak-anak muda dalam mendefinisikan diri dengan dunia sekitarnya.

Media sosial menjadi lapangan bermain anak muda, sekaligus membentuk kehidupan sehari-hari mereka. Maka dari itu, menjadi penting bagi setiap pihak, mendorong anak muda untuk menggunakan media sosial sebagai platform yang memperkuat kohesi sosial, bukan malah sebaliknya.

Melalui media sosial, para pemimpin bangsa dan para pejabat negara di tingkat pusat maupun daerah dapat berkomunikasi dengan anak muda, mencari aspirasi mereka untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial dengan bersama-sama.

Di banyak negara, kohesi sosial telah terbukti menjadi faktor positif bagi pembangunan inklusif untuk kesejahteraan warga dan pembangunan kepemudaan jangka panjang. Karena masyarakat yang kohesi sosialnya tinggi akan stabil secara politik dan cenderung berorientasi pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Tujuan implisit membangun kohesi sosial adalah meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan ruang “layak huni” bagi semua orang, sebuah misi yang menantang. Dengan demikian, merawat kohesi sosial berarti siap berjuang tanpa henti, karena harus dibangun bertahun-tahun lamanya.

Semua ini perlu dilakukan bersama, dan dibiasakan oleh generasi muda kita, dari Aceh hingga Papua. Karena cara mudah melestarikan kohesi sosial sangat sederhana namun butuh konsistensi, kuncinya: kerjasama untuk hajat bersama. Dan ini, bisa kita mulai dari diri sendiri.

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development. Ia dapat ditemui di Instagram @wildan.shah.

 

Baca Juga  Enam Cara Mengelola Relawan Masa Depan

*Tulisan ini telah dipublikasikan kumparan.com dengan judul “Bosan dengan Konflik? Ini Cara Sederhana Milenial Jaga Kohesi Sosial”.


Bagikan