2   +   4   =  
Bagikan

Politisi ada di sekitar kita. Bahkan kita sendiri pun berpolitik. Dari bangun hingga tertidur kembali, kita terpapar informasi tentang kehidupan publik baik yang berurusan dengan ekonomi hingga terkait pandemi.

Kita dibanjiri oleh berbagai masalah. Sayangnya kita selalu menilai, pelacuran, kemiskinan, kebodohan, penyakit, dan kriminalitas merupakan tanggungjawab pribadi bukan tanggungjawab pemerintah.

Padahal, jika kita menempatkan berbagai masalah menjadi urusan publik, menjalani hidup tentunya lebih mudah karena dijaga bersama.

Di sini politik menjadi penting bagi kehidupan masyarakat modern.  Dan yang terpenting, sebagaimana kata Aristoteles, politik adalah sebuah upaya menciptakan masyarakat  dan kehidupan yang lebih baik.

Saya ingatkan bahwa  politik bukan cuma urusan yang berbau partai dan negara. Karena  urusan pajak  sepeda dan artis masuk youtube sebenarnya juga urusan politik.

Terlalu lama politik dijauhkan dari hajat hidup masyarakat.  Maka tidak mengherankan, anak muda dengan enteng, menuding politik cuma urusan bagi para politisi brengsek yang berebut kuasa dan tahta.

Saya sering sekali melihat  Mereka dengan bangga menolak berpolitik bak pahlawan kesiangan.  Padahal urusan politik begitu dekat dengan urat nadi kita, dan begitu menentukan bagaimana masa depan juga kehidupan kita sekarang.

Ngomong-ngomong soal apatisme politik, Saya suka sekali dengan sindiran Bertolt Brecht, penyair Jerman di abad ke-19 yang menyatakan “ Orang buta politik begitu bodoh, sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya seraya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohannya politiknya lahir pelacur, anak terlantar, pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, dan rusaknya perusahaan nasional serta multinasional yang menguras kekayaan negeri.”

Agar tidak banal secara politis. Kita perlu belajar dari Hannah Arendt, menurutnya dalam The Human Condition (1958), politik adalah bentuk aktivitas manusia yang paling penting karena melibatkan interaksi antar warga yang merdeka dan setara.

Baca Juga  Keluarga Bos Lokal dan Anak Muda Tanpa Hak Istimewa

Seperti Arendt, Saya sendiri percaya, politik masih menjadi aktivitas moral yang berkenaan dengan mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang adil dan makmur di level apapun.

Semua urusan politik

Dalam karya What Is Politics? The Activity and its Study (2004), Adrian Leftwich mengatakan politik adalah jantung dari semua aktivitas sosial kolektif, formal maupun informal, publik maupun privat, di semua kelompok, lembaga, dan masyarakat manusia.

Meminjam gagasan Lefwich, dapat dikatakan politik berlangsung bahkan di dalam keluarga, persahabatan, dan hubungan percintaan.

Saya ambil contoh, pacaran dan partai politik, memiliki upaya yang sama. Keduanya, memiliki unsur-unsur penting di dalam politik seperti pengaruh (power), legitimasi (legitimacy) dan wewenang (authority).

Untuk mendekati “gebetan” kita  menggunakan rayuan (pengaruh) agar mendapatkan kepastian atau status pacaran (legitimasi), kenapa kita membutuhkan “status”? jawabannya agar kita seolah-olah memiliki “wewenang” untuk ikut “mengatur” pasangan kita.

Modus ini juga digunakan oleh para kandidat politik baik legislatif maupun eksekutif, mereka merayu kita dengan janji-janji, agar kita memilih mereka untuk memimpin, karena terpilih akhirnya mereka memiliki “kekuasaan” untuk mengatur hajat hidup kita semua tanpa terkecuali.

Politik akan mulai berkerja sebagaimana semestinya, ia akan memproduksi, mendistribusikan dan mengelola alokasi sumber daya yang dimiliki “bersama”: bisa untuk kebutuhan semua atau kepentingan golongan.

Suka tidak suka, politik telah menjadi bagian dari kehidupan kita semua. Kita telah menganggapnya biasa-biasa saja, pikiran sinis tidak akan menyelamatkan siapapun bahkan diri sendiri.

Jujur saja, kalau tidak berpolitik, kita akan gagal melihat peluang untuk memperbaiki negeri, dan tanpa sadar situasi menyebalkan ini akan mengubah kita menjadi semakin tidak peduli.

Saya rasa sudah waktunya untuk berpolitik dengan budi pekerti. Membuat segalanya menjadi lebih maju dan lebih baik. Karena bagaimanapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan di dunia ini, kita perlu ambil bagian di dalamnya sekarang.

Baca Juga  Tips Keuangan bagi Pekerja Serabutan di Tengah Pandemi

Kita terlalu terbiasa menghindari masalah, hingga seringkali tidak berani mengambil kesempatan. Logika ini, sama seperti kita saat melihat politik. Kita tidak ingin terjun berpolitik, tapi mengharapkan kebijakan politik yang baik. Ini merupakan kegilaan yang berulang-ulang!

Sebagaimana kata Albert Eistein, “kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda”.

Padahal Semakin banyak yang berpolitik akan makin banyak energi perubahan dan ide-ide baru. Lambat laun arena dan institusi politik akan didorong untuk memperbaiki diri.  Sejarah telah membuktikan  politik menciptakan kultur dan perubahan sosial kalau dikawal secara displin.

Maka, dengan mengubah pandangan kita terkait politik, kita telah selangkah untuk membuat masa depan dunia  lebih baik, karena politik memungkinkan kita membuat mimpi menjadi kenyataan.

Kita semua politisi yang memiliki kemampuan untuk mendorong semua orang berbuat lebih banyak untuk kemajuan bersama dan menciptakan sesuatu  yang menakjubkan.


Bagikan