10   +   4   =  
Bagikan

Tawuran kembali menghantui Jakarta dua hari belakangan ini. Peristiwa saling serang tersebut melibatkan warga Manggarai Selatan dengan warga Tenggulun. Tidak hanya melempar batu, kedua kubu juga membawa senjata tajam untuk saling hantam. Di tengah kisruh tersebut, terlihat beberapa sosok remaja ambil peran dalam keributan ini. Dengan wajah was-was sekaligus tersenyum sinis.

Tren tawuran sudah melekat pada remaja atau pelajar di Indonesia. Ini tercermin dari catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2018, yang menunjukkan bahwa tawuran pelajar mencapai 144 kasus, ini terbilang cukup besar. Terlebih tawuran tersebut juga memakan korban jiwa.

Diperkirakan pada tahun 2019 ini, kasus tawuran akan terus bertambah mengingat penangan pemerintah yang belum maksimal dalam upaya pencegahan kasus tawuran. Disaat bersamaan, tradisi tawuran semakin mengakar di benak para remaja dan dilestarikan oleh oknum-oknum yang berkepentingan terhadap patologi sosial ini demi mengeruk keuntungan pribadi.

Tawuran telah menjadi gaya hidup bagi sekelompok remaja, layaknya olahraga yang memacu adrenalin, hiburan pelepas penat, ‘hobi’ ini juga memiliki komunitasnya sendiri. Maka tidak mengherankan jika pemberitaan tawuran jadi biasa-biasa saja di telinga masyarakat kita.

Tawuran lebih mirip sparing olahraga tinju, terencana, dan di atas kesepakatan. Kecurigaan ini tentunya beralasan, menurut Kriminolog Universitas Indonesia, Maria Zuraida, tawuran bisa menjadi pengalihan isu, salah satunya menjadi kamuflase bisnis peredaran narkoba. Ini baru satu kasus, meski banyak yang meyakini bahwa tawuran juga memiliki dimensi bisnis yang cukup luas untuk terus mempertahankan lingkaran kekerasan ini.

Kenapa Remaja Terlibat Tawuran?

Faktor tunggal fenomena tawuran yang melibatkan remaja pada dasarnya tidak diketahui asal-usulnya, alih-alih bersifat derteminis, penyebab tawuran lebih probabilis. Banyak kemungkinan yang membentuknya, entah sebagai fakta sosial maupun kontruksi sosial. Namun setidaknya, setiap orang yang tinggal di Indonesia, saat mereka remaja mungkin pernah membaca, mendengar, melihat, atau terlibat tawuran, entah sebagai penonton, pelaku, atau korban.

Baca Juga  Ngabuburit Virtual dan Nasib Bukber Kita

Merujuk pada sejarah, istilah tawuran muncul di media massa pertama kalinya di dalam berita Kompas edisi 29 Juni 1968 yang memuat artikel berjudul “Bentrokan Peladjar Berdarah” yang membuat gubernur masa itu, Ali Sadikin, geram dan langsung berusaha meredam situasi tersebut. Sejak saat itu berbagai upaya dilakukan untuk mencegah tawuran dan masih belum menemukan formulasi kebijakan yang tepat.

Kesalahan yang sering terjadi dalam upaya pencegah tawuran adalah anggapan bahwa tawuran hanya salah satu dari bentuk psikologis kenakalan remaja yang disebabkan oleh masalah-masalah pribadi.

Padahal anggapan ini bisa saja kurang tepat, karena para pelaku tawuran tidak selalu memiliki latar belakang bermasalah, banyak kajian membuktikan bahwa remaja yang pintar di sekolah, memiliki keluarga yang harmonis, rajin beribadah, tidak menggunakan narkoba, dan dari kalangan ekonomi yang cukup juga rentan terlibat tawuran.

Dengan demikian bisa jadi, tawuran remaja lebih berdimensi sosiologis ketimbang psikologis. Remaja ditekan oleh faktor eksternal seperti tradisi, senioritas, solidaritas kelompok dan modus bisnis.

Pada konteks tradisi, biasanya terkait dengan warisan permusuhan antar sekolah atau kelompok yang sudah turun menurun dari generasi ke generasi, sehingga remaja yang ingin menjadi bagian dari kolektif tertentu atau ingin meningkatkan pengaruhnya harus mengikuti “ritual-ritual kekerasan” sebelum terjun langsung ke dalam tawuran.

Sebagai “ritual”, tawuran bisa memilih tempat dan waktu untuk “beribadah”, karena para remaja penggiat tawuran sekarang membuat perjanjian dengan “lawan tandingnya” melalui media sosial. Jika terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak untuk berduel, tawuran pasti akan terjadi.

Dari beberapa penuturan pelaku tawuran, kegiatan ini bukan hanya sekadar untuk menjaga tradisi, tetapi menjadi hobi tersendiri layaknya olahraga.

Baca Juga  Hanya 4 Persen Representasi Politik Anak Muda di DPR RI

Pada sisi senioritas, terjadi transmisi budaya kekerasan yang ditularkan oleh senior pada juniornya, dengan cara koersif maupun persuasif. Internalisasi nilai-nilai kekerasan diterima dengan terpaksa, namun lambat laun, nilai-nilai tersebut berubah menjadi norma yang diterima oleh remaja. Dapat dikatakan, langgengnya fenomena tawuran merupakan keberhasilan senior atau alumni melakukan kaderisasi di sekolah-sekolah atau komunitas tertentu.

Solidaritas kelompok di topang oleh tradisi dan senioritas, solidaritas kelompok seringkali menjadi pemicu tawuran. Karena permasalah sepele, seringkali individu yang bermasalah membawa masalah pribadi kepada kelompok, dan dengan rasa kebersamaan yang bersifat fatalistik, komunitas merasa perlu membela anggotanya, yang berakhir menjadi perang antar kelompok.

Tapi sering kali, jika dilakukan penelusuran lebih dalam apa penyebab tawuran, tidak ada yang menemukan alasan pasti, mereka hanya terpicu keramaian dan ikut-ikutan, setelah selesai tawuran, para pelaku hanya menjadikan tawuran sebagai bahan obralan biasa bersama teman, layaknya obrolan habis bermain sepak bola.

Tawuran adalah Bisnis

Paling menarik dari semuanya, adalah modus ekonomi politik dari fenomena tawuran. Tawuran memiliki muatan bisnis yang menarik remaja ke dalam pusaran kekerasan. Menurut Fajar Iman Hasanie, berdasarkan penelitiannya yang berjudul “Pemantauan Tawuran Antar Pelajar Jakarta Selatan”, ia menjelaskan bahwa tawuran berada dalam lingkaran bisnis. Mulai jual beli senjata seperti celurit, gergaji es, soda kocok, buntut ikan pari secara online atau memesan pembuatan senjata kepada oknum tukang las.

Selain bisnis senjata, perdukunan dan jimat menjadi komoditi yang menarik minat para remaja. Menurut penelusuran Fajar, para pelaku tawuran sering membeli jimat untuk lari cepat, kebal, penghilang jejak dan kodam singa.

Di saat bersamaan, penyewa atau penyedia jasa ‘pasukan’ untuk tawuran juga menjadi bisnis lumrah dalam fenomena tawuran masa kini. Penyewa jasa pasukan tawuran bisa bermacam-macam latar belakang, mulai dari pelajar, politisi, pengusaha, teroris, hingga bandar narkoba. Motif dan modusnya beragam, sudah jelas ada pihak-pihak yang berkepentingan melestarikan kekerasan.

Baca Juga  Generasi Muda Perlu Menginovasi Partai Politik

Dengan demikian fenomena tawuran perlu diteliti lebih dalam, sistemik dan struktural. Berangkat dari kompleksitas tersebut, permasalah tawuran sudah dipastikan tidak bisa diselesaikan hanya dengan seminar dan ceramah yang membosankan.

 

 

*Tulisan ini telah dipublikasikan Kumparan.com dengan judul “Saat Tawuran Remaja Menjadi Hobi dan Bisnis”.


Bagikan