7   +   6   =  
Bagikan

Saya tiba-tiba teringat pepatah dari Henric Frederic Amiel, seorang filsuf moral berkebangsaan Swiss,  menurutnya dalam kesehatan terdapat kebebasan, kesehatan adalah hal penting pertama dalam semua kebebasan.

Menurut saya kesehatan mental adalah kondisi batin manusia yang bisa mempengaruhi perilaku dan emosi. memang penyebabnya tidak terlihat secara fisik, akan tetapi dapat dirasakan bagi pelaku dan orang terdekatnya dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana nih teman – teman gen z, apakah kesehatan mentalmu sedang baik-baik saja?

“Dalam kesehatan terdapat kebebasan, kesehatan adalah hal penting pertama dalam semua kebebasan.”  Henric Frederic Amiel

Di era digital ini, cukup sulit memahami cara pandang perilaku Gen Z. Saya yang juga merupakan Gen Z pun, dengan tulisan saya kali ini juga harus melewati kalibrasi emosi. Dimana badan harus berproses secara cepat ketika perasaan dan kondisi hati tidak saling beriringan.

Hal ini mengganggu untuk beraktivitas ataupun sekedar memberi senyuman. Sangat jelas, hal-hal sepele bisa menyebabkan seseorang menjadi terhambat.

Pertanyaannya kemudian, apakah kesehatan mental Gen Z untuk menjemput bonus demografi sudah dipersiapkan? Persoalan inilah perlu dijawab bersama,  sebelum kemudian kita melihat sejauh mana kesehatan mental mengancam perilaku dan kesehatan Gen Z.

Masalah mental adalah masalah kita bersama

Menurut Regis Machdy, dalam Loving The Wounded Soul (2019), Terkadang juga, orang-orang dengan depresi tidak ingin membuat sahabat dan keluarganya khawatir sehingga ia berpura-pura baik-baik saja dan menunjukan bahwa depresinya telah selesai.

Menyelam lebih dalam, isu kesehatan mental ini adalah masalah yang cukup serius. Sejauh Penelusuran tagar #depressed di Instagram menghasilkan lebih dari 12 juta postingan.

Banyak sekali yang mengklaim dirinya sedang mengalami depresi dengan cara memposting gif hitam- putih dan bertuliskan “aku ingin pergi selamanya”. Beberapa diantaranya banyak yang mempunyai hasrat untuk meyakiti diri sendiri.

Baca Juga  Gaya Hidup Anak Muda

Penyakit mental yang sering menghantui Gen Z mulai dari rasa takut, was-was, kepanikan, kepikiran hal-hal yang belum terjadi, trauma, depresi, dan sebagainya.

Akibat dari perasaan yang tidak tenang, banyak anak muda pergi ke pskiater untuk berkonsultasi dan sebagian lainya berkumpul dengan komunitas untuk  meringankan penderita gangguan mental dengan cara saling berbagi sekaligus memberi dukungan.

Beberapa anak muda lainya, tidak memiliki bantuan profesional kesehatan mental karena persoalan akses maupun finasial. Mereka meluapkan rasa frustasi mereka di media sosial, semakin liar, tak terkendali dan tanpa sadar menumpuk pengaruh negatif untuk diri sendiri maupun orang lain.

Jujur, saya sendiri pun mempunyai rasa khawatir mengenai kesehatan mental bagi kaum Gen Z. Dengan melihat kondisi Indonesia sekarang ini, rasa kekhawatiran makin bertambah dan ada rasa ancaman tersendiri dalam menghadapi persaingan dan masa depan.

Jangan menertawakan penyakit mental, pemerintah  jangan terlalu lalai

Jadi, adakah hubungan antara kesehatan mental dengan pemerintah? Tentu ada. Kesehatan mental bisa disebabkan dari faktor eksternal dan internal.

Faktor internal lebih terkait pada hal – hal yang berasal dari dalam diri sendiri seperti: faktor genetik atau adanya riwayat pengidap gangguan mental dalam keluarga, kekerasan dalam keluarga atau pelecehan lainnya, ketidaksiapan bersaing karena tidak ada dukungan orang terdekat, tidak terbiasa atau dibiasakan beradaptasi dilingkungan yang baru.

Sementara itu, faktor eksternal yang dimaksud seperti intimidasi, kesenjangan sosial, bullying di  media sosial, dan pengaruh lingkungan yang buruk bagi tumbuh kembang Gen Z.

Dari kedua faktor tersebut, pemerintah seharusnya mempunyai andil yang besar untuk memberikan solusi untuk mengurai masalah-masalah mental dikalangan generasi penerus bangsa. Karena masalah kesehatan metal bukan lagi cuma hisapan jempol belaka.

Baca Juga  Sudahkah Pemuda Merdeka dengan Program Merdeka Belajar?

Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukan, pada tahun 2018 sebanyak 282.654 rumah tangga atau 0,67 persen masyarakat di Indonesia yang mengalami psikosis. Angka ini meningkat sebesar 9,8% persen dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6 persen.

Fakta lainnya, kerugian ekonomi akibat masalah kesehatan mental pada tahun 2007 adalah sebesar dua puluh triliun . Maka dari itu, ini bukan masalah yang dapat disepelekan dan diabaikan tanpa rasa dosa.

Untuk menangani hal ini, peran pemerintah sangat dibutuhkan kehadirannya. Terutama dalam memberi ketersediaan sarana dan prasarana, seperti respon sosial, pelatihan personil dalam intervensi sosial dan psikologis yang diperlukan.

Hal ini dibutuhkan kolaborasi antar LSM lokal, tokoh masyarakat dan media, pelayanan kesehatan primer, akses pelayanan yang mudah dan ramah bagi semua kalangan, majelis ilmu agama atau ruang sharing dan monitoring yang berkelanjutan.

Dengan demikian pengetahuan dan partisipasi aktif pemerintah sangat dibutuhkan warga negara khususnya Gen Z, karena dengan peran seluruh masyarakat dan pemerintah kita bisa menurunkan angka kasus gangguan mental, dan mendapatkan hasil karya luar biasa dari generasi yang sehat dan bersahaja.


Bagikan