6   +   5   =  
Bagikan

Indonesia sedang berupaya memanfaatkan dan mengelola bonus demografi dengan mengoptimalisasi ledakan usia produktif untuk memompa pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah, swasta dan masyarakat sipil berlomba-lomba mempersiapkan agenda dan program yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia berkualitas.

Pada tahun 2020-2045, diperkirakan bahwa angka penduduk usia produktif akan mencapai 70 persen, sedangkan penduduk dengan usia tidak produktif hanya sekitar 30 persen dari total seluruh penduduk Indonesia.

Tata kelola sumber daya manusia, khususnya pada sumber daya pemuda : generasi z dan generasi milenial menjadi kunci keberhasilan bagi Indonesia menuju negara maju.

Memasuki puncak demografi pada tahun 2028-2031, Indonesia akan memasuki era aging population karena usia lanjut meningkat cukup pesat dengan dependensi ration 53,3 persen pada tahun 2045.

Momentum aging population hanya persoalan waktu dan pasti akan terjadi. Ini perlu menjadi perhatian bersama bagi stakeholder sejak dini. Karena generasi x, generasi milenial dan generasi Z yang menjadi “tenaga kerja” utama bonus demografi pada masanya juga akan pensiun.

Fase penuaan tenaga kerja tentunya menjadi masalah besar bagi Indonesia jika bangsa ini tidak banyak menerima manfaat dari bonus demografi dan tidak mempersiapkan para “calon pensiunan” tersebut untuk siap menjalani masa lansia dengan tangguh.

Maka, bagian strategis untuk mengantipasi aging population menjadi tragedi depresi demografi, perlu dipersiapkan dengan membangun kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat sipil (public-private-people partnership).

Caranya adalah menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan populasi yang lebih tua hari ini, terutama lansia yang terabaikan oleh keluarganya. Selain itu, merespon tren dengan mempertimbangkan karakteristik, perilaku dan harapan generasi muda hari ini agar mempersiapkan diri menjalani masa lansia

Habis Muda, Terbitlah Lansia

Manusia Indonesia akan memasuki era yang belum pernah terjadi dalam sejarah perjalanan bangsa: Bonus demografi yang disertai ledakan lansia setelahnya. Situasi ini jelas berdampak pada dimensi ekonomi, politik dan sosial.

Baca Juga  Jangan Tanyakan Apa yang Kau Berikan Kepada Perusahaan Tapi Tanyakan Apa yang Perusahaan Berikan Kepada Hidupmu?

Populasi yang menua akan membawa konsekuensi yang harus dihadapi oleh pemerintahan di masa depan: bisa positif-bisa negatif. Setidaknya ada empat yang utama yang dihasilkan dari aging population: penurunan populasi usia produktif, peningkatan biaya perawatan kesehatan, peningkatan rasio ketergantungan, dan perubahan struktur ekonomi.

Dengan meningkatnya populasi yang menua nanti, sejak muda sebaiknya kita mulai sadar untuk melihat bagaimana sistem pensiun, jaminan sosial dan pelayanan lasia saat ini. Bila semua berjalan buruk, publik perlu mengoreksinya, demi menjamin kualitas hidup kita di masa lansia.

Untuk mencerminkan kondisi buruk lansia di Indonesia saat ini, kita dapat merujuk salah satu data BPS terkait status orang tua atau nenek-kakek kita sekarang. Menurut data BPS, angka lansia mencapai 20,5 juta jiwa: dengan lansia yang terlantar 2,1 juta dan yang berpotensi terlantar sebanyak 1,8 juta.

Bila ini tidak tertangani dengan baik, coba bayangkan, bagaimana nasib generasi muda setelah momentum bonus demografi berakhir? Atau yang lebih parahnya bonus demografi bahkan tidak berhasil dimanfaatkan dengan baik? ironisnya, tanpa program konkret dari pemerintah, glorifikasi atas generasi milenial ternyata hanya menjadikan mereka sebagai lansia yang terlantar di masa mendatang. Ini jelas-jelas berbahaya.

Masa depan harus dipersiapkan sekarang!

Masalah-masalah yang dihadapi lansia sekarang, mungkin akan dihadapi oleh generasi muda 30 sampai 40 tahun mendatang. Maka, jika masa tua tidak dipersiapkan sejak muda, sudah dipastikan secara signifikan hal tersebut dapat merusak standar hidup kita saat menjadi lansia nanti.

Karena generasi milenial menurut survey dari GoBangkingRates, merupakan generasi paling boros jika dibandingkan dengan generasi lainnya. Disaat yang sama, Rumah123 melalui surveynya, memprediksi bahwa 95 persen generasi milenial berpotensi menjadi gelandangan karena gaya hidup yang boros dan kenaikan rumah yang sangat tinggi. Ini mengerikan, saat tua kita akan hidup dimana dan bagaimana?

Baca Juga  Pembangunan Keluarga Muda di Era Industri 4.0

Untuk mencegah bencana tersebut di level individu, sebenarnya secara pribadi generasi muda dapat mempersiapkan hari tua sejak dini, dengan memulai pola hidup sehat dan hemat sebagai investasi hari tua. Jadi saat muda jangan hura-hura, agar tidak menjadi lansia yang mati gaya.

Pada level komunitas, kita sebagai anak muda dapat meminimalisir dampak buruk aging population, dengan berpartisipasi, mengawasi, dan mengevaluasi kinerja pemerintah maupun swasta dalam melayani para lansia hari ini. Karena bagaimanapun juga, perbaikan pelayanan terhadap lansia hari ini, merupakan jaminan bagi generasi muda untuk mendapatkan pelayanan berkualitas di masa depan.

 

 

*Tulisan ini telah dipublikasi oleh Kumparan.com dengan judul “Kejutan Aging Population: Muda Hura-Hura, Pas Lansia Mati Gaya!”


Bagikan