6   +   7   =  
Bagikan

Untuk para pemudi-pemuda, iya kamu kamu yang sedang buka wargamuda.com yang keren ini, udah akrab kan dengan istilah generasi milenial? Nah untuk artikel kali ini kita bahas sebenarnya siapa sih yang disebut generasi milenial, dan membongkar label-label negatif yang coba dilekatkan pada kita semua yang milenial ini. Yuk kita mulai dengan definisi generasi milenial menurut teori generasi.

William Strauss dan Neil Howe secara luas dianggap  sebagai pencetus penamaan Milenial. Mereka menciptakan istilah ini pada tahun 1987. Mereka menulis tentang kelompok ini dalam buku-buku mereka Generations: The History of America’s Future Generations, 1584 to 2069 (1991) dan Millennials Rising: The Next Great Generation (2000). Ahli demografi William Straus and Neil Howe mendefinisikan Milenial adalah yang lahir antara tahun  1982–2004.

Karakter generasi milenial ini sebenarnya adaptif. Di era 1980 hingga penghujung 2010, kita disajikan perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat bergerak. Internet yang muncul sebagai revolusi dunia teknologi, salah satu part sejarahnya adalah munculnya www atau world wide web di tahun 1989 dan pada tahun 1993 muncul website di banyak belahan dunia (Yuhefizar, 2008:  5-6). Perkembangan teknologi informasi juga memengaruhi telekomunikasi, di mana handphone atau telepon genggam terus berkembang menuju smartphone atau telepon pintar yang di dalamnya sudah dilengkapi teknologi informasi terbaru.

Generasi milenial adalah generasi yang secara diakronik (antar waktu) menjalani perkembangan pesat teknologi informasi tersebut. Hal ini kemudian yang melekatkan identitas high-tech pada generasi milenial. Generasi gadget juga menjadi nama lain atas fenomena arus perkembangan teknologi informasi tersebut. Hal tersebut juga berimplikasi pada proses pendewasaan yang berbeda dari generasi X yang canggung ketika menggunakan teknologi informasi terbaru (jika bukan seorang teknisi pencipta teknologi tersebut).

Baca Juga  Tips Keuangan bagi Pekerja Serabutan di Tengah Pandemi

Lalu apa saja karakter yang membentuk generasi milenial akibat perkembangan teknologi informasi tersebut?

Optimis

Generasi milenial merupakan generasi yang optimis. Kehadiran teknologi yang terus menerus membantu dan mempermudah hidup di era 2000an membuat generasi milenial selalu merasa akan dapat meraih apa yang dicitakan. Seperti pendapat generasi Baby Boomers dan generasi X, bahwa generasi milenial hidup jauh lebih mudah, terutama untuk akses pendidikan lewat Dewa bernama Google. Hal tersebut berimplikasi pada optimisme generasi milenial pada tujuan dan karirnya.

Generasi milenial juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi ketika berhadapan dengan generasi sebelumnya berkaitan dengan gagasan gagasan pembaharu. Generasi milenial tidak canggung atas hirarki umur dalam dunia pekerjaan. Tidak heran, Mark Zuckerberg berkejar kejaran dengan seniornya, Bill Gates dalam merancang dan meriah keuntungan dari dunia Internet. Hal ini tentu berlawanan dengan label negatif bahwa generasi ini pemalas dan pesimis terhadap masa depannya.

Terbuka akan banyaknya pemikiran

Karakter berikutnya adalah terbuka. Menjadi hal yang wajar, pada era penjelajahan period sejarah 1500-1800, penduduk di pesisir menjadi penduduk yang berkarakter terbuka dan menerima perubahan secara cepat, dibandingkan penduduk pegunungan. Akses terhadap dunia luar membuat penduduk dunia di bagian pesisir lebih cepat berganti sistem kepercayaan (Kristen, Buddha, dan Islam) dan sistem perekonomian (kapitalis dari sebelumnya merkantilis).

Hal ini juga terjadi pada generasi milenial, generasi yang dekat sekali dengan akses Internet membuat generasi ini sangat terbuka dengan perubahan. Generasi milenial mulai mengangkat isu-isu minoritas seperti Ateisme, LGBT, Tidak menikah, dan penindasan kelas. Generasi ini kerapkali berdialektika dengan generasi sebelumnya mengenai ide-ide pembaruan dunia. Generasi milenial juga bersedia menerima saran dan kritik mengenai kekeliruan diri mereka, karena mereka sangat menyukai dialektika, terutama di media sosial.

Baca Juga  Apakah Indonesia akan krisis Ekonomi karena Corona?

Mendukung kesetaraan

Seperti yang dibahas di poin terbuka, generasi milenial mendukung kesetaraan lewat gerakan aktivisme gaya baru. Gerakan one click one change hampir menyeluruh di dunia. Perubahan sebuah struktur negara, seperti Mesir atau Al Jazair difasilitasi oleh Twitter. Isu isu perempuan, LGBT, pernikahan, tidak beragama, menolak atau mendukung kapitalisme seolah bukan lagi tembok besar yang membatasi mereka memandang dunia.

Robohnya paham-paham tua yang menghegemoni persoalan sensitif disebabkan lagi lagi oleh arus informasi di dunia maya. Generasi milenial lebih akrab dengan bacaan ebook, website, dan sarana dari internet untuk menemukan apa yang mereka sebut kebenaran dan keadilan. Wajar, generasi milenial kerapkali berkeras kepala ketika melawan pemikiran tua yang mendukung ketimpangan di masyarakat. Perilaku ini tentu membantah label negatif sebagai generasi egois yang hanya memilikirkan follower instagramnya.

Cekatan

Generasi milenial merupakan generasi yang cekatan dalam melakukan setiap kegiatannya. Sekolah, kuliah, bekerja lebih didasari oleh keinginan. Tidak heran label negatif berganti ganti pekerjaan dilekatkan oleh generasi sebelumnya pada generasi high-tech ini. Sebab, kecenderungan menyukai pekerjaan dan meninggalkan zona nyaman menjadi alasan mereka berpindah dari satu profesi menuju profesi lain.

Akan tetapi, perlu menjadi catatan. Gonta ganti pekerjaan bukan akibat dari tidak cekatannya generasi ini. Justru, menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, menjadikan mereka dapat meninggalkan pekerjaan tersebut menuju tempat atau jenis pekerjaan lain dengan profesionalitas. Saking cekatannya, banyak juga yang mampu melakukan double bahkan triple job dalam hidupnya. Stigma tidak profesional tidak dapat dibuktikan secara menyeluruh di generasi milenial.

Ke empat karakter itu bukan hasil rekaan, namun hasil pembacaan tulisan Michelle Healy, dalam USA Today yang ia tulis di tahun 2012. Penambahan dan koreksi tetap dilakukan demi menvalidasi ulang pendapatnya mengenai generasi milenial. Di akhir tulisan ini, kita mau kasih kesimpulan kalau generasi milenial sama positifnya dengan generasi sebelumnya. Sama negatifnya dengan generasi sebelumnya. Yang menjadi kelebihan utamanya adalah determinasi generasi milenial untuk bergerak maju ke tujuannya. Dukungan teknologi informasi tentu mempermudah, namun jika tidak beradaptasi, generasi milenial tentu tidak memiliki perbedaan signifikan dengan generasi X dan Baby Boomers.

 

Baca Juga  Anak Muda adalah Konstruksi Sosial

Bagikan