10   +   6   =  
Bagikan

Gaya Hidup Anak Muda-Warga Muda

Menjadi anak muda masa kini, berarti siap untuk mencari jati diri dan unjuk gigi. Anak muda tidak hanya sekedar hidup untuk memenuhi kebutuhan biologis semata.

Mereka hidup mencari dan memberikan makna pada  setiap sedi kehidupannya. Kebutuhan biologis, pada perjalanannya bukan hanya bersifat fungsional tetap juga kultural, spiritual bahkan politis.

Sebagai contohnya adalah pakaian,  asalnya pakaian hanya   berfungsi untuk melindung tumbuh dari sengatan sinar matahari, dinginnya cuaca atau rintik hujan. Namun, zaman terus bergerak,  pakaian memiliki nilai dari sekedar nilai guna.

Pakaian telah memiliki fungsi simbolik yang mencerminkan strata sosial bahkan sikap politik tertentu di tengah pergaulan anak muda.

Hanya dari pakaian, muncul ekosistem gaya hidup yang menata perilaku anak muda hari ini. Seperti cara bergaul, cara berfikir, cara berbicara, bahkan cara bertindak.

Belum lagi jika kita bicara makanan, otomotif, dan lainnya yang juga memiliki ekosistem gaya hidupnya masing-masing.

Semakin kesini, gaya hidup  makin melekat dengan kehidupan anak muda. Bayangkan saja, di era multimedia yang banyak menawarkan refrensi gaya hidup dari berbagai belahan dunia.

Anak muda makin kelimpungan menentukan pilihan untuk menjadi apa dan siapa. Karena anak muda digempur tren gaya hidup yang tak pernah selesai.

Anak muda  ingin selalu  tampil berbeda, mereka ingin  membuat perbedaan diri dari anggota keluarga, komunitas dan masyarakat pada umumnya, dengan cara terus-menerus mengonsumsi tren kebudayaan populer agar tidak dihakimi sebagai “anak jadul”.

Sembari berusaha menjadi otentik. Mereka mencoba melawan arus penyeragaman dan berharap menemukan cara untuk memberikan makna kepada kehidupannya, ketimbang mempersulit diri mencari hakekat hidup ala filsuf Yunani.

Baca Juga  Cara Memahami Politik Pemuda

Bergaya jalani hidup

Gaya hidup merupakan mekanisme kultural kompleks yang sangat mempengaruhi mindset dan mental set  pada segala aspek kehidupan anak muda.

Kehidupan keseharian anak muda dengan berbagai dinamika yang mereka hadapi, selalu memiliki potensi mengubah gaya hidup seorang anak muda, tujuannya untuk mengintergrasikan dirinya dengan ekosistem kebudayaan dari komunitas tertentu yang ingin mereka masuki.

Karena pada akhirnya gaya hidup sangat terkait dengan pemosisian sosial (social positioning).

Maksudnya, melalui gaya hidup, anak muda dapat menunjukan dirinya secara sosial, memilah nilai dan norma masyarakat, mengindentifikasi jaringan-jaringan sosial, menyamakan diri dengan imajinasi komunitas yang dianut, dan membedakan diri dari komunitas lainnya.

Gaya hidup mendorong anak muda untuk memanisfestasikan citra diri dengan barang-barang yang mereka konsumsi, miliki, pinjam dan dipamerkan.

Anak muda berharap orang lain dapat mengenali citra diri mereka melalui produk yang digunakan seperti motor, mobil, gawai, game,  pakaian, celana, sepatu, topi, buku, musik, makanan, bahkan hingga pilihan liburan yang dapat menunjang citra diri secara kultural.

Singkatnya, diabad ini, “tampilan” mengelabui “kebenaran”,  yang membuat jati diri anak muda ditunjukan atau ditentukan oleh “apa yang dikonsumsinya” bukan “apa yang dipikirkannya”.


Bagikan