8   +   6   =  
Bagikan

Dear Masa Depan, – Wargamuda.com

Saya kembali teringat dengan buku What to Do When Machines Do Everthing (2017) karya Malcoml Frank, Paul Roehrig dan Ben Pring, mereka adalah para pemimpin Conignizan’s Center for the  Future of Work dan mereka bertiga selalu berurusan dengan  agenda-agenda masa depan.

Mereka memulai pertanyaan cukup serius di awal bukunya, “jika mesin dapat melakukan semuanya, lalu bagaimana manusia bisa mencari nafkah? Bahkan ketika anda sudah mencapai tahapan di mana anda merasa aman dari kemunculan mesin-mesin baru ini, bagaimana anak-anak Anda akan bertahan nantinya ketika komputer lebih pintar, lebih produktif dan lebih berhasil dari mereka? Apa yang akan mereka pelajari? Di mana fokus mereka berada? Dan apakah mereka akan memiliki kesempatan untuk memiliki hidup sebaik yang anda miliki?”. Suka tidak suka, ini tetap terjadi dan kita harus mampu menjawab pertanyaan mereka.

Nyatanya tanpa perlu menunggu lama, kecerdasan Buatan (KB) ini telah berperan besar bagi kehidupan kita, membuat hari-hari kita menjadi lebih baik, lebih mudah,  lebih bahagia seringkali juga lebih menderita.

Ketika kita mulai terbiasa menggunakannya, layaknya udara, kita mulai berhenti memikirkan KB, ia tumbuh dalam alam bawah sadar kita. Hanya dalam waktu singkat, mesin-mesin ini sudah sedekat urat nadi kita. Tanpa sadar, kita telah menjelma menjadi cyborg, manusia setengah robot, yang tidak bisa hidup tanpa teknologi di luar maupun di dalam rumah.

Berubah-ubah atau dirubah-rubah?

Persoalannya, kita mau berubah atau dirubah? Itu bukan pilihan. Kita sedang digiring menuju era yang baru, sebuah era yang akan mengubah sifat alamiah pekerjaan, perjuangan, perilaku, tentunya juga sistem dari pemerintahan dan perusahaan.

Karena di Silicon Valley, ada begitu banyak pemikir hebat, mereka masih muda, setia mengurusi ide-ide kecil dengan menggunakan teknologi untuk mentransformasikan bagaimana kita dididik, diberi makan, dipindahkan, diasuransikan, diobati, diatur dan dikendalikan.

Baca Juga  Hanya 4 Persen Representasi Politik Anak Muda di DPR RI

Saat ini, perubahan muncul dari hal-hal kecil yang dekat dengan kita, bukan dari hal-hal besar dan jauh dari jangkauan kita. Ironisnya kita terlalu senang berbicara hal besar, tanpa memulai langkah kecil.

Perubahan, baik atau buruk, tidak memerlukan ijin kita, mereka bahkan datang tanpa memberi peringatan. Ini membuat kita semakin bingung, karena banyak dari kita masih belum tahu apakah revolusi Industri Keempat ini merupakan hal yang baik atau buruk.

Semuanya terasa seperti mimpi indah bagi seorang kapitalis, tetapi menjadi mimpi buruk bagi kelas  pekerja. Ketidakjelasan ini menciptakan rasa khawatir pada level personal bahkan spritual, dimana banyak dari kita tak tahu apa yang harus dilakukan ke depan dan sekarang.

Ramalan masa depan suram 

Saya sering kali menemukan, beberapa yang mendaku diri sebagai aktivis  hanya melihat sisi gelap dari transisi industri 4.0 ini.   Gejala ini, menurut Malcoml Frank disebabkan oleh judul-judul berita online yang telah “meramalkan” sebuah masa depan yang suram tentang “ekonomi tanpa pekerjaan” seiring robot merebut lapangan pekerjaan manusia.

Sentimen negatif tak akan mampu mencegah perubahan. Sama seperti tiga revolusi sebelumnya, revolusi ini akan menggulung mereka yang hanya menonton dan melihat, dan memberikan prospek dan kekayaan yang berlimpah bagi mereka yang mulai belajar cara memanfaatkan mesin-mesin baru menuju samudra biru.

Tapi saya harus jujur, relasi kuasa antara yang berkuasa dengan yang dikuasai mungkin saja tidak banyak berubah. Oligarki masih berjaya, tapi sedikit lebih mudah dijinakan.

Saya percaya, ini zona lesu bukan zona santuy! Sebagaimana kata Malcolm Frank, Kita sedang berada pada sebuah zona lesu ekonomi (stall zone) dimana revolusi industri ketiga sedang kehabisan bahan bakar, sementara industri keempat belum memegang kendali secara keseluruhan.

Dan otomatisasi adalah tahap pertama dari sebuah perjalanan yang disebut Joseph Schumpeter sebagai “penghancuran kreatif” yang dimana ada tendensi perubahan industri untuk menghancurkan struktur ekonomi lama dan  menciptakan struktur ekonomi baru dari dalam.

Baca Juga  Demonstrasi Asik ala Gen Z

Semua orang takut dengan ketidakpastian.

Mari menjelajah masa lalu, agar tidak terjebak nostalgia. Di awal 1800-an, selama revolusi pertama, para Luddites di sebelah barat daya Inggris merespon masuknya mesin tenun dengan menghancurkan mesin-mesin tersebut. Mereka menyadari bahwa pekerjaan tekstil mereka berada dalam ancaman. Ternyata, mereka benar: mesin-mesin ini mengambil pekerjaan mereka. Lalu, hal yang sama terjadi di ranah agrikultur.

Ketika para luddites merusakin mesin tenun, 80 % dari pekerja  AS berada di ladang. Sedangkan, di hari ini, hanya tinggal 2% yang tetap bertani. Lalu kemana 78% orang lainnya? Nyatanya, mereka tetap bekerja dengan jenis pekerjaan benar-benar baru, yang bahkan belum terbayangkan oleh kaum luddites pada masa lalu.

Manusia telah mengkhawatirkan kehadiran “mesin-mesin baru” dan efeknya pada kondisi selama berabad-abad. Yang berubah hanya mesinnya: kekhawatirannya tetap sama dan pekerjaan baru selalu ada.

Malcoml Frank, memberikan ilustrasi yang menarik. Menurutnya, ketenaran Ronaldo dan prospek industri olahraga di seluruh dunia berawal dari mesin pemotong rumput pertama ciptaan Budding pada 1827.  Pada tahun itu, tidak ada yang membayangkan dari lapangan rumput yang tertata  akan menjadi pondasi bagi industri yang luar biasa menguntungkan, termasuk penciptanya sendiri, Budding penemu alat pemotong rumput.

Sekarang kita menghadapi hal serupa, kehadiran mesin-mesin cerdas telah menjadi pondasi bagi industri 4.0 dan pekerjaan baru yang sedang dan akan dibangun, ini menciptakan budding effek, sebuah perjaan masa depan yang tak bisa kita bayangkan hari ini. Sebagai mana pada tahun 15 tahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan akan ada pekerjaan sebagai social media specialist yang digaji bulanan.

Salah satu contoh tersebut menunjukan, bahwa kita sedang berada pada masa yang hebat, dimana teknologi secara signifikan memperluas kabilitas manusia. Sistem-sistem cerdas ini memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan hal-hal dengan lebih produktif dan bermanfaat yang bahkan pada sepuluh tahun lalu dianggap ide gila.

Baca Juga  Megatren Global dan Ancaman Irelevansi Generasi Muda!

Belajar pragmatis

Bagi Malcoml Frank, kini banyak kritikus yang langsung mempertanyakan, “Berapa banyak pekerjaan yang akan dihancurkan mesin ini?” Padahal pertanyaan yang sebenarnya adalah tentang “Apa yang bisa diperbaiki oleh teknologi ini?” Jawabannya adalah “Luar biasa banyak!”. Pertanyaan berbeda, akan mendapatkan jawaban berbeda. Jawaban berbeda akan menghasilkan tindakan yang berbeda. Sebenarnya, ini soal posisi keberpihakan dan perspektif saja.

Memang, menurut Malcoml Frank, banyak jutaan pekerjaan seiring berjalan akan tersingkir karena otomatisasi, tetapi tidak dalam kecepatan atau skala yang akan menimbulkan  dislokasi sosial sebagaimana ditakutkan banyak orang.

Dari pengamatan Malcoml Frank, sekitar 12% dari pekerjaan yang sudah ada sekarang akan menghadapi risiko diambil oleh sistem kecerdasan (Otomatisasi pekerjaan). sekitar 75% dari pekerjaan yang sudah ada akan digantikan atau diperkuat oleh bot (Peningkatan pekerjaan). 13% pekerjaan baru akan diciptakan seiring diciptakannya kesempatan pendapatan dan/ atau kategori pekerjaan yang baru (Penciptaan pekerjaan). Dan, 20% porsi kerjaan rutin, repetitif dan  membosankan akan diambil alih oleh mesin (Memuliakan pekerja).

Saya tidak mau menjadi dystopians seperti Stephen Hawking yang takut dengan teknologi yang mengancam eksistensi manusia atau berpihak pada kubu utopians Ray Kurzweil yang menganggap semua masalah manusia dapat diselesaikan dengan teknologi.

Untuk hal ini saya cenderung pragmatis, sebagaimana Steve Wozniak, teknologi dan masa depan bisa menjadi hebat jika kita membuat keputusan yang praktis, pintar dan bermanfaat. Cara ini, yang membuat kita melangkah, selalu memperbaiki diri, berinovasi dan berfantasi.

 

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development.


Bagikan