1   +   4   =  
Bagikan

COVID 19 Dan Realita Mahasiswa- Warga Muda

Ditengah pandemi saat ini hashtag #NadiemManaMahasiswaMerana menjadi trending di media sosial Twitter, pasalnya banyak mahasiswa melakukan aksi protes yang dilakukan oleh Kemendikbud atas UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang tidak adanya keringanan dari PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Menurut sumber suara.com, Rabu (3/6/2020), tagar #NadiemManaMahasiswaMerana masuk dalam daftar trending topic di twitter. Hingga Rabu siang yang setidaknya ada lebih dari 16 ribu cuitan menggunakan tagar tersebut.

Mahasiswa melakukan aksi protesnya karna bentuk kekecewaan mereka terhadap Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Budaya) yakni Nadiem Makarim yang dianggap tidak cepat tanggap dengan adanya kebijakan untuk membantu mahasiswa dalam melakukan aktivitas perkuliahan ditengah pendemi covid-19 saat ini.

Bentuk fasilitas yang diberikan oleh kampus-kampus banyak yang tidak sesuai harapan, mulai dari perkuliahan daring online mahasiswa harus memiliki kuota yang memadai sedangkan kampus tidak memberikan paket kuota ke mahasiswanya, akan tetapi UKT (Uang Kuliah Tunggal) harus tetap jalan mulus tanpa hambatan.

Mahasiswa mengaku keberatan jika sikap kampus yang tidak memberikan keringanan ditengah pendemi covid-19 saat ini. Banyak dari para mahasiswa yang orang tuanya mengalami kesusahan ekonomi akibat pendemi ini. Ditengah pendemi saat ini proses aktivitas kampus serba sulit. Ujian Komprehensif, Magang dipersulit oleh pihak kampus.

Oeee bapak Nadiem dengar aspirasi dari kami ini! Kemanakah anda di saat kami membutuhkan anda! #NadiemManaMahasiswaMerana” kata @stwann08.

Bagi mahasiswa akhir semester 6, kuliah di masa pandemi itu menyesakkan karena sudah kuliah online, KKN online, magang tidak tahu bagaimana kabarnya, ditambah dengan adanya pembiayaan UKT untuk semester 7 depan, mahasiswa menjadi sengsara karena tidak adanya pengurangan UKT,” kata @jerrysetiiawann.

Baca Juga  Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria : Institusi Pendidikan Harus Paham Bonus Demografi!

“Generasi Millenial sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja situnya kemana.#NadiemBelumMendengar#NadiemManaMahasiswaMerana.”Kata @BayuDe5

“Keterlaluan. Dikala Pandemi ini, Kemendikbud masih saja tak memikirkan nasib pelajar/mahasiswa. Dalam terbitan surat ini, saya menaruh curiga #NadiemMendengar tapi salah denger atau tak peduli sama sekali.” Kata @NombreGinola

Cuitan diatas merupakan seruan aksi media dari para mahasiswa untuk menyuarakan suara mereka melalui media sosial ditengah pandemi saat ini. Ditengah pandemi saat ini, pemerintah memang sedang berusaha semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat mengahadapi pandemi ini. Tetapi masyarakat lagi-lagi mengeluhkan proses kerja pemerintah tidak dapat menangani wabah yang terjadi saat ini.

Belum selesai dengan para pasien yang berjatuhan sudah membuat para mahasiswa kelimpungan harus membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal). Bahkan ada kabar tak sedap jika dikala pandemi saat inipun mahasiswa yang tidak memiliki uang lebih untuk membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) harus rela melepas status mahasiswa akibat faktor ekonomi keluarga yang tidak sanggup membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Sama halnya dengan kasus yang dibekasi, mahasiswa Bekasi menuntut keadilan mereka ditengah pandemi saat ini. Dikutip dari Wartakotalive, Koordinator aksi yakni Reza Nur Pahlevi mengatakan pemuda dan mahasiswa se-Kota Bekasi bersepakat menuntut biaya kuliah. “kami minta tuntutan itu biaya kuliah dibebaskan karena kondisi covid-19, pemkot Bekasi harus ikut andil siapkan aspirasi kam.” Kata Reza, pada Kamis (4/6/20).

Kuliah online menjadi kendala bagi para mahasiswa, sebab banyaknya dosen memberikan pembelajaran teori melalui via group, dimana belum tentu mahasiswa dapat mengerti seutuhnya. Materi kuliah yang diberikan oleh dosen menjadikan kendala tersendiri bagi mahasiswa, bahan bacaan yang belum tentu mahasiswa lainnya dapat memahami dengan mudah.

Baca Juga  Mentransformasi Politik Pelajar

Menurut firman tentang “Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19” Hal ini disebabkan oleh keterbatasan interaksi sehingga pembelajaran kurang mendalam dan bermakna. Selain ketersediaan layanan internet, tantangan lain yang harus dihadapi adalah kendala biaya. mahasiswa menyatakan bahwa untuk mengikuti pembelajaran secara online, mereka harus  mengeluarkan  biaya  lebih  untuk  membeli  kuota  data  internet.  Menurut  mahasiwa, pembelajaran yang dilaksanakan dalam bentuk konferensi video menghabiskan kuota yang sangat banyak, sementara diskusi online melalui applikasi pesan instan tidak membutuhkan banyak  kuota.

Dikutip  dari  CNN Indonesia  (2020)  konsumsi  data  untuk  video  konferensi menggunakan applikasi Zoom dengan kualitas video 720p selama satu jam menghabiskan data sebesar 540 MB. Hasil survey peneliti di beberapa situs resmi provider seluler menunjukkan harga kuota data sebesar 1 GB berkisar antara Rp. 20.000 hingga Rp. 50.000. Jika diasumsikan bahwa rata-rata mahasiswa memprogramkan 8 mata kuliah tiap semester dan masing-masing mata kuliah melaksanakan kuliah online menggunakan appllikasi konferensi video selama satu jam setiap minggu, maka mahasiswa harus menghabiskan dana antara Rp.80.000 hingga Rp. 200.000 per minggu, tergantung provider seluler yang digunakan.

Menurut Jamaluddin (2020) Dalam proses daring secara online, adanya faktor lain yang menjadi hambatan yakni terbatasnya kuota, banyaknya tugas, penguasaan IT yang masih terbatas, jaringan yang tidak stabil, telat ‘masuk’ kuliah karena tidak terbiasa menggunakan daring, jaringan yang tidak stabil karena kondisi mahasiswa yang ada di pedesaan, keterbatasan alat teknologi yang mendukung dan lain sebagainya.

Jika sudah terjadinya perpecahan pihak mahasiswa dan Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Budaya) bagaimana tanggapan Mendikbud menyikapi hal ini? Akankah harus terus menerus masyarakat maupun mahasiswa memerangi pemerintah? Rasanya tidak akan bisa masyarakat dan mahasiswa akan memerangi pemerintah. Sebab bagaimanapun proses tatanan pemerintah Indonesia akan dipegang oleh mereka elit politik yang berkuasa.

Baca Juga  Komunitas Anak Muda dapat Membantu Menghentikan Covid-19

Tak adanya kejelasan yang pasti dari Mendikbud terkait proses UKT (Uang Kuliah Tunggal) menyebabkan mahasiswa murka ditengah pandemi saat ini. Seharusnya Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Budaya) dapat memberikan solusi yang terbaik bagi mahasiswa setidaknya memberikan kemudahan dalam melakukan aktivitas perkuliahan dengan tidak menyulitkan dari segala aspek Pembayaran, mahasiswa yang ingin ujian akhir, dan magang.

 

Devita Ayu Anggarwati  adalah seorang yang menyukai dunia filsafat dan dunia Makeup beauty. Suka berorganisasi dan membangun kolaborasi untuk Indonesia Maju.


Bagikan