1   +   7   =  
Bagikan

Setiap orang pasti pernah jatuh cinta, begitupun dengan remaja. Saat jatuh cinta, remaja mengalami perubahan psikologis, salah satunya adanya dorongan hasrat membangun interaksi atau berpacaran dengan seseorang yang mereka suka, entah dengan lawan jenis atau sesama jenis.

Gaya pacaran remaja masa kini dan masa lalu sudah banyak yang berubah. Ini semua terlihat dari film-film ikonik Indonesia. Pada masa Rhoma dan Ani, setiap remaja menggunakan surat untuk mengatakan cinta. Pada masa Rangga dan Cinta, setiap kawula muda memakai telepon rumah untuk janjian bertemu. Sekarang, pada masa Arini, generasi muda mencari cinta melalui aplikasi kencan.

Era teknoseks ditandai dengan kemajuan industri 4.0. Di era ini, segala urusan percintaan dan seks difasilitasi bahkan dikontrol oleh teknologi dan algoritma. Sebagai contoh, aplikasi kencan seperti Tantan dan Tinder untuk yang heteroseksual, dan Grindr khusus bagi yang berorientasi homoseksual.

Pada konteks ini, keberadaan aplikasi Grindr membantu atau mempermudah komunitas LGBT untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, jika dibandingkan sebelum adanya teknologi ini.

Pada dasarnya, alasan generasi muda menggunakan aplikasi kencan adalah untuk mencari pasangan, namun pada kenyataannya, yang paling dinikmati pada proses ini adalah bermain aplikasi tersebut, bukan pada hasil mendapatkan pasangannya.

Maka, tidak mengherankan bagi sebagian pengguna aplikasi kencan, walaupun sudah memiliki pasangan, mereka masih aktif menggunakan aplikasi tersebut. Karena ada kesenangan tersendiri yang memuaskan hasrat dan libido mereka saat berburu pasangan di dunia digital.

Perlu diingat, algoritma pada aplikasi kencan bekerja bukan hanya secara geospasial untuk mempertemukan orang, tetapi sudah pada tahap mengetahui dan mempelajari selera penggunanya.

Dengan kemampuan ini, aplikasi kencan merekomendasikan bahkan pada level tertentu mendikte alam bahwa sadar pengguna, tentang pasangan yang dianggap paling cocok dengan pengguna. Dengan kata lain, jodoh kini di tangan algoritma dan calon istri tergantung selera algoritma bukan orang tua, bahkan diri kita sendiri.

Baca Juga  Cara Memanipulasi dan Menginspirasi Gen Z untuk bergerak serentak, Resep ampuh bagi pengurus organisasi kepemudaan!

Teknoseks dan Lika-liku Remaja Masa Kini

Teknologi membuat remaja memiliki akses mudah terhadap informasi tentang seks. Remaja Generasi Z hari ini memiliki lebih banyak informasi tentang seks daripada remaja generasi-generasi sebelumnya.

Karena teknologi dan aplikasi, batas usia antara remaja dan orang tua semakin kabur, tidak seperti era sebelumnya, yang memiliki batas tegas antara dunia remaja dengan orang tua. Remaja hari ini dapat mengonsumsi berbagai informasi orang dewasa, termasuk mengakses seks. Teknologi telah mengubah cara remaja memandang percintaan, seks, dan seksualitas.

Kemajuan teknologi berkontribusi dalam pembentukan orientasi seks dan identitas gender remaja di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Diskursus seksualitas memenuhi berbagai platform media digital yang tersedia di ponsel kita, yang secara tidak sadar ikut mendisiplinkan atau mengonstruksi perilaku seks remaja.

Teknologi membentuk bagaimana remaja mencari calon pasangan seksnya, membangun obrolan seks dengan pasangan melalui media sosial (sexting), mengirim foto atau video porno dengan ponsel di sekolah, merekam aktivitas seksual mereka, menonton video porno di rumah, terlibat dalam seks berbasis video call, terlibat dalam komunitas seks virtual, bermain game mesum yang tersedia di internet, mencari tahu referensi soal seks, membeli alat bantu seks secara online, dan lain-lainnya.

Perilaku tersebut dikarenakan konten seksual di era teknoseks telah merajalela melalui situs bahkan iklan daring. Bahkan secara jahat, memanfaatkan konten seksual untuk mengakumulasi profit, ini sering kali digunakan oleh bisnis media. Dengan demikian, harus diakui, remaja masa kini lebih banyak terpapar konten seksual jika dibandingkan dengan generasi lainnya.

Konten seksual yang dikonsumsi oleh remaja berbentuk video, foto, teks, game, hingga musik. Bahkan, di media sosial seperti Twitter, Facebook, YouTube, dan platform lainnya juga memiliki muatan sugesti seksual.

Baca Juga  Enam Cara Mengelola Relawan Masa Depan

Konten seksual di era teknoseks, diproduksi dan didistribusikan secara konsisten. Hal ini yang menyebabkan banyak remaja lebih banyak membicarakan seks secara luring maupun daring dengan teman sebayanya. Pada titik tertentu, perilaku ini mengarah pada intimidasi seksual, pelecehan, dan cyberbullying.

Pada titik yang paling ekstrem, teknologi menjadi sarana bagi predator seksual memburu mangsanya. Banyak kasus dari seluruh dunia, media sosial, game online, dan aplikasi kencan telah memudahkan predator seksual menemukan korbannya.

Hanya dengan berinteraksi sebentar untuk mendapatkan kepercayaan, mereka dapat memanipulasi remaja untuk mengirim foto atau video yang bermuatan seksual. Banyak dari kasus ini berakhir pada pemerkosaan, pemerasan, hingga korban yang melakukan bunuh diri.

Teknoseks menjadi tantangan tersendiri bagi remaja, dan tantangan terbesarnya adalah kita belum mengoreksi cara berpikir masyarakat tentang konsep seks, seksualitas, dan gender di era ini yang semakin cair dan berubah-ubah.

Dan, hanya tinggal menunggu waktu, perkembangan teknoseks menuju tahap selanjut, dari memfasilitasi percintaan hingga menggantikan posisi orang yang dicintai, sebuah era di mana manusia akan bercinta dengan robot atau artificial intelligence.

 

*Tulisan ini telah dipublikasi Kumparan.com dengan judul “Seksualitas Remaja di Era ‘Teknoseks’.


Bagikan