10   +   4   =  
Bagikan

Cara Memahami Politik Pemuda – Warga Muda

Saya sering ditanya, bagaimana cara memahami politik pemuda di Indonesia? Memang banyak yang membahas anak muda. Sayangnya, semua cara selalu jatuh pada upaya mengobjektifikasi pemuda.

Pemuda dianggap entitas yang pasif dan tunduk pada keteraturan dan struktur sosial. Padahal mereka memiliki kehendak untuk bertahan, menunda, menghindar bahkan melawan hegemoni.

Memandang anak muda dengan sebagai objek, tentunya menyisakan banyak keraguan, kritik dan tanda tanya. Karena hanya menjadikan mereka sebagai sasaran empuk “kuantifikasi” bagi partai politik, korporasi dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Saya ingatkan kembali, pemuda di Indonesia begitu beragam, mereka berinteraksi dengan lembaga-lembaga politik dengan beragam cara. Di setiap konteks berbeda, anak muda memiliki cara bereaksi dan berpartisipasi yang sering kali tidak terduga.

Jadi, kita seharusnya perlu lebih bijak dan tidak terburu-buru menyeragamkan persoalan yang dihadapi masing-masing anak muda.

Alangkah baiknya bagi kita, untuk memahami politik anak muda dengan menghitung perbedaan-perbedaan yang tumbuh di generasi muda seperti tingkat pendidikan, seks, gender, kelas, ras, agama, profesi, kelengkapan biologis, geografis dan atribusi identitas lainnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai atribusi tersebut. Saya mencoba sedikit berbagi perspektif bagaimana saya mencoba melihat dinamika politik anak muda di Indonesia.

Pertama, kita dapat mencoba memahami pola relasi politik anak muda dengan berbagai institusi politik formal maupun informal. Upaya ini dapat membantu kita untuk mengetahui bagaimana sebenarnya anak muda berpolitik dalam memperjuangkan kepentingan mereka sebagai individu maupun kolektif.

Kedua, bagaimana elemen-elemen kepemudaan yang ada dan berbeda tersebut mengidentifikasi diri maupun kelompok dalam setiap urusan publik di level mikro maupun makro. Bagi saya proses mengindentifikasi diri dan mengintergasikan diri pada ikatan kelompok merupakan proses awal dimana para pemuda ini mulai menyerap nilai, aspirasi, perilaku, imajinasi bahkan ideologi/narasi politik dari peer groupnya. Yang ingin saya katakan adalah peer group merupakan salah satu institusi politik mikro yang paling mempengaruhi cara pandang anak muda terhadap sikap politiknya.

Baca Juga  Cerita Anak Muda yang Kembali ke Bhineka Tunggal Ika

Ketiga, bagaimana kapitalisme, bapakisme, feodalisme, klientilisme, patronase, dan populisme membentuk perilaku komunitas pemuda dan gerakan kepemudaan. Karena saya melihat, bahwa anak muda tidak hadir begitu saja di ruang hampa, mereka suka tidak suka dipaksa untuk berdialetika dengan habitus dan arena politik dimana mereka hidup sekaligus memposisikan diri dalam tatanan sosial.

Kadang saya juga menggunakan analisis dari kelompok Birmingham tentang subkultur anak muda, dengan semangat Cultural Studies. Saya percaya bahwa gaya hidup, fesyen dan budaya pop merupakan cermin yang dapat membantu kita untuk melihat sikap politik dari satu komunitas anak muda.

Maka menjadi penting untuk mengetahui tentang tren, selera, gaya, dan makna yang mereka konsumsi sekaligus direproduksi pada generasinya maupun di level komunitas. Karena sebagaimana kata Talcott Parson, anak muda bukanlah kategori universal biologis, melainkan satu konstruksi sosial yang dilakukan terus-menerus.

Melengkapi Parson, saya melihat bahwa anak muda tidak hanya dibentuk oleh kostruksi sosial tetapi juga oleh dinamika bahkan struktur politik yang berubah-ubah di bawah setiap rezim tertentu.

Di sini, saya memposisikan anak muda tidak hanya sebagai kategori sosial sebagaimana Parson, tetapi lebih sebagai identitas politik yang dapat memperjuangkan dirinya sendiri sebagai “agen yang kreatif” atau dapat “didisplinkan” oleh mesin-mesin kekuasaan politik di setiap masing-masing negara.


Bagikan