2   +   1   =  
Bagikan

Hari ini setiap orang menggunakan Google, termasuk anak-anak muda di seluruh dunia. Mesin pencarian ini menjelma menjadi teman dekat bagi setiap orang, kapanpun dan di manapun.

Pada awalnya, menurut Seth Stephen-Davidowitz dalam bukunya yang berjudul “Everybody Lies”, Google diciptakan agar setiap orang bisa belajar tentang dunia, bukan supaya peneliti bisa belajar tentang manusia. Namun, ternyata jejak-jejak yang kita tinggalkan sewaktu mencari “sesuatu” di internet membongkar siapa kita sesungguhnya.

Karena kekuatan Google bukan hanya sekadar mencari informasi yang kita butuhkan, tetapi membuat kita memberi tahu mesin pencari raksasa itu hal-hal yang mungkin sangat rahasia bagi diri kita sendiri, sesuatu yang bahkan kita sembunyikan dari orang lain.

Ambil contoh dari hasil penelitian Davidowitz terkait seks. Menurutnya, survei tidak bisa dipercaya untuk memberitahu kita tentang kehidupan seks masyarakat. Argumentasi Davidowitz didasari dari analisisnya terhadap data General Social Survey, sebuah lembaga survei yang dianggap paling otoritatif untuk menjelaskan perilaku orang Amerika.

Menurut survei lembaga tersebut, ketika berbicara tentang seks, para perempuan mengatakan mereka rata-rata berhubungan seks sebanyak 55 kali pertahun dan menggunakan kondom sebanyak 1,1 miliar kondom setiap tahunnya. Sedangkan, para laki-laki mengatakan bahwa mereka menggunakan kondom 1,6 miliar setiap tahunnya.

Menurut Davidowitz, seharusnya jumlah penggunaan kondom adalah sama. Lalu dalam konteks ini, Davidowitz ingin mengetahui siapa yang berbohong, laki-laki atau perempuan?

Menariknya, Davidowitz mengatakan laki-laki maupun perempuan sama-sama berbohong. Karena, menurut Nielsen, perusahaan global yang melacak perilaku konsumen, nyatanya kondom yang terjual setiap tahun kurang dari 600 juta buah. Ini membuktikan, laki-laki sering kali melebih-lebihkan urusan seks ketimbang perempuan, namun keduanya sama-sama terbiasa berbohong.

Bagi Davidowitz, pencarian Google memberikan gambaran yang lebih akurat tentang seks. Di pencarian Google, keluhan tertinggi tentang pernikahan adalah tidak adanya hubungan seks. Begitu pun dengan pasangan yang tidak menikah lebih sering mengeluh tentang tidak adanya hubungan seks.

Baca Juga  Matinya Kepakaran dan Kegilaan Kita di Internet

Ini tercermin dari penelusuran pencarian Google mereka yang menunjukkan pencarian terkait “sexless relationship” hanya kalah dari pencarian untuk “abusive relationship”. Hal ini sesuatu yang tidak mungkin diceritakan kepada teman dekat apalagi orang asing seperti para peneliti.

Tetapi di Google, orang-orang ini dengan “terus terang” memberitahu mereka miliki masalah terkait kehidupan seksualnya. Dengan yakin, Davidowitz mengatakan pencarian Google adalah himpunan data paling penting yang pernah dikumpulkan tentang jiwa manusia.

Data pencarian Google adalah data yang paling jujur, karena pada era sebelum adanya internet, kita cenderung menyembunyikan pikiran-pikiran negatif dari orang lain. Tetapi, di era digital, kita tetap menyembunyikan pikiran itu, merasa aman menjadi akun yang anonim, tetapi di hadapan big data, jejak kita di internet tidak bisa berbohong.

Big data memungkinkan penggunanya melihat apa yang sesungguhnya orang lain inginkan dan perbuat. Bukan dari apa yang mereka katakan, yang bahkan sering kali tindakannya bertolak belakang dengan ucapannya sendiri.

Bagi Anak Muda, Berbohong itu Biasa

Anak muda selalu berbohong tentang kehidupan. Sebagai perokok dan pemabuk, anak muda menyembunyikan diri dari orang tua. Membeli obat aborsi diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga.

Meminta uang bayar sekolah ke orang tua padahal untuk nongkrong bersama teman-teman. Ada yang berpacaran dengan perempuan tetapi memiliki ketertarikan dengan laki-laki. Mengaku tidak suka pornografi tetapi lebih sering masturbasi.

Ada yang mengaku bahagia padahal menderita. Menceritakan pengalaman kelam teman padahal pengalaman sendiri. Memposisikan sebagai anak baik padahal pecandu video porno. Mengaku tidak pernah berhubungan seks tetapi rajin membeli obat kuat di internet. Mengaku masih perawan atau perjaka tetapi rutin membeli alat kontrasepsi via online.

Anak muda berbohong kepada teman, keluarga, bahkan diri mereka sendiri. Mereka berbohong pada petugas survei, karena anak muda ingin terlihat baik, bahkan meskipun survei tersebut bersifat anonim.

Baca Juga  Peringatan! Jangan Bikin Banyak Rencana di Tahun 2020 Sampai Kamu Membaca ini!

Bagi Davidowitz, faktor lain yang berperan dalam kebohongan kita pada lembaga survei adalah keinginan kuat kita untuk memberikan kesan bagus kepada orang asing yang mewawancarai kita. Misalnya, coba bayangkan, jika ada seseorang petugas survei, yang mirip orang tua atau saudara kita, apakah kita akan mengaku kepada mereka minggu kemarin kita habis bercinta dengan teman sekolah, dan sebulan lalu kita menggunakan narkoba bersama teman-teman kita?

Kemungkinan besar dalam posisi tersebut kita akan berbohong. Karena alasan ini, semakin personal kondisi yang dihadapi, anak muda akan semakin berbohong dalam memberikan informasi, menutup-menutupi, melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi fakta.

Apa yang anak muda “cari” dan “klik” di internet lebih mencerminkan perilaku mereka daripada ucapan mereka sendiri. Dalam konteks ini, kita juga patut mencurigai hasil-hasil riset lapangan dengan topik sensitif tentang anak muda atau remaja yang dilakukan di Indonesia.

Ketika “Klik” Lebih Bisa Dipercaya

Big data bisa membantu kita untuk memahami dan mengamati kecenderungan perilaku generasi muda, bahkan menggali pikiran-pikiran atau fantasi anak muda yang tidak bisa didiskusikan dengan siapapun atau tidak mungkin untuk diceritakan kepada orang lain.

Maka dari itu, kita perlu mengambil pelajaran dari Netflix: “jangan mempercayai apa yang orang katakan kepada anda, percayalah pada apa yang mereka lakukan”. Kesimpulan Netflix sangat kuat, karena semula perusahaan tersebut memberikan pelayanan pengingat kepada para penggunanya dengan membuat daftar urutan film yang ingin mereka tonton saat memiliki waktu senggang.

Pada kenyataannya, Netflix menyadari keanehan pada data mereka. Para pengguna mengisi daftar urutan dengan banyak film berselera tinggi seperti film-film dokumenter. Namun, ketika diingatkan tentang daftar film sesuai urutan, mereka tidak menontonnya. Mereka malah menonton komedi murahan atau film percintaan di luar daftar pilihannya.

Baca Juga  Dear Masa Depan, Kita Lelah Bernostalgia dan Ketakutan, Biar Mereka saja yang ketinggalan zaman!

Ini menunjukkan bahwa manusia terbiasa berbohong pada diri sendiri. Berangkat dari hal tersebut, Netflix berhenti meminta orang memberitahukan apa yang mereka inginkan, dan mulai membangun model algoritma rekomendasi berdasarkan “click” dan “view” dari pelanggannya. Sebagaimana kata Xavier Amatriain, mantan ilmuwan data Netflix, “Algoritma mengenal Anda dengan lebih baik ketimbang Anda mengenal diri sendiri.”

Pembangunan Kepemudaan Bisa Mengadopsi ‘Big Data’

Singkatnya, big data yang terakumulasi di internet sebenarnya dapat membantu dan digunakan pemerintah untuk memahami perilaku generasi sekaligus merumuskan program pembangunan sumber daya pemuda yang relevan sesuai sasaran.

Big data akan menjadi sarana strategis pemerintah untuk mengoptimalisasi kebutuhan konkret anak muda. Caranya dengan menggunakan big data untuk mengalokasikan sumber daya dan menghubungkan pemecahan masalah berbasis data.

Hal ini sangat memungkinkan melihat interkoneksi sistem sosial semakin terintegrasi secara digital yang membuat sistem ini menghasilkan sejumlah data besar yang mengarah pada wawasan baru.

Data generasi muda yang terakumulasi di internet menciptakan peluang bagi para pembuat kebijakan untuk mengatasi berbagai kendala pembangunan kepemudaan. Dengan catatan, pemerintah memiliki alat untuk mengurai dan memahami big data sebagai pondasi kebijakan publik yang lebih berkualitas.

Upaya ini dapat dimulai dengan kerja sama antara pemerintah dengan pihak swasta untuk saling berbagi data yang tersembunyi di platform masing-masing. Terutama platform OTT (over the top) lokal seperti Bukalapak, Gojek, Tokopedia, Dana, Ruang Guru, dan startup lainnya. Kolaborasi data ini bisa menjadi modal awal untuk mendorong inovasi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development. Ia dapat ditemui di Instagram @wildan.shah.

 

Tulisan ini telah dipublikasikan kumparan.com dengan judul Kala “‘Big Data’ Bongkar Kebiasaan Anak Muda Berbohong”.


Bagikan