2   +   9   =  
Bagikan

Saat saya masih SD, seringkali guru-guru saya menjelaskan bahwasanya semboyan negeri ini adalah bhineka tunggal ika. “Kita harus bangga nak, walaupun kita berasal dari banyak perbedaan namun kita bisa bersatu, kita mempunyai tujuan yang sama untuk negeri ini Indonesia !”, kurang lebih kalimat tersebut yang sering terlontar dari mulut guru-guru saya.

Karena kata-kata itu diucapkan berulang kali sampai akhirnya masuk dibawah alam sadar saya tentang kebhinekaan negeri ini. Sembari disuguhi gambar-gambar tentang kekayaan kebudayaan Indonesia yang penuh warna seperti rumah adat, pakaian dan senjata tradisional khas masing-masing daerah saya pun mengangguk-anggukan kepala tanda kemengertian saya.

Saya yang saat itu sekitar berumur tujuh tahunan sudah mulai merasakan kebanggan yang luar biasa atas negeri ini. “Mah, Indonesia hebat ya, walau negeri ini luas dari Sabang sampai Merauke, orangnya tuh macem-macem tapi tetap bisa hidup damai ?”, itulah statement nasionalis perdana yang saya ucapkan kepada ibu tercinta, lalu ibu saya pun member tanggapan pernyataan saya itu dengan sebuah senyuman manis, sebagai simbolisasi kebahagiaan beliau karena memiliki anak yang sudah mampu berbicara demikian.

Mungkin saat itu saya masih lucu-lucunya, jadi ketika saya dengan semangatnya meminta diajak untuk pergi jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia yang pernah saya dengar dikelas seperti Sabang, Merauke, Balikpapan, dan Makassar, Ibu saya pun langgsung memberiakan jawaban dengan kalimat : “iya, nanti mamah ajak kesana”.

Dengan kepolosan dan kekanak-kanakan, sampai saya lulus SD dengan predikat NEM terbaik kedua di Tasikmalaya, saya pun tetap masih menyimpan rasa bangga tentang kebhinekaan di negeri ini. Saya sendiri tidak tahu alasan utama mengapa saya berlaku demikian, padahal saya tidak tahu-menahu sama sekali tentang realitas Indonesia seperti apa.

Jangankan untuk konteks sebesar Indonesia, di lingkup yang lebih kecil, di kota saya Tasikmalaya, pada tahun 1996 pernah terjadi kasus kerusuhan yang berbau rasial namun tetap dengan keteguhan hati yang tak jelas latar belakangnya saya tetap percaya dengan apa yang namanya bhineka tunggal ika.

Transisi “Pendewesaan” : Sebuah Refleksi Diri

Beranjak dari bangku SD saya pun kemudian melanjutkan sekolah ke SMP. Kebetulan saya ber-SMP disalah satu sekolah yang berbasis agama di Tasikmalaya. Saya mendapatkan pendidikan umum dan agama dengan porsi yang seimbang. Untuk pendidikan umum, selayaknya di SMP-SMP biasa saya pun tetap mempelajari mata pelajaran semacam PPKN.

Baca Juga  Anak Muda Difabel dan Mustahilnya Isolasi Diri di Tengah Pandemi

Lagi-lagi di mata pelajari ini saya mempelajari hal yang sama ketika waktu SD terkait tentang kebhinekaan. Namun diluar itu kadang saya menemukan atau bahkan disuguhi oleh beberapa orang yang mempunyai kewenangan di SMP itu tentang perbedaan-perbedaan yang ada disekitar kita. Namun wacananya menjadi lain, karena secara tersirat saya menangkap apa yang disampaikan tersebut menyatakan kalau perbedaan itu keniscayaan, tapi perbedaan yang kita miliki adalah perbedaan yang lebih baik dari perbedaan-perbedaan yang lainnya.

Entah sikap narsistik atau apa, namun yang jelas dari sini saya mulai mencernanya dengan cara menkotak-kotakan perbedaan itu. Semangat kebhinekaan yang saya bawa ketika SD hanya mampu terlontar dalam mulut, dengan sendirinya saat itu saya malah asyik mengkotak-kotakan perbedaan yang kemudian saya memilih yang terbaik dan terbenar sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar saya.

Saya “mencaci” mereka yang berbeda dengan saya, namun ketika diluaran saya tetap membicarakan tentang indahnya kebhinekaan. Munafikah saya ? mungkin.

Perjalanan terus berlanjut, lulus SMP kemudian jenjang pendidikan saya pun naik tingkat. Saya ber-SMA di salah satu SMA favorit di Tasikmalaya. Ketika berseragam putih abu, kelabilan yang biasa menyerang para anak baru gede semacam saya pada waktu itupun menghampiri. Saya cendrung menjadi lebih apatis. Tapi bila mendengar dan menyaksikan berita tentang kasus semacam kerusuhan, perang saudara, dan ketimpangan karena faktor yang bersifat perbedaan ras, saya dengan senangnya berteriak “dasar si ini, dasar si itu”.

Saya pun kembali “mencaci” mereka yang berbeda dengan saya, namun ketika diluaran saya tetap membicarakan tentang indahnya kebhinekaan. Munafikah saya ? mungkin.

Realita di Depan Mata

Usia saya semakin bertambah dewasa. Sayapun akhirnya menyandang label mahasiswa. Kelabilan dan keapatisan saya pun luntur dengan sendirinya. Saya kembali mulai memikirkan tentang kebanggaan saya terhadap kebhinekaan di negeri ini. Dengan pijakan pemikiran sederhana saya kembali mewacanakan tentang kebhinekaan ini.

Baca Juga  Remaja Indonesia dan Pergolakan Dunia

Pemikiran sederhana tersebut yaitu tentang bangganya saya melihat Indonesia yang sampai detik ini belumlah bubar, padahal isu separatis hadir dibeberapa tempat, masih mengakarnya ketimpangan dan kemiskinan, terjadinya kerusuhan dan perusakan karena alasan rasial semakin menjadi-jadi.

Semboyan bhineka tunggal ika saya coba resapi. Ucapan-ucapan manis guru saya saat SD tentang ini saya kembali refleksikan. Proses penginsyafan pun terjadi, pada akhirnya saya menyadari bahwa bhineka tunggal ika bukanlah sekedar mitos atau dongeng belaka.

Dahulu, nenek moyang kita dengan keberagamannya tetap bisa hidup berdampingan secara harmonis. Saling membantu dan bergotong royong satu sama lain. Namun seiring berjalannya waktu, dalam wacana arus yang bernama modernitas semboyan bhineka tunggal ika seakan mulai runtuh. Ikrar yang mucul jauh-jauh hari sebelum Indonesia mencapai kemerdekaan mulai terkikis.

Bhineka tunggal ika hanya menjadi simbol tanpa makna, hanya menjadi penghias bibir semata dan sekedar menjadi pakaian sementara dalam ritual sumpah pemuda.

Terlalu bombastis bila saya menyebut masyarakat kita terkena amnesia berjemaah. Tetapi kata-kata “Saya orang jawa”,”Saya orang Medan”,”Saya orang islam”, “Saya orang Kristen” , “Saya orang kaya” benar-benar muncul dipermukaan.

Agama yang sejatinya mempunyai tujuan perdamaian malah dijadikan dalih penindasan. Kebanggaan kesukuan dilakukan secara buta. Narsistik merajalela menghinggapi pikiran-pikiran masyarakat. Ditonjolkanlah kelebihan-kelebihan tersebut kemudian tersekat-sekatlah negeri ini. Hasilnya yang lemah kalah dan terusir.

Cita-Cita Bersama

Indonesia yang damai bukanlah suatu cita-cita utopis. Sejatinya para pendahulu kita telah memberikan tauladan yang baik. Seperti yang tertuang dalam kakawinan Sutasoma karya Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit, didalamnya termaktub kalimat yang kini menjadi semboyan negeri ini, bhineka tunggal ika. Dalam kakawinan tersebut menceritakan bahwa toleransi sudah menjadi identitas dan modal sosial yang dimiliki oleh para pendahulu kita.

Yang menjadi pekerjaan rumah kini adalah bagaimana untuk mengintegrasikan keseluruhan masyarakat kedalam satu kerangka persatuan yang utuh dan kuat. Pertama, kita harus sadar akan sejarah, para pendiri bangsa jauh-jauh hari telah menginsyafi kondisi keragaman yang ada di Indonesia. Mereka berjuang dan berpikir keras berusaha menyatukan masyarakat yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.

Baca Juga  Kita Butuh Ilmuwan Muda bukan Anak Muda Rebahan!

Semua di lakukan tiada lain agar para penerusnya di masa depan, seperti posisi kita saat ini bisa merasakan kehidupan yang lebih baik dari mereka. Kedua, perlu adanya kesadaran kolektif untuk merekontruksi pemikiran tentang pentingnya semangat kolektifitas dan bhineka tunggal ika. Ada satu model dari Brewer dan Gaertner (2003) yang cocok dijadikan sebagai identitas sosial pada mayarakat yang bersifat heterogen seperti di Indonesia, yaitu mutual differentiation model.

Bentuk model yaitu seseorang atau kelompok tertentu tetap mempertahankan identitas asalnya tapi secara bersamaan kesemua kelompok tersebut juga memiliki suatu tujuan bersama yang pada akhirnya mempersatukan semua kelompok. Dengan mutual differentiation model ini akan memunculkan identitas ganda yang bersifat hirarkis, artinya setiap individu tidak akan melepaskan identitas asalnya dan memiliki suatu identitas bersama yang lebih tinggi nilainya.

Misalnya adalah saya yang berdarah dan berjiwa sunda tidaklah perlu melepaskan akan identitas kesundaan saya, namun saya harus lebih mengutamakan identitas saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia. Berarti identitas kesundaan saya bersifat lebih rendah nilai dan keutamaannya daripada identitas nasional. Dengan begitu diharapkan kita bisa kembali membumikan bhineka tunggal ika didalam benak dan hati kita.

Akan menjadi ironi bila masyarakat malah disibukan oleh sesuatu yang sesungguhnya tidaklah perlu. Karena diluar itu justru negeri kita tercinta sedang dihadapkan oleh tantangan yang besar yakni musuh bersama berbentuk penjahat kapitalisme, neo-imperealisme dan neo-kolonialisme. Bila kita terus berperang dengan saudara sendiri, kapan kita akan melakukan perlawanan terhadap penjajah baru yang datang ke negeri ini?

Marilah kita menyadari sepenuhnya bahwa keragaman adalah anugerah yang luar biasa, justru tugas kita saat ini adalah harus bisa merayakan keragaman tersebut dengan cara saling mengisi dan saling mewarnai satu sama lain guna mewujudkan cita-cita bersama, yaitu kesatuan dan persatuan bangsa.

 

Dodi Faedlulloh  adalah dosen muda di Jurusan Administrasi Negara, Universitas Lampung. Banyak melakukan riset tentang kebijakan publik dan birokrasi. Berhimpun aktif di Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) dan menjadi mentor di lembaga inkubator startup Siger Hub


Bagikan