1   +   9   =  
Bagikan

Bagi sebagian besar anak muda yang berkecimpung di organisasi kepemudaan, mereka melihat keadaan dunia sekarang lebih buruk daripada masa lalu.

Pemahaman dramatis semacam itu, menurut Hans Rosling (2018) dalam Factfulness, dikarenakan oleh pengetahuan seseorang yang tertinggal. Bahkan, berdasarkan risetnya, orang-orang yang menduduki jabatan penting di dunia ini dengan akses ke informasi terkini masih dapat keliru memahami dunia.

Pandangan pesimisme seperti itu tidak hanya kekeliruan berfikir. Ini merupakan naluri alamiah manusia. Karena manusia senang mendengarkan gosip-gosip, kisah-kisah dramatis dan melompat membuat kesimpulan tanpa proses berfikir yang serius.

Maka tidak mengherankan, banyak pakar psikologi yang menyatakan bahwa manusia secara tidak sadar membuat keputusan dengan perasaan ketimbang melalui nalar. Perilaku ini yang membuat kita kesulitan untuk menilai situasi dunia dengan apa adanya. Prasangka kita selalu berhasil mengaburkan realitas objektif.

Belum lagi, perilaku ini dibumbui oleh naluri negativitas. Naluri negativitas atau lebih umum dikenal sebagai bias negativitas, sebagaimana dijelaskan oleh Hans Rosling (2018), adalah kecenderungan kita untuk lebih tertarik pada sesuatu yang “buruk-buruk” daripada hal yang “baik-baik”. Naluri ini yang membuat kita, aktivis muda selalu keliru, melantur dan salah paham dalam memahami kondisi situasi terkini.

Ini yang membuat aktivis muda lebih mudah untuk menyadari hal buruk, dan kesulitan untuk mencari tahu hal-hal baik. Karena perbaikan-perbaikan kecil dan bertahap di dunia jarang dirayakan atau tidak layak diberitakan.

Saya ambil salah satu contoh, setidaknya pada 20 tahun terakhir, angka kemiskinan ekstrem diseluruh dunia turun lebih cepat dan signifikan dalam sejarah peradaban manusia. Coba bayangkan sejenak, 20 tahun lalu, 29 persen penduduk dunia masih hidup dalam kemiskinan yang parah.

Baca Juga  Cara Mendorong Milenial Masuk Partai Politik!

Dimana bagi mereka ini merupakan neraka yang begitu nyata dihidup mereka. Dan sekarang, angka itu sudah menjadi 9 persen, yang berarti 20 persen manusia sudah berhasil menyelamatkan diri dari lingkaran kemiskinan tersebut. Karena kabar baik sering kali tidak diberitakan, maka kabar buruk selalu tersedia dihadapan kita. Walaupun hari ini kemiskinan masih ada, tapi tidak ada salahnya untuk kita mengapresiasi umat manusia dari berbagai usaha dan perjuangan selama ini.

Selaras dengan Hans Rosling dan Steven Pinker, kedua idola saya bersepakat, bahwa umat manusia sedang berada di masa-masa lebih baik, jika dibandingkan abad-abad sebelumnya. Namun secara ironis, banyak kaum intelektual, aktivis dan politisi menyangkal kemajuan-kemajuan tersebut dengan pikiran sinis.

Secara provokatif , Steven Pinker (2018) dalam Elightenment Now mengatakan, “kaum intelektual membenci kemajuan. Kaum intelektual yang menyebut diri mereka “progresif” benar-benar membenci kemajuan”. Singkatnya, Pinker menuding masih banyak intelektual terjerat oleh progressophobia (perasaan takut yang berlebihan akan kemajuan).

Menurut Pinker, progressophobia terjadi karena budaya intelektual tidak memiliki perlengkapan untuk mengobati bias negativitas. Ia menambahkan, kewaspadaan manusia terhadap sesuatu yang buruk membuka “lapangan pekerjaan” bagi orang-orang yang sok profesional yang meminta perhatian kita untuk selalu melihat sesuatu yang buruk.

Pinker bahkan menampilkan hasil dari sebuah eksperimen, yang menunjukan bahwa seseorang kritikus yang membuat buku dengan muatan“negatif” dianggap lebih kompeten daripada pada seseorang kritikus yang membuat buku bernuansa “positif”. Dan hal ini juga berlaku bagi para ilmuwan dan aktivis sosial. Sebagaimana pepatah satir Tom Lehre yang dipinjam Pinker, “buatlah selalu prediksi yang terburuk, dan Anda akan dipuja sebagai nabi”.

Berkat Tom lehre, saya jadi paham, mengapa masyarakat kita lebih mengenal Rocky Gerung ketimbang Rhenald kasali.

Baca Juga  Bucin adalah Penyakit, Emansipasi Gender Obatnya!

Mendayung di antara Optimisme dan Pesimisme

Aktivis muda kita dibanjiri informasi negatif setiap hari. Mulai dari bencana alam, konflik politik, korupsi, aksi terorisme,perubahan iklim. berita kriminal dan informasi PHK karena pandemi. Jarang sekali berita baik jadi tajuk utama berita kita, bahkan sekalipun berita baik itu tentang ribuan bahkan jutaan orang yang sedang naik jabatan di kantor mereka masing-masing.

Kita harus jujur, akibat kebebasan pers dan media sosial, kita menjadi lebih sering mendengar peristiwa buruk daripada sebelumnya. Kebebasan pers dan informasi adalah hal yang baik, tetapi mengeksplotasi rasa takut generasi muda merupakan hal yang tidak bermartabat.

Bersama dengan ini, menurut Hans, para aktivis dan para pelobi dengan terampil berusaha membuat realitas semakin muram menuju bencana atau kritis, Mereka sering kali menakut-nakuti kita dengan berbagai analisa yang dibesar-besarkan secara berlebihan meskipun sebenarnya kita menuju arah yang lebih baik.

Sebaiknya media dan aktivis jangan mengandalkan diri pada drama untuk menarik perhatian anak muda. Padahal, kabar buruk lebih banyak tidak berarti penderitaan manusia juga lebih banyak.

Terjebak pada situasi ini, kita, sebagai anak muda harus bisa mengedalikan naluri terhadap negativitas yang membuat kita kecanduan terhadap kabar buruk sekaligus belajar untuk berhati-hati dengan masalah-masalah yang dipoles secara keterlaluan.

Saya bersepakat dengan Pinker, pesimisme di kalangan intelektual juga bisa menjadi suatu bentuk one-upmanship atau tenik meneguhkan rasa superior atas orang lain. Tetapi pesisimisme yang tidak diimbangi optimisme dengan bias negativitas yang tak terkendali dapat menjerat aktivis muda pada sikap yang fatalistik. Dimana anak-anak muda ini melalaikan kemungkinan bahwa segala sesuatu dapat diperbaiki dan segala masalah dapat ditemukan solusinya secara bertahap.

Baca Juga  Dear Masa Depan, Kita Lelah Bernostalgia dan Ketakutan, Biar Mereka saja yang ketinggalan zaman!

Dengan demikian, aktivis muda harus belajar menerima sebuah proses dan mengakui bahwa dunia sebenarnya telah membaik walaupun beberapa hal masih ada yang buruk untuk tetap diperbaiki sekaligus dicicil dari sekarang.

Tulisan ini telah dipublikasikan haluan.co dengan judul Fakta Dunia Lebih Baik Sulit Diterima oleh Aktivis Muda.


Bagikan