8   +   7   =  
Bagikan

Sadar atau tidak, pandemi Covid-19 akan mengubah secara drastis kehidupan kita sebagai manusia.

Bagaimana tidak? Proses interaksi kita yang sebelumnya terjadi secara langsung, mendadak harus diistirahatkan sejenak. Kita tidak lagi bebas  bersosialisasi dengan orang lain karena takut tertular ataupun menjadi orang yang menularkan.

Meskipun tidak semua orang bisa menghentikan kegiatan di luar rumah, tapi tetap banyak yang pada akhirnya membatasi aktivitasnya.

Orang-orang mulai menjalankan berbagai aktivitasnya dari rumah melalui perangkat digital, baik untuk bermain, belajar ataupun bekerja.

Jika kamu seorang pekerja, awalnya kamu pasti akan bertanya “Bagaimana akan menjalankan tugas-tugas rutin, seperti rapat koordinasi, mengirimkan laporan mingguan, atau mendekati calon pelanggan potensial?”

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di awal pandemi ini adalah hal yang wajar. Kita semua pasti terkejut dengan perubahan pola interaksi yang membatasi pertemuan langsung. Sebab, pada dasarnya kita memang sulit menerima perubahan sosial yang cepat atas kondisi yang tercipta di luar kita.

Menurut Soerjono Soekanto, perubahan sosial merupakan segala perubahan di masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosial di dalamnya, termasuk nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dalam hal ini, perubahan yang kita alami adalah proses interaksi dan perkembangan teknologi komunikasi yang mengubah cara berpikir kita.

Apa yang terjadi hari ini, telah diprediksi jauh hari oleh Marshall McLuhan pada 1962, lewat teori Determinisme Teknologi, yang mengatakan bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi, akan membentuk keberadaan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, teknologi membentuk cara berpikir, berperilaku dan bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi selanjutnya dalam kehidupan manusia.

Perkembangan teknologi komunikasi itulah yang sebenarnya telah mengubah kebudayaan manusia. Parahnya lagi, perubahan ini terjadi secara mendadak dengan adanya pandemi Covid-19.

Baca Juga  Jebakan Aging Population: Muda Banyak Gaya, Lansia Mati Gaya!

Salah satu perubahan yang sangat terasa menurut Claire Schooley, analis pada Forrester Research, adalah mulai maraknya video-conferencing dan rapat online, baik di perusahaan ataupun lembaga pemerintahan. Hal ini tentunya akan mengubah cara berpikir perusahaan dan lembaga pemerintahan dalam jangka panjang.

Tidak hanya rapat online, banyak pekerjaan sekarang juga bisa dilakukan tanpa pekerja harus selalu harus ke kantor. Hal ini tentunya membuat manajemen perusahaan dihadapkan pada dilema, karena ternyata banyak karyawan malah lebih produktif ketika tidak hadir di kantor dengan bantuan internet.

Makin luasnya penggunaan internet membuat orang bisa bekerja dari manapun dan kapanpun. Itu sebabnya istilah www yang semula hanya berarti world wide web kini juga berarti world wide workplace, atau ”tempat kerja di mana pun di dunia”.

Perubahan dalam tataran kerja hanyalah awal dari banyak perubahan lain karena pandemi Covid-19. Perubahan lain akan segera menyusul mengingat proses komunikasilah yang akan mengubah proses berpikir kita sebagai manusia. Setidaknya terdapat tiga perubahan lain yang akan segera menyusul di kehidupan sosial kita, yaitu:

Segala hal akan mulai dilakukan secara online

Selama ini, banyak hal yang berhubungan dengan prosedur dan mekanisme di beberapa bidang kehidupan kita dibatasi untuk dilakukan secara online, seperti pembayaran tagihan bulanan dan proses birokrasi administratif.

Namun, menurut Katherine Mangu-Ward, Pimpinan Redaksi majalah Reason, pandemi Covid-19 ini mau tidak mau membuat kita mengalihkan segala kehidupan kita ke ranah online.

Berbagai prosedur birokrasi administratif yang selama ini meminta pertemuan langsung antara kita dengan pemerintah tidak bisa lagi dipertahankan karena pandemi ini masih belum diketahui kapan harus berakhir. Di beberapa negara, bahkan sejumlah layanan publik dari pemerintah juga akhirnya dibuat online sepenuhnya.

Baca Juga  Corona adalah Ancaman Bagi Kesehatan dan Ekonomi Masyarakat

Semakin beragamnya aktivitas kita di dunia digital

Profesor Sherry Turkle dari MIT Amerika Serikat membuat analisa bahwa pandemi ini  membuat kehidupan digital akan menjadi lebih bervariasi. Orang-orang yang semula menghabiskan waktu di ranah online hanya untuk bersenang-senang, mulai berpikir untuk mencari manfaat lebih baik.

Seperti Pandji Pragiwaksono yang membuat live Instagram setiap jam delapan malam untuk menghibur netizen dengan berbagai jokes-nya. Bahkan banyak pakar yoga memberikan kelas online gratis dan hal sejenisnya. Jika ini dilanjutkan, maka manusia akan mewariskan kebiasaan baru yang positif.

 

Adanya pemerintah virtual yang mendorong transparansi

Ethan Zuckerman adalah associate professor di MIT berpendapat usai wabah virus corona, bersiap-siaplah untuk pemerintahan virtual. Hal ini dikarenakan pandemi Covid-19 ini menyebabkan anggota DPR tidak bisa berkumpul rapat demi mencegah penularan. Di Amerika saja, anggota DPR sudah positif kena COVID-19. Mengatur pemerintahan secara virtual kini menjadi solusi yang dipikirkan.

Teknologi digital digunakan supaya anggota dewan dan pemerintahan bisa tetap bekerja tanpa langsung bertatap muka. Sementara itu, perintis startup Democracy Live, Joe Brotherton menambahkan, terkait dengan pemerintahan virtual ini, maka sangat mungkin jika pemilu elektronik juga akan menjadi tren baru. Pemilihan suara untuk memilih anggota parlemen atau kepala daerah, akan lebih aman dari wabah penyakit kalau TPS-nya dibikin virtual.

Perubahan-perubahan karena pandemi Covid-19 ini sudah ada di depan mata kita. Berbagai perangkat teknologi yang ada di zaman sekarang saya rasa cukup mampu menunjang berbagai aktivitas dilakukan secara online.

Tinggal PR kita adalah mendorong perubahan ini tercipta di lingkungan terdekat kita, agar aktivitas yang selama ini mengharuskan pertemuan tatap muka bisa tercipta di ranah digital. Agar berbagai urusan bisa terjadi secara efektif, efisien, dan transparan.

Baca Juga  Apakah Indonesia akan krisis Ekonomi karena Corona?

 

Akbar RF adalah Wakil Ketua Perkumpulan Pamflet Generasi, organisasi anak muda yang fokus isu pendidikan dan HAM Di Indonesia, dan pengelola website mudatoleran.id, yang menyebarkan gagasan toleransi untuk anak muda. Selama ini, ia banyak terlibat dalam gerakan anak muda, HAM, dan inklusifitas. Saat ini, tergabung dalam Indonesia untuk Kemanusiaan, lembaga sumber daya yang telah berdiri sejak 1993.


Bagikan