5   +   1   =  
Bagikan

Seribu satu macam itu bidang pekerjaan dari jadi pengamen sampai jadi seorang presiden. Lirik tersebut penggalan dari lagu H. Rhoma Irama berjudul 1001 macam.

Secara harfiah bahwa pengamen adalah sebuah pekerjaan, tetapi bila dilihat secara mendalam bahwa pengamen bisa dikatakan sebagai kedok dari kegiatan “meminta-minta”.

Pada akhirnya kedok ini berhasil, mengamen pada saat ini dapat dikatakan sebuah kegiatan yang berbeda dengan meninta-minta. Pekerjaan pengamen bisa dianggap sebagai pekerjaan yang dapat diterima oleh masyarakat dan menjadi hiburan tersendiri.

Secara kasat mata pekerjaan mengamen memang menjadi pekerjaan yang bisa diterima oleh masyarakat. Tetapi dilihat secara lebih mendalam bahwa mengamen bukan pekerjaan yang berawal dari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.

“Pengamen pada dasarnya tidak terlepas dari kemiskinan dan pengangguran.”

Pengamen pada dasarnya tidak terlepas dari kemiskinan dan pengangguran. Mereka muncul ditengah masyarakat perkotaan dan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pegamen yang beralu lalang dalam kehidupan masyarakatpun hanya berbekal ilmu sekedarnya, kemampuan hanya sebatas memainkan alat musik dan nyanyian lantang.

Pengamen dan kehidupan anak yang terbengkalai

Pengamen memiliki stereotipe yang dinilai “miring” oleh sebagian masyarakat. Budaya, perilaku dan lingkungan mereka yang pada akhirnya membentuk streotipe dimasyarakat.

Penilaian mayarakat hanya berdasarkan terhadap komunitas atau perseorangan yang kemudian menjadi alasan untuk tindakan diskriminatif.

Pengamen masih di cap sebagai individu yang tidak perlu diperhatikan, ini yang menimbulkan pengamen menjadi lebih skeptis dan apatis dalam kehidupan masyarakat.

Pengamen dan anak bagaikan dua mata uang yang tidak terpisahkan, anak menjadi objek ekpoitasi dalam mencari uang di jalanan. Fenomena pengamen yang membawa anak kecil sudah bertebaran dijalanan ibukota.

Anak sering kali dijadikan senjata untuk bekerja dan meminta belas kasihan terhadap pengendara kendaraan. Disisi lain anak yang dipekerjakan mencari uang kehilangan dunia bermain dan fasilitas pendidikan yang menjadi haknya.

Baca Juga  Cerita Anak Muda yang Kembali ke Bhineka Tunggal Ika

Sering kali “nafsu” orang tua menjadikan dunia anak menjadi hilang. Orangtua memanfaatkan anaknya untuk membantu perekonomian keluarganya.

“Anak sering kali dijadikan senjata untuk bekerja dan meminta belas kasihan terhadap pengendara kendaraan.”

Fenomena pengamen yang membawa anak sering sekali ditemui di sisi kehidupan ibukota, pengamen banyak ditemui di persimpangan jalan, tempat makan sampai di gang-gang kecil maupun angkutan publik menjadi ladang mengais rejeki.

Pengamen dan anak menjadi sangat ironis di kehidupan sosial masyarakat ibukota, yang merupakan jantung perekonomian dan pembangunan.

Kemiskinan menciptakan kesenian dadakan

Permasalahan ekonomi menjadi dasar bahwa pengamen membawa anak muncul dalam kehidupan masyarakat ibukota. Ketidakberdayaan bersaing dan tidak adanya  keterampilan menjadikan seseorang terjun menjadi pengamen.

Hal yang paling utama bagi mereka untuk bisa hidup adalah ketersediaan uang dan pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Jakarta sebagai daerah metropolitan, persoalan pengamen dan anak menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah daerah.

Di satu sisi pemerintah harus bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang ujungnya kesejahterahan tetapi disisi lain persoalan pengamen menjadi tamparan bagi pemangku kepentingan bahwa pemerintah daerah seperti tidak sanggup mengatasi ketimpangan sosial.

Ini yang pada akhirnya mendorong mereka menjadi “seniman dadakan”  untuk bertahan hidupan,  seniman dadakan ini pada hakikatnya adalah pekerjaan yang menjauhkan  mereka dari kesejahteraan.

“Pembangunan ekonomi yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk menciptakan ruang kereatifitas yang inklusif untuk memberdayakan potensi dari para pengamen.”

Kehidupan mereka sering kali mengartikan pekerjaan mengamen sebagai karir. Eksistensi kehidupan pengamen dijalanan banyak dilatarbelakangi oleh “hukum rimba” kekuatan dan keberanian menjadi sesuatu hal yang dimiliki oleh pengamen selain keterampilan bermusik itu sendiri.

Pembangunan ekonomi yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk menciptakan ruang kereatifitas yang baru untuk memberdayakan potensi dari para pengamen. Ruang yang bisa menyalurkan kreatifitas mereka dan disamping itu pemerintahpun perlu menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi mereka.

Baca Juga  Bagaimana Nasib Pilkada di Tengah Wabah Corona?

 

Heru Gian (Dinho) adalah Deputy Youth Stories Warga Muda. Ia Bergelut di dunia kepemiluan, politik anak muda dan event organizer.  Ia merupakan sarjana ilmu politik Universitas Jenderal Soedirman. Sekarang ia sedang berusaha mendapatkan gelar master ilmu politik di Universitas Nasional dengan fokus studi sistem pemilu dan politik Indonesia.

 

 


Bagikan