4   +   9   =  
Bagikan

Pandemi COVID-19 saat ini semakin mengkhawatirkan.  Adanya peningkatan jumlah kasus positif corona baik pada lingkup lokal maupun global.

Pertanggal 6 April 2020 data global tercatat sudah ada 1.288.372 kasus positif corona, sedangkan untuk lingkup Indonesia sudah 2.491 kasus.

Peningkatan kasus positif corona ini membuat berbagai negara pusing bukan kepalang dalam mengatasinya. Indonesia yang pada awalnya meremehkan COVID-19 ini akhirnya pun turut merasakan dampaknya.

Berbagai kebijakan muncul baik kebijakan daerah maupun pusat dalam rangka mengatasi penyebaran COVID-19 ini.

Sempat ada daerah menyatakan local lockdown meskipun akhirnya tidak berjalan mulus karena disentil pemerintah pusat supaya pemerintah daerah gak jalan sendiri-sendiri.

Kebijakan  pemerintah saat ini berfokus pada penerapan social distancing dan physical distancing. Ini merupakan himbau warga  agar menjaga jarak satu sama lainnya dan menghindari kerumunan.

Sekarang kerumunan warga semakin diatur ketat.  Kapolri membuat maklumat yang melarang warga mengadakan keramaian.  Di tempat saya sendiri, di Lampung, ada kondangan yang nyaris dibubarkan oleh pihak aparat.

Setelah muncul maklumat Kapolri, tidak lama pemerintah pusat menerbitkan kebijakan darurat sipil meskipun sempat ragu-ragu untuk memilih antara karantina wilayah (lockdown) atau darurat sipil tersebut.

Jadi kemungkinan bakal ada pemberlakuan jam malam, ya sepertinya aparat negara bakal berpatroli mengatur warganya biar gak bandel keluar rumah gitu.

Darurat sipil yang sangat usil

Kenapa pemerintah lebih milih darurat sipil ketimbang karantina wilayah seperti yang diberlakukan di Malaysia?  Saya melihat upaya pemerintah untuk cuci tangan. Dengan darurat sipil, pemerintah  gak punya kewajiban memenuhi kebutuhan warga negaranya gitu.

Alasan lainnya sih kalau kata Menteri Keuangan kita,  APBN kita lagi tekor karena pendapatan negara minus 10 persen. Hal itu katanya mereka yang berkuasa, menjadikan darurat sipil adalah jalan logis untuk tetap menyelamatkan perekonomian negara kita.

Baca Juga  Terorisme Ancam Bonus Demografi !

Pada akhirnya darurat sipil memang tetap terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. Ada buzzeRp yang menginginkan untuk jangan sampai lockdown ada juga SJW yang menginginkan lockdown.

Keduanya memiliki argumen yang sama rasionalnya, tapi saya sendiri berada dikubu abu-abu tapi tetap mengkritisi kebijakan pemerintahan.

Lembaga negara yang saling menghambat

Belum selesai perkara lockdown atau darurat sipil, kini muncul lagi bahwa BNPB sebagai gugus tugas penanggulangan COVID-19 kesulitan mengakses data dari Kemenkes.

Menteri Kesehatan Terawan yang sedari awal kasus pertama positif COVID-19 memang suka bercanda ternyata memang kementeriannya juga sama lucunya. Ya karena pimpinannya saja lucu maka bawahannya juga bakal sama melucu tampaknya.

Memang sedari kemarin data Kemenkes tampak ganjil karena seperti sedikit sekali peningkatan jumlahnya. Ya mungkin niatnya baik untuk tidak membuat panik, tapi itu hanya berlaku untuk masyarakat awam.

kalau masyarakat yang sedikit skeptis seperti saya ini pasti memandangnya memang seperti ada yang ganjil wong Amerika Serikat aja bisa pesat banget meningkatnya dan sudah menggeser Italia dari posisi tertinggi tingkat kematian akibat COVID-19.

Lah kita kok hebat sekali sehari cuma bertambah 100 saja, sifat inferior bekas bangsa terjajah saya muncul.

Belum lagi tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan yang harus gugur dalam mengemban tugas beratnya menangani pasien positif COVID-19.

Saya secara pribadi turut berduka cita sedalam-dalamnya dan hormat saya untuk para tenaga kesehatan yang sudah berjuang hingga saat ini.

Skeptisisme saya muncul menjadikan saya semakin parno karena pada akhirnya masyarakat menganggap COVID-19 ini sebagai hal yang remeh seperti penyakit flu yang pada akhirnya membuat masyarakat beraktivitas normal seperti biasa.

Baca Juga  Mentransformasi Politik Pelajar

Meski begitu pemerintah tetap menganjurkan physical distancing dan mengharuskan warganya untuk memakai masker. Tapi apakah ini akan efektif? Kita serahkan semuanya pada takdir Tuhan.

Ya untungnya masyarakat kita memang sangat menjunjung tinggi takdir dari Tuhan, sehingga membuat semuanya seolah-olah kita anggap sebagai hukuman yang nantinya juga akan lekas berlalu.

Jujur baru kali ini saya merasa apakah ini pra-kiamat yang sedang direncanakan Tuhan? Saya jadi mendadak rajin ibadah karena corona.

Pemerintah kita sekarang sangat retoris dalam menyampaikan perkembangan kasus COVID-19 eh walaupun memang politikus memang harus membual a untuk mempertahankan kekuasaannya sih.

Tapi hal inilah yang menjadikan banyak warga negara yang akhirnya tidak mempercayai negara dan pemerintahannya lagi karena negara terkesan menutup-nutupi data sebenarnya yang ada di lapangan sehingga terkesan menjadikan kita alergi politikus. Belum lagi kelakuan kocak antar kemeterian dan lembaga terkait  yang saling serang bahkan saling balap-balapan.

Berbanding terbalik dengan keadaan saat ini, menurut Yuval Noah Harari dalam tulisannya yang berjudul The World After Coronavirus dalam menyelesaikan pandemi COVID-19 ini dibutuhkan kepercayaan dan solidaritas global. Ia menyebutkan orang harus percaya sains, percaya pejabat, dan percaya media.

Ketika orang diberikan fakta sains dan ketika orang percaya bahwa pejabat mengatakan sebenarnya, warga tidak perlu banyak meragukan sehingga ketika diberi informasi yang baik biasanya akan lebih berdaya tangkas ketimbang masyarakat yang bebal dan kebanyakan diatur seperti kondisi saat ini.

Selain itu saat ini juga sangat dibutuhkan solidaritas, baik solidaritas antar-daerah maupun antar-negara. Semoga masyarakat dan pemerintah kita semakin sadar bahwa kita tidak bisa meremehkan pandemi dan mengurangi kebebalannya sehingga dapat meminimalisir jumlah kasus positif COVID-19.

Baca Juga  Anak Muda Harus Tahu Residu Militerisme dalam UU PSDN

 

Anvel Mahfrisa adalah alumni jurusan Sosiologi UNSOED yang juga Mantan Ketua UKM Riset dan Kajian Ilmiah Rhizome FISIP UNSOED. Saat ini sedang menikmati menjadi freelancer demi menyambung hidup dan sesekali menjadi pengamat amatir isu sosial-politik.


Bagikan