7   +   2   =  
Bagikan

Kebangkitan Kidult, Saat Yang Muda Menolak Dewasa – Warga Muda

Menjadi dewasa bukan lagi soal keharusan, tapi telah jadi pilihan, dimana kita dapat menolak untuk menjadi dewasa dan memasuki dunia orang-orang tua.

Kita hidup pada situasi yang sebenarnya berbeda. Sebuah suasana yang mengaburkan batas antara nilai, norma dan perilaku anak-anak dengan orang-orang dewasa. Kini gaya hidup kekanak-kanakan mulai diadopsi oleh anak-anak muda bahkan hingga mereka  dewasa ataupun menjadi orang tua.

Generasi muda saat ini ingin lebih bersenang-senang, menikmati masa muda lebih lama, dan tidak terlalu suka berkomitmen dengan tanggung jawab sosial yang diharapkan pada mereka. Mereka tidak merasa berkewajiban untuk bekerja, menikah ataupun berkeluarga sebagaimana generasi sebelumnya.

Ini merupakan reaksi  generasi muda sekarang terhadap dunia  modern yang memaksa anak-anak muda untuk segera menjadi dewasa dengan berbagai beban sosial yang harus mereka angkut dipundak mereka masing-masing.

Kita harus akui,  generasi muda saat ini ditandai oleh sifat kekanak-kanakan yang belum pernah terjadi pada generasi sebelumnya. Mereka mulai menunda, menghindari, melawan  atau mensiasati tahap-tahapan atau transisi sosial yang mengharapkan generasi muda menjelma menjadi orang dewasa.

Fenomena Kidult sebagai subkultur anak muda

Fenomena ini mulai banyak disoroti oleh para ilmuwan di Amerika Serikat, dimana kini banyak orang dewasa yang kekanak-kanakan atau mereka menyebutnya dengan istilah kidult.  Kidult dipopulerkan oleh psikolog Jim Ward Nicholas untuk menyebutkan  para dewasa muda yang masih menikmati budaya remaja baik dari penampilan fisik, gaya hidup dan perilakunya,

Dari berbagai referensi, kidult dianggap sebagai sosok generasi muda abad 21 dimana seorang anak muda yang telah menjadi dewasa secara biologis masih memegang erat “budaya” remaja bahkan anak-anak dengan menyangkal peran yang  “seharusnya” mereka ambil di usia mereka untuk lebih mandiri, memiliki pekerjaan yang stabil dan membangun sebuah keluarga.

Baca Juga  Ngabuburit Virtual dan Nasib Bukber Kita

Para kidult memilih menunda menikah, menunda memiliki anak, menunda membeli rumah untuk memenuhi hasrat mereka untuk bermain daripada bertanggungjawab atas masa depan mereka nanti.

Konsep kidult sangat berguna untuk mendeskripsikan realitas yang menjadi “New Normal” di Indonesia. Dimana seorang yang berusia 25-40 tahun banyak yang menghabiskan berjam-jam bermain mobile game, membaca komik, menonton anime, mengoleksi action figure,  menjadi cosplayer dan  budaya populer lainnya yang  biasanya di konsumsi oleh remaja.

Saya telah banyak berdiskusi dengan teman-teman saya yang kini sudah berusaha di atas 31 tahun. Usia yang tidak dapat kategorikan lagi sebagai pemuda menurut Undang-undang (UU) No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

Teman-teman saya merasa takut untuk tumbuh dewasa dengan tanggung jawab sosial sebagaimana harapan masyarakat bahkan keluarganya masing-masing. Mereka ingin menikmati masa muda lebih lama tanpa peran-peran sosial yang terlihat seperti beban hidup untuk mereka.

Di sisi lain, mereka  yang telah menikah, bekerja bahkan memiliki anak, mengadopsi “budaya remaja” sebagai sarana “pembebasan” di waktu senggang atau pelarian di tengah gempuran dari tuntutan sosial yang muncul dari  pasangan, teman, keluarga besar, komunitas, kantor, media bahkan negara.

Para kidult dengan terbuka mengatakan tidak memiliki tujuan yang pasti dalam hidup. Mereka berpikir sederhana yang penting bahagia.  Maka tidak mengherankan, jika mereka menunda masalah selama mungkin sampai mereka merasa dipaksa untuk menyelesaikannya.

Mereka merupakan individu yang riang, bagi mereka memikul sedikit tanggung jawab adalah jalan hidup yang menyenangkan. Kidult sering bertindak tanpa menimbang konsekuensi, jika itu berakibat buruk, mereka akan menyalahkan situasi dan orang lain.

Kebanyakan kidult masih tinggal bersama orang tua mereka, kerena mereka tidak bisa mengelola uang dengan baik dan sangat bergantung secara finansial pada keluarganya. Mereka yang berhasil mandiri, mencoba membuat jarak dengan orang tua mereka untuk dapat hidup bebas terhindar dari tuntutan untuk menjadi lebih dewasa.

Baca Juga  Jepang Pacu Sikap Kritis dengan Pertukaran Pelajar

Generasi muda yang memiliki karateristi kidult, biasanya belum menikah walaupun usia mereka telah matang. Mereka lebih menyukai hubungan seksual tanpa komitmen jangka panjang.

Yang paling menarik dari fenomena ini adalah kidult justru telah  menjadi subkultur yang menjamur di kota-kota besar di seluruh dunia. Semakin maraknya fenomena ini, beberapa negara juga memiliki istilah masing-masing untuk menyebut kidult.  Misalnya, freeters di Jepang, kippers di Inggris, mammones di Perancis,dan nesthockers di Jerman.

Pada konteks Indonesia, Saya melihat dua faktor yang dapat membuat  fenomena kidult dapat meluas di wilayah kota-kota besar.

Pertama, anak-anak muda kita menemukan rasa nyaman dan bahagia dengan mengadopsi  “produk budaya anak-anak” untuk menghilangkan atau obat pereda stres akibat tekanan kerja yang berat, tuntutan keluarga dan frustasi sosial.

Kedua, industri mainan global mulai merancang produk untuk mengekplotasi sentimen segmen pasar kidult, karena lebih menguntungkan menjual “mainan” kepada  para kidult  daripada anak-anak kecil yang tidak memiliki daya beli untuk membeli “mainan mahal”.

Situasi ini yang membuat kita lebih mudah menemukan mainan untuk  papa muda daripada untuk anak-anaknya. Industri game online dan film sudah  memulainya lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Makanya jangan heran, jika makin banyak orang tua muda masa kini bermain game PUBG, Mobile Legend, Free Fire dan lainnya, karena memang telah menjadi ke normalan baru bagi kita semua. Ngasuh anak sekaligus ngepush rank akan jadi new normal.

 


Bagikan