3   +   3   =  
Bagikan

Indonesia diprediksi masuk dalam 10 besar negara dengan perekonomian terbesar pada 2030 begitu prediksi Bloomberg. Ditambah bonus demografi dan revolusi industri yang turut memuluskan impian ini.

Menyoal kesempatan emas ini tentu saja Indonesia perlu segera berbenah agar prediksi tersebut tercapai. Pemerintah, swasta dan didukung oleh masyarakat perlu mulai menakar diri hambatan-hambatan yang sedang dan mungkin terjadi agar dapat diselesaikan.

Generasi millennial dan generasi Y perlu dipersiapkan lebih dari sekadar tenaga kerja tapi juga sebagai tonggak keberlangsungan bangsa. Masa depan bukan hanya milik kamu yang lagi bucin (budak cinta) sama pacarnya, tapi juga milik saya, dia, mereka, milik kita semua untuk Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.

Saya percaya hasil maksimal dalam skala nasional untuk mewujudkan itu semua dapat dilalui dari proses kecil yang kontinyu. Sejauh ini pada skala individu hambatan seringkali, meski tak melulu, timbul karena adanya stigma tertentu kepada gender.

Gender merupakan kategori budaya yang membagi manusia menjadi laki-laki dan perempuan, meski sejumlah kebudayaan mengakui kategori-kategori lain. Apabila jenis kelamin membagi antara jantan dan betina yang merupakan kategori biologis dengan sifat-sifat pembagian objektif dan senantiasa konstan sepanjang sejarah.

Gender karena merupakan produk kebudayaan maka apa-apa yang disebut “maskulin” dan “feminim” bersifat antar-subjektif dan mengalami perubahan terus-menerus

“Gender merupakan kategori budaya yang membagi manusia menjadi laki-laki dan perempuan, meski sejumlah kebudayaan mengakui kategori-kategori lain.”

Gender itu  tergantung manusia bukan hukum alam

Menurut Sue Blundell dalam buku Women in Ancient Greece (1995) ada perbedaan-perbedaan berefek luas dalam hal perilaku, hasrat, pakaian dan bahkan postur tubuh yang diharapkan dari perempuaan di Athena klasik dan perempuan di Athena modern.

Mengapa ini begitu penting? stigma yang melekat terhadap gender ini seringkali menghambat proses berkembangnya individu dan bila dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, turun temurun dan diaminkan oleh masyarakat tentu akan berefek panjang pada tatanan masyarakat, lebih jauh lagi ini akan mempengaruhi bagaimana negara menerapkan kebijakannya.

Contohnya ibu rumah tangga yang tidak dibenarkan untuk memilih menjadi seorang wanita karir. Laki-laki dan masyarakat pada umumnya seringkali menganggap bahwa sebaik-baiknya perempuan cukuplah menjadi ibu rumah tangga yang mengurus pekerjaan domestik juga merawat anak, meski menjadi ibu rumah tangga merupakan hal yang sah-sah saja.

Permasalahannya adalah disini perempuan tidak diperkenankan memilih apa yang terbaik baginya sesuai dengan pertimbangannya sebagai individu. Di sini perempuan justru dihadapkan pada keretakan pilihan “scheur” kalau kata Bung Karno dalam bukunya yang berjudul Sarinah: Kewajiban wanita dalam perjuangan Republik Indonesia, antara menjadi “wanita karir” atau “ibu rumah tangga”.

Baca Juga  Koperasi Pendidikan untuk Demokrasi dan Buruh

Pilihan ini tidak semata-mata hadir melainkan efek dari stigma yang melekat terhadap perempuan, stigma yang telah diaminkan oleh masyarakat.

Bagaimana kelanjutan nasib si ibu rumah tangga yang tidak dibenarkan untuk memilih melanjutkan cita-citanya menjadi wanita karir? Keretakan pilihan mengakibatkan kondisi sosial yang tidak mendukung tumbuh dan berkembangnya si ibu.

Peran wanita dalam peradaban terdistorsi sebatas urusan domestik dan mengurus anak. Sekali lagi, bukan mendiskreditkan para perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga tapi kenyataan membuktikan bagaimana pilihan dan cita-cita harus kandas karena stigma dan tugas yang harusnya diemban bersama suami dan isteri dalam rumah tangga.

Selama ini ada anggapan bahwa tatanan ini akan berubah seiring berkembangnya zaman. Nyatanya sampai abad ke 21 pola pikir seperti ini masih langgeng dalam masyarakat, kemudahan akses terhadap informasi tidak lantas mengubah cara pandang bagaimana perempuan harusnya memiliki kesempatan yang setara seperti halnya laki-laki dalam memperoleh hak dasar warga negara seperti pendidikan dan pekerjaan.

“Kemudahan akses terhadap informasi tidak lantas mengubah cara pandang bagaimana perempuan harusnya memiliki kesempatan yang setara”

Menurut pengamatan saya dalam memenuhi hak dasarnya perempuan di Indonesia tidak memiliki hambatan eksternal seperti hukum yang mengatur tidak diperbolehkannya perempuan mengenyam pendidikan tinggi atau menjadi wanita karir (meskipun di beberapa institusi menggunakan tes keperawanan sebagai indikator kelulusan), sekali lagi hambatan terbesar justru lahir dari tubuh masyarakat itu sendiri.

Padahal, memangnya apa sih kekhawatiran dari setaranya hak perempuan dan laki-laki? Apa laki-laki merasa terancam dominasinya kalau perempuan jadi lebih mandiri? bukannya keberhasilan dalam masyarakat lebih mudah diwujudkan bila laki-laki dan perempuan saling bahu-membahu untuk mencapai tujuan? Nah, untuk dapat bekerjasama dengan lebih leluasa tentunya perempuan harus dilepaskan dari stigma yang melekat bukan?

Saatnya kita bertanya pada hal yang dianggap normal-normal saja

Perempuan tidak dibenarkan untuk memilih, karena hukum fisika dan biologis yang tidak memungkinkan atau karena budaya patriarki tidak membenarkan ? Bila selama ini dominasi laki-laki disegala sektor dibenarkan karena anggapan bahwa dari segi otot laki-laki lebih kuat daripada perempuan.

Nyatanya sejak jaman kegelapan eropa, perempuan dilarang melakukan pekerjaan yang membutuhkan otak. Justru pekerjaan yang dibebankan kepada perempuan adalah pekerjaan yang lebih membutuhkan kekuatan otot dibanding otak contohnya membersihkan rumah dan berkebun.

Baca Juga  Bukan Valentine, Ini Penyebab Anak Muda Tidak Bisa Berinovasi, Mungkin Kamu adalah Korbannya?

Sedangkan laki-laki diperkenankan untuk menjadi politisi, pengacara, bankir, seniman, pendeta yang notabenenya lebih menguras otak dibanding otot. Melalui proses yang panjang ini harusnya massa otot perempuan memang lebih besar daripada laki-laki.

Terlebih bagi manusia kemampuan untuk mempertahankan hidup tak melulu soal otot, tapi soal beradaptasi nah, peluang beradaptasi lebih besar dilakukan oleh makhluk yang berakal. Jadi kalau cuma soal otot, gajah pun lebih kuat daripada manusia. Anggapan bahwa perempuan lemah dari segi otot ini karena dihitung secara terburu-buru dan menggeneralisir.

Feminisme bukan hanya untuk perempuan

Disinilah feminisme bekerja, bila disimpulkan feminisme adalah paham yang memperjuangkan kesetaraan gender. Feminisme lahir dari adanya anggapan bahwa laki-laki kodratnya lebih tinggi daripada perempuan sehingga nilai lebih jatuh kepada laki-laki seperti lebih berpendidikan, memiliki keleluasaan dalam memperjuangkan pilihan serta karirnya, anggapan bahwa perempuan merupakan objek sehingga dapat dimiliki oleh laki-laki sampai seluruh keputusan yang berkaitan dengan hidupnya menjadi tanggungjawab laki-laki tanpa melibatkan peran perempuan.

Kehadiran feminisme dengan tuntutannya kesetaraan gender dapat diartikan sebagai terbukanya akses yang sama terhadap seluruh hak dasar manusia. Kalau dilihat lebih jauh lagi nilai-nilai feminisme ini tidak hanya diperuntukan kepada perempuan, tapi juga laki-laki karena terdampak pula terhadap stigma gender.

“Kehadiran feminisme dengan tuntutannya kesetaraan gender dapat diartikan sebagai terbukanya akses yang sama terhadap seluruh hak dasar manusia.”

Jenis kelamin itu perkara mudah, untuk menjadi perempuan anda hanya perlu memiliki sepasang kromosom X dan untuk menjadi laki-laki anda hanya harus memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Sedangkan perkara gender lebih rumit, untuk menjadi laki-laki anda perlu terikat pada standar masyarakat mengenai apa yang mereka anggap sebagai laki-laki.

Bahkan terdapat pula sebutan “laki-laki sejati” yang menggambarkan nilai-nilai maskulin sempurna, seumur hidup seseorang dengan gender laki-laki harus selalu membuktikan nilai kelaki-lakiannya dan bila tidak maka kelelakian anda perlu dipertanyakan.

Nilai-nilai maskulinitas yang mengikat laki-laki tiap kebudayaan pun berbeda, namun di jaman modern hampir seluruh kebudayaan sepakat bahwa laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki harus bertubuh kekar, hingga pilihan warna pakaian laki-laki didominasi warna gelap yang melambangkan citra maskulin padahal colour has no gender, right ?

Stigma yang melekat pada gender baik laki-laki maupun perempuan ini menghambat kolaborasi antar individu, pada skala besar turut mempengaruhi kinerja manusia secara kolektif dalam tatanan masyarakat karena manusia memilih dan dipilih dalam bekerja atau berkontribusi membangun bangsanya bukan berdasarkan profesionalitas melainkan karena stigma yang melekat.

Baca Juga  Habis Sharing Economy Gen Y, Terbitlah WEconomy Gen Z

Contohnya dalam skala kecil perempuan yang daftar jadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tidak diloloskan seleksi administrasi karena anggapan bahwa emosi perempuan tidak stabil sehingga kemampuan leadership-nya dianggap kurang mumpuni dibandingkan laki-laki, sebagai gantinya perempuan cukup menjadi sekretaris karena tulisannya rapi kalau mencatat hasil rapat atau bendahara karena teliti kalau menghitung uang kas.

Padahal ada juga laki-laki yang tulisannya rapi dan teliti, tapi kurang dipercaya kalau dijadikan bendahara. Nah yang begini-gini nih berarti menempatkan manusia bekerja bukan karena profesionalitasnya melainkan karena stigma yang melekat. Hasilnya? menghambat organisasi tersebut mencapai program kerjanya dong.

Berpikir kesetaraan gender sejak dalam pikiran

Itu tadi baru contoh di dunia kampus, bagaimana kalau sampai ke dunia kerja ? Bagaimana kalau sampai dalam skala negara, pembuat kebijakan juga berkaca dari stigma masyarakat ? Coba teman-teman sendiri yang bayangin.

Tapi kalau cuma dibayangin kita tidak merubah apa-apa, makanya sebagai generasi muda kita perlu sadar akan hal ini dari sekarang dan mulai untuk take action. Feminisme lebih dari soal pilihan perempuan jadi ibu rumah tangga atau wanita karir, feminisme lebih dari sekadar laki-laki boleh pakai baju pink atau jago make up.

Kita tidak sedang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk menjadi kelas baru yang mendominasi laki-laki, bukan. Pada tatanan yang lebih tinggi kita memperjuangkan bagaimana kolaborasi yang sehat sesama manusia, apapun gendernya memiliki kesempatan yang setara.

Khususnya di era globalisasi saat ini masyarakat semakin cair. Kita dituntut untuk bekerja sama bukan hanya dengan warga sebangsa – setanah air, kemajuan zaman menuntut manusia untuk berkolaborasi secara profesional.

“Make patriarch and matriarch irrelevant ! Collaboration is our future!”

Kalau stigma masyarakat menghambat, ya perlu kita babat ! Untuk kaum laki-laki yang suka masak, maka lakukanlah, jadilah expert di bidangnya. Begitu juga kaum perempuan yang sudah berumah tangga dan mau melanjutkan pendidikannya maka lakukanlah ! Urus anak bukan hanya tugas perempuan tapi juga tugasnya laki-laki karena dalam rumah tangga harusnya tidak ada yang mendominasi, semua masalah diselesaikan sesuai kesepakatan bersama. Make patriarch and matriarch irrelevant ! Collaboration is our future !

 

Mira Ayu Dwi Cahyani adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang sehari-hari menulis di miraksara.home.blog dan meramu gagasan di @coretanakbangsa. Ia seorang penggiat literasi yang menyukai buku-buku bertema filsafat dan popular science.


Bagikan