6   +   4   =  
Bagikan

Berdasarkan data Kementerian Keuangan tahun 2019, saat ini lebih dari 50 juta rakyat Indonesia tergolong kelas menengah atas bahkan sudah naik mendekati 60 juta dan 120 juta penduduk merupakan aspiring middle class (kelas menengah harapan) yakni kelompok yang tidak lagi miskin dan menuju kelas menengah yang lebih mapan.

Sebagaimana dikutip Nizar dalam “What is Middle Class about the Middle Classes around the World?” yang terbit di Journal of Economic Perspectives (vol.22, no.2, hlm. 3-28), Banerjee & Duflo  (2008) menyebutkan bahwa salah satu karakteristik kelas menengah yaitu mendorong permintaan terhadap barang-barang konsumsi berkualitas tinggi dengan skala  produksi yang meningkat (increasing returns to scale) karena mereka memiliki kemauan dan kemampuan untuk membayar ekstra atas produk-produk  berkualitas tinggi.  Hal inilah  yang  mendorong  perusahaan  untuk  melakukan  investasi  dalam  produksi dan  pemasaran, yang  kemudian  berpotensi  mendorong  peningkatan  pendapatan bagi setiap orang dan pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan Sisca Soewitomo, salah satu pesohor boga paling terkenal di tanah air. Menurutnya, gaya hidup masyarakat akan memengaruhi pertumbuhan bisnis kuliner. Orang yang memiliki uang cenderung akan memilih makan di tempat yang lebih nyaman walaupun harganya sedikit lebih mahal.

Saat ini bisnis kuliner menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Berbicara masalah kuliner, kuliner berbahan dasar daging ayam merupakan yang paling favorit bagi masyarakat Indonesia. Selain mudah didapat, harganya juga lebih murah dibandingkan dengan pangan sumber protein hewani lainnya. Selain itu, hal ini juga didukung dengan melimpahnya bahan baku. Indonesia sendiri menempatkan dirinya sebagai salah satu produsen daging ayam terbesar di dunia. Lebih dari 3 miliar ekor ayam diproduksi dan dipotong setiap tahunnya.

Baca Juga  Generasi Prekariat Indonesia: Berpendidikan dan Beresiko

Daging ayam juga merupakan bahan pangan hewani yang lengkap akan kandungan gizinya seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Daging ayam juga mengandung 18 asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dan berfungsi dalam pembentukan sel-sel jaringan baru serta perbaikan jaringan sel tubuh yang rusak.

Sebuah aplikasi layanan pesan antar makanan yakni GoFood, merilis data bahwa sepanjang tahun 2019 yang lalu, sebanyak 300 juta ayam geprek terjual melalui aplikasinya. Jika asumsi 1 porsi ayam geprek dihargai sebesar Rp10.000 per per porsinya, maka dari transaksi ini saja mencapai 3 triliun rupiah. Angka yang tentu sangatlah besar. Belum lagi jika ke sektor perunggasannya secara umum, maka tak ayal jika asosiasi perunggasan menyebutkan bahwa nilai yang berputar di industri ini mencapai 400 triliun rupiah per tahun.

Pendapatan masyarakat yang kian meningkat, ditambah lagi semakin berkembangnya varian menu yang disajikan, membuat wisata kuliner menjadi gaya hidup masyarakat kita terutama warga muda di perkotaan. Adanya media sosial seperti instagram yang difungsikan sebagai sarana untuk mengunggah foto, semakin menambah semaraknya foto-foto kuliner berbahan dasar daging ayam yang bermunculan di beranda instagram.

Peluang bisnis akibat meningkatnya gaya hidup masyarakat Indonesia inilah yang kemudian dapat ditangkap dengan baik oleh anak muda Indonesia. Ciri anak muda yang cepat tanggap terhadap informasi, memiliki ide kreatif, serta melek teknologi membuat mereka lebih berani untuk terjun dalam bisnis kuliner yang lebih kekinian. Bagi yang memiliki tempat untuk berjualan, mereka mengkreasi tempat yang lebih asik untuk dipandang. Hal itu akan membuat menarik saat difoto dan diunggah ke instagram oleh para pembeli/pelanggan. Sedangkan bagi yang tidak memiliki tempat, mereka tetap bisa menjualnya dari rumah dan mengandalkan aplikasi layanan pesan antar makanan yang kini dengan mudah bisa ikut bergabung di dalamnya.

Baca Juga  Kebangkitan Kidult, Saat Yang Muda Menolak Dewasa

Kuliner berbahan dasar daging ayam juga bisa dikreasi sesuai dengan pasar yang diharapkan. Jika hanya ditargetkan untuk cemilan, maka sayap, kulit, jeroan, bahkan ceker ayam bisa digunakan. Akan tetapi jika untuk makanan berat, paha dan dada bisa dibuat menjadi ayam goreng, bakar, asap dan sebagainya yang sejauh ini banyak ditemukan di pasaran. Semuanya bisa ditambah dengan kreasi sambal yang tingkat kepedasannya bisa disesuaikan dengan selera para pembeli.

Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan mengalami bonus demografi di mana jumlah tenaga kerja produktif akan jauh lebih banyak. Bonus demografi ibarat dua sisi mata pisau, bisa menjadi manfaat jika dipersiapkan dengan benar, bisa menjadi petaka dan beban jika tidak dipersiapkan. Anak muda mau tidak mau akan menjadi tumpuan ekonomi bangsa. Mereka tidak bisa lagi hanya berdiam diri dan pasrah melihat keadaan, sudah saatnya yang muda yang berkarya. Membuka bisnis kuliner bisa menjadi salah satu jalan untuk menggapai kesuksesan dan mengurangi angka pengangguran.

 

Farid Dimyati adalah  Pemimpin Redaksi majalah Poultry Indonesia. Saat ini berkhidmat sebagai Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia dan Wakil Ketua Forum Media Peternakan.


Bagikan