10   +   9   =  
Bagikan

Anak muda jadi dilema, karena Dilan. Sudah tidak asing bukan dengan tokoh Dilan yang ada dalam novel bestseller karya Pidi Baiq yang baru-baru ini difilmkan dan jumlah penontonnya yang sungguh fantastis di hari ke 32 sudah menembus 6 juta penonton bahkan Presiden Jokowi pun juga menontonnya sob. Jadi tidak mengherankan bila film Dilan ini benar-benar meng-influence khalayak anak muda Indonesia dalam hal percintaan ala anak SMA.

Rayuan-rayuan Dilan ke Milea seakan mengobati kerinduan anak muda akan romantisme dengan pasangannya ketika pacaran. “Jangan rindu Milea, berat, kau tak akan kuat biar aku saja”. Kata-kata manis nan romantis yang meluluhkan hati perempuan. Siapa sih sob yang tidak ingin diperlakukan romantis? Pasti semuanya ingin diperlakukan seperti itu. Inilah mengapa film-film romantis pacaran ala anak SMA ini sangat booming sebulan terakhir.

Sebelum ada Dilan, juga ada sosok romantis dalam percintaan, yakni ada Fahri yang dalam film Ayat-Ayat Cinta yang juga menghipnotis khalayak anak muda dengan sifat sabar, cerdas, modern dan sadar lingkungan terlebih romantis dengan pasangannya juga. Meskipun didera dilema untuk memilih karena dilema cinta segitiga.

Bagaimana Fahri dilema ketika Aisha hilang tak ada kabar, kemudian menikahi sepupu Aisha yakni Hulya, kemudian datang Keira yang sebelumnya melampiaskan kemarahannya karena ayah Keira harus terbunuh dalam sebuah serangan teroris, namun Fahri malah membalas kemarahan Keira dengan secara diam-diam membayar guru les biola terwahid untuk mengajar Keira. Setelah Fahri menikah dengan Hulya, Keira kemudian mengetahui kebaikan hati Fahri dan Keira meminta Fahri untuk menikahinya. Memang Fahri sosok yang sangat sempurna untuk dijadikan pasangan hidup.

Lalu sesuai dengan judul apa hubungannya Dilan, Fahri dengan bonus demografi sob? Jadi begini sob, tahu kan bahwasannya penonton film cinta-cintaan seperti Dilan dan Ayat-ayat Cinta itu sebegitu banyaknya? Nah, hal itu menandakan bahwa anak muda Indonesia memiliki interest yang cukup tinggi perihal percintaan.

Baca Juga  Generasi Milenial adalah Generasi Negatif, Masa Iya?

Mengapa percintaan sebegitu diminati? Karena hal ini pasti dialami oleh setiap manusia. Manusia dibekali perasaan dan rasa cinta. Cinta, bisa membuat bahagia tapi juga bisa membuat galau sepanjang masa.

Nah, lantas bagaimana di tengah wacana bonus demografi yang kelak akan menjadi momentum bagi kemajuan bangsa ini, sob? Seperti yang kita tahu bahwa tahun 2020 sampai 2030 penduduk dengan usia produktif Indonesia mengalami peningkatan jumlah yang signifikan.

Bonus demografi ini harus menjadi perhatian serius bagi anak muda seperti kita ini sob, bukan hanya serius dalam hal percintaan saja. Bonus demografi hanya berlangsung sekali saja dalam setiap sejarah suatu negara, bila bonus demografi tidak dimanfaatkan maka ini juga akan menjadi bumerang untuk negara kita sendiri.

Meningkatkan kesadaran bahwa keterlibatan anak muda dalam perumusan kebijakan juga penting untuk menyongsong bonus demografi itu sob. Selama ini memang pemerintah optimis terkait bonus demografi Indonesia ini, tetapi bila nanti lapangan kerja makin sempit yang ada malah akan menjadikan anak muda menjadi menambah panjang permasalahan pengangguran di negara kita ini. Keterlibatan anak muda sudah bukan lagi hanya sekadar pelengkap aspirasi atau masukan untuk pemerintah saja, tapi turut serta masuk ke dalam lembaga pembuat kebijakan dengan masuk sistem parlemen.

Di belahan dunia sana seperti Inggris, Perancis atau Austria bahkan yang terdekat yakni Hongkong, anak-anak mudanya sudah tergerak untuk lebih peduli pada politik negaranya. Dengan meningkatnya jumlah penduduk usia produktif ini mau tidak mau anak muda harus aktif juga dalam dunia perpolitikan, jangan malah antipati terhadap politik.

Anak muda jangan hanya mengedepankan untuk memilih pasangan yang romantis dan setia saja, tapi anak muda harus masuk ke dalam dunia politik. Kuota 30% di parlemen untuk anak muda supaya aspirasi tidak bias oleh generasi tua juga menjadikan representasi politik konkret anak muda di Indonesia.

Baca Juga  Bucin adalah Penyakit, Emansipasi Gender Obatnya!

Sekarang sudah bukan saatnya kita hanya pamer punya pasangan cantik atau ganteng juga dengan berbagai fashion kekinian, tapi keterlibatan dalam politik menyongsong bonus demografi itu penting. Anak muda jangan hanya disibukkan dengan urusan percintaan tapi juga harus memikirkan masa depan. Dilan dan Fahri dapat dijadikan panutan tapi tetaplah kita harus meningkatkan kualitas diri sob. Ya kali nanti pasangan kamu mau dikasih makan cinta? Kan engga! Hehehe.


Bagikan