6   +   3   =  
Bagikan

Sikap Pemuda Dunia terhadap Covid-19-Warga Muda

Hampir 4 bulan, Covid-19 telah menjelma menjadi pandemi. WHO menganggap situasi ini termasuk darurat kesehatan. Negara maju maupun berkembang terancam krisis. Ini menjadi isu penting pemerintah dunia, karena bisa kapan saja gejolak ekonomi memicu krisis sosial politik di berbagai sudut bumi.

Para ahli  epidemiologi menganalisis berbagai dampak kesehatan yang dapat menghancurkan masa depan anak muda dan keluarganya. Aspek lainnya, daya tahan ekonomi mereka bisa jadi runtuh, dan karir mereka tumbang di tengah jalan.

PBB saat ini mencoba untuk mengantisipasi skenario paling buruk. Prioritas mereka saat ini adalah menyelamatkan masa depan umat manusia.  Dalam upaya ini, PBB berharap pada peran pemuda untuk membantu sistem kesehatan dunia dengan bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, setidaknya pemuda-pemudi tidak terpapar dan memperparah situasi ini.

Menurut PBB, saat ini lebih dari satu miliar anak muda tidak lagi sekolah  secara fisik di sekolah. Kaum muda  yang menjadi pekerja migran, pekerja informal, atau tuna wisma akan tertimpa sesuatu yang lebih buruk dari  yang kita pikirkan saat ini. Ledakan pengangguran mungkin tak terelakan, maka jaminan sosial harus  kuat menanggulangi ini.

Solidaritas antargenerasi harus menjadi kunci bagi kebijakan yang inklusif di kala pandemi seperti ini.  Berikut adalah rekomendasi yang diajukan oleh negara-negara anggota PBB untuk menjamin masa depan anak muda di seluruh dunia:

Pertama, memberikan jaminan kesehatan kepada seluruh remaja dengan  sistem yang efektif dalam memenuhi kebutuhan kesehatan kaum muda  selama Covid-19.

Kedua, menjamin informasi yang akurat dan sederhana untuk kaum muda agar mereka dapat diberdayakan.

Ketiga, pantau pengangguran dan setengah pengangguran kaum muda. Ambil tindakan untuk mempromosikan pekerjaan yang layak untuk kaum muda.

Baca Juga  Nakal itu Keren, Asal Ditempatkan pada Empat Hal Ini

Keempat, mengoptimalkan pendidikan melalui metode digital dan non-digital untuk memastikan kelanjutan pembangunan sumber daya manusia yang terampil.

Kelima, melindungi hak-hak migran, pengungsi dan pemuda minoritas lainnya selama epidemi ini. Termasuk hak atas perawatan kesehatan, dan memerangi maraknya xenophobia dan rasisme akibat penyebaran Covid-19.

Keenam, pastikan bahwa sistem perlindungan sosial mencakup semua anak muda, dengan perhatian khusus kepada mereka yang paling rentan dan terpinggirkan, seperti pemuda tunawisma, pemuda dengan cacat, pemuda tanpa tabungan, dll.

Ketujuh, melibatkan remaja secara bermakna dalam pengembangan kesehatan, ekonomi, dan sosial intervensi dalam menanggapi Covid-19 dan dalam proses pemulihannya.

kedelapan, berikan insentif kepada inovasi kaum muda untuk melakukan pencegahan,  pengobatan dan manajemen dampak sosial ekonomi akibat Covid-19.


Bagikan