7   +   8   =  
Bagikan

Coba bayangkan jika kamu hidup di tahun 1920-an. Di hari minggu, tepat pada 28 Oktober 1928, kamu terbangun dari tidur dan bergabung dengan para pemuda Indonesia lainnya untuk saling mengikrarkan janji sebagai tumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan.

Kira-kira bagaimana perasaan kamu saat itu? Pastinya merinding dan bangga karena menjadi bagian dari peristiwa penting, bukan?

Perjuangan kepemudaan tidak hanya berhenti pada Sumpah Pemuda saja. Para pemuda harus tetap berjuang sampai sekarang. Meskipun begitu, perjuangan pemuda tidak dapat berjalan dengan mulus tanpa adanya dukungan dari pemerintah.

Secara teknis, upaya pemerintah dalam hal ini sudah dijabarkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) 66/2017 tentang “Koordinasi Strategis Lintas-sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan”.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan pembangunan kepemudaan? Menurut The Commonwealth (2013), pembangunan pemuda merupakan usaha untuk meningkatkan status pemuda, memberdayakan pemuda dalam membangun kompetensi, dan kemampuan dalam menjalani hidup.

Community Network for Youth Development (2001) juga memberikan definisi tentang pembangunan kepemudaan yaitu, suatu proses di mana semua pemuda mencari cara untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosial dasar, serta berupaya untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan di masa muda.

Pertanyaannya, apakah Perpres tentang Pembangunan Kepemudaan ini sudah berjalan secara efektif?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, mari kita evaluasi program-program apa saja yang sudah dijalankan Kemenpora RI untuk mewujudkan pembanguan kepemudaan. Namun harus diakui, bahwa pembangunan kepemudaan sudah mengalami kemajuan secara kualitatif dan kuantitatif.

Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah pemuda Indonesia yang berhasil memenangkan olimpiade di bidang biologi, fisika, komputer, matematika, seni, budaya, dan event internasional lainnya. Selain itu, semakin banyak pemuda yang berupaya untuk membawa perubahan positif dalam bidang ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Milenial Kelas Bawah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) II Tahun 2010-2014 juga telah berupaya untuk memperkukuh karakter dan jati diri pemuda, serta mendorong peningkatan partisipasi dan peran aktif pemuda dalam pembangunan.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenpora RI adalah dengan memperhatikan kondisi umum kepemudaan yaitu, penyadaran pemuda, pemberdayaan pemuda, dan pengembangan pemuda.

Program penyadaran pemuda dilakukan untuk membuat para pemuda lebih aktif bergerak dalam aspek ekonomi, ideologi, hukum, politik, pertahanan, sosial dan budaya. Sebagai contoh, pada 2011 telah diadakan pertukaran pemuda antar negara untuk meningkatkan kesadaran pemuda terhadap pentingnya aspek-aspek tersebut.

Pertukaran pemuda dilakukan antara Indonesia-Kanada dengan jumlah 54 peserta, Indonesia-Australia dengan 36 peserta, Indonesia-Malaysia dengan mengirimkan 33 peserta dan Indonesia-Korea berjumlah 10 peserta.

Adapun program lainnya seperti, Program Jenesys, Program Jambore Pemuda Indonesia dan Bakti Pemuda Antar Provinsi, serta program penyadaran pemuda lainnya.

Kemepora juga menerapkan kegiatan yang bertujuan untuk pemberdayaan pemuda dan pengembangan pemuda. Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk pengembangan pemuda antara lain memfasilitasi pelatihan Ketahanan Nasional Pemuda (Tannasda), memfasilitasi pelatihan kepemimpinan pemuda, memfasilitasi Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (PSP3), dan memfasilitasi pelatihan kewirausahaan pemuda.

Dari semua program yang sudah diterapkan di atas, semuanya menuju pada bentuk partisipasi pemuda, bukan representasi. Menurut saya, Perpres Pembangunan Kepemudaan sudah berjalan dengan cukup baik, namun belum dilaksanakan secara maksimal.

Kita harus memperjuangkan representasi bukan hanya partisipasi!

Sudah banyak program kepemimpinan atau kepemudaan yang diadakan khusus untuk kalangan anak muda. Akan tetapi, apakah keikutsertaan mereka dapat dikatakan sebagai suatu prestasi?

Partisipasi aktif memang akan menghasilkan banyak prestasi, namun pemuda juga perlu menjadi representasi agar mendapat otorisasi. 

Baca Juga  Youthquake, Apa Sih Itu?

Menurut saya, masih banyak dari kita yang beranggapan bahwa partisipasi aktif untuk ikut program ini itu sudah sangat luar biasa. Tumpukkan sertifikat dan piagam penghargaan seakan membuat kita yakin bahwa masa depan ada digenggaman kita.

Nyatanya, kita  baru hanya menjalankan partisipasi, bukan representasi. Masih belum percaya? Kamu bisa membaca artikel kami sebelumnya yang berjudul “Hanya 4 Persen Representasi Politik Anak Muda di DPR RI”.

Situasi ini membuktikan bahwa proses kebijakan politik masih didominasi oleh generasi sebelum kita. Tidak ada yang salah dari hal ini. Terlebih lagi, pemuda memang akan selalu memerlukan peranan “orang tua” untuk mengarahkan mereka menjadi individu yang bijak dalam bertindak. Namun, perlu diingat bahwa dunia berubah dengan sangat cepat dan dinamis.

Bonus demografi akan segera datang dalam waktu 10 tahun lagi. Haruskah bonus demografi hanya dipenuhi para pemuda yang bangga memamerkan sertifikat program-program kepemimpinan tanpa memiliki kekuatan atau otorisasi apapun? Tentu saja tidak!

Saya yakin bahwa pemuda bukan hanya perlu meningkatkan partisipasi mereka, namun juga menjadi representatif yang kuat untuk mengubah kebijakan politik yang lebih dinamis.

10 Tahun dari sekarang, kita akan menuju bonus demografi. Oleh karena itu, Pembangunan Kepemudaan perlu disiapkan dari sekarang! Karena dengan membangun pemuda, sama saja seperti membangun masa depan.

Warga Muda, yuk mulai dari sekarang kita bukan hanya berpartisipasi, namun juga berusaha untuk menjadi representasi.


Bagikan