9   +   1   =  
Bagikan

Pandemi COVID-19 dan Harapan Pemuda Terhadap Pemerintah Indonesia -Warga Muda

Di tengah kegelisahan dan ketakutan terhadap bahaya pandemi Covid-19, bolehkah para pemuda masih menaruh harapan tinggi terhadap pemerintah?

Pemuda kerap dianggap berperan penting untuk menekan laju estafet penyebaran Covid-19. Alasannya, kebanyakan pemuda berpotensi besar sebagai carrier dari severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau virus Corona, tanpa gejala apapun. Apabila pemuda masih mengabaikan physical distancing, maka konsekuensinya sangat fatal. Jumlah pasien positif COVID-19 akan semakin meningkat, terutama dari kalangan orang lanjut usia (lansia).

Pemuda juga dianggap sebagai aktor penting untuk meminimalisasi penyebaran hoax dan garda terdepan untuk menyuarakan kampanye gerakan #dirumahaja agar kurva penularan Covid-19 terus melandai ke bawah. Namun dari semua harapan yang ditujukan kepada pemuda, bolehkah mereka berharap banyak pada pemerintah dalam menangani pandemi ini?

Kondisi ini memang tidak mudah bagi semua orang. Bahkan, pertemuan G20 antara Menteri-Menteri Keuangan, Gubernur Bank Sentral, juga seluruh G20 leaders yang digelar secara virtual, semuanya sepakat mengatakan situasi ini adalah extraordinary. Situasi luar biasa ini tentunya memerlukan action dan policy yang extraordinary juga.

Jika kita refleksikan, kita-kita ini sebagai pemuda ternyata dianggap memiliki peranan yang begitu penting untuk membantu mengatasi Covid-19. Bagaimana tidak, virus ini bukan hanya menjadi musuh bangsa, namun musuh semua orang di seluruh dunia. Tapi ngomong-ngomong, dari semua harapan yang ditujukan kepada pemuda. Apakah kita tetap bisa menaruh harapan yang tinggi terhadap pemerintah? Di mana isu kesehatan ini acap kali berujung menjadi polemik politik yang tiada habis.

Ini pandemi, bukan ajang kontestasi diri

Di awal kehadiran Covid-19 di Indonesia, beberapa pihak menyayangkan kinerja pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Aparatur pemerintah seakan tidak bersikap cepat, tepat dan tegas. Satu berkata A dan yang lain berkata B. Tidak jelas, bahkan sulit untuk memiliki suara yang saling berirama. Bagian yang paling menyedihkan adalah ketika isu kesehatan ini menjadi ajang kontestasi politik agar terlihat menjadi paling terdepan dalam menangani kasus Covid-19.

Baca Juga  Pelajaran dari Penanganan Covid 19: Ancaman Terhadap Negara Tidak Hanya Bersifat Konvensional (2)

Padahal kalau ingin dipikir kembali, para tenaga medis pun tidak ingin disebut-sebut sebagai garda terdepan dalam menangani kasus Covid-19. Mereka yang jelas-jelas bertaruh nyawa setiap saat dan menjadi bagian di garis terdepan kompak mengatakan bahwa garda terdepan adalah kita semua, masyarakat secara keseluruhan.

Itu artinya semua lapisan masyarakat, tidak peduli apakah dia pejabat atau bukan, kita semua memegang kendali dan peran yang kuat untuk bahu membahu bertahan dalam isu kesehatan ini. Karena sejatinya, image positif itu tidak perlu dicari atau dibuat-buat. Namun, yang perlu dicari adalah “tugas apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk menangani permasalahan ini bersama-sama?”.

Stop kebijakan bunglon!

Selain kontestasi politik, pemuda Indonesia juga dibuat pusing tujuh keliling oleh kebijakan-kebijakan politik yang bisa berubah-ubah dalam sekejap. Saya menyebutnya sebagai kebijakan bunglon.

Beda pejabat, beda pula kebijakan dan imbauannya. Kondisi ini seakan-akan seperti “Yaudah, terserah lo ikut keyakinan yang mana?”.

Padahal, musuh kita itu cuma satu saat ini yaitu, Covid-19. Buat apa memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Kebijakan di masa pandemi ini malah seperti mie instan.

Cepat jadinya, terlihat enak, namun tidak baik buat kesehatan. Salah satu contoh kebijakan yang berubah-ubah adalah larangan untuk mudik. Dari kebijakan ini saja kita bisa melihat bagaimana pemerintah kurang solid dalam kebijakan yang mereka buat.

Tegakkan transparansi untuk menghindari korupsi

Resah. Satu kata ini mungkin dapat mewakili para keluarga pra-sejahtera yang rentan terdampak Covid-19. Mereka sempat dituduh sebagai pembawa virus. Katanya, orang miskin itu harus berdiam diri di rumah, biarkan mereka yang tidak masuk ke dalam kalangan orang susah dapat bekerja dengan tenang. Padahal warga rentan juga ingin di rumah tanpa terkena virus, apalagi menyebarkan virus.

Baca Juga  Keluarga Bos Lokal dan Anak Muda Tanpa Hak Istimewa

Namun mereka akan berpikir, “kalau tidak bekerja, nanti anak dan istri makan apa?” Sedangkan, bantuan bagi mereka banyak dicurangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pencatatan kependudukan Indonesia memang masih dibilang sangat kacau. Tentunya, ini masih menjadi catatan dan tugas besar bagi kita sebagai bangsa yang ingin terus maju ke depan.

Tak perlu saling tunjuk, apalagi saling tuduh

Aksi saling tunjuk dan saling tuduh seakan menjadi hal yang wajar untuk kita lihat. Pemuda kerap dianggap sebagai agen pembaharuan (agents of change) yang harus meninggalkan kebencian dan menciptakan kedamaian. Namun, drama pertengkaran dan saling sindir yang terjadi antara satu pejabat dengan pejabat lainnya seakan menjadi cemilan sehari-hari para pemuda.

Lantas, apakah pemuda tetap harus optimis terhadap negeri Ini?

Jawabannya adalah “Iya, tentu saja!”. Bukankah memang tugas pemuda harus menjadi makhluk yang kritis, namun bukan pesimistis! Dari semua drama queen yang mungkin kita lihat dalam tayangan berita dan informasi di media sosial setiap hari, seharusnya tidak membuat kita menjadi pemuda yang pesimistis akan masa depan Indonesia.

Biarlah semua kesalahan pemimpin negeri ini hanya terjadi pada sekarang ini. Tugas kita adalah mengkritisi, namun bukan berarti membenci. Ingat bagaimana seorang ibu suka cerewet menasihati anaknya. Hidupnya seakan penuh dengan kritik terhadap diri kita. Namun, sebenarnya itu adalah ungkapan rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Sekarang situasinya dibalik, anggaplah para pemimpin kita adalah ayah atau ibu kita.

Kritik yang membangun adalah nasehat dan harapan dari pemuda kepada orang tua mereka. Dan, masa depan Indonesia dibangun ketika semua para pemuda selalu ingat apa yang menjadi harapan dan kritik mereka terhadap para pemimpinnya terdahulu. Dengan begitu, kita semua bukan hanya menjadi pemuda yang tidak melupakan sejarah, namun juga menjadi pemuda yang selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang tercatat dalam sejarah.

Baca Juga  Corona Ancam Bonus Demografi di Indonesia

Yuk, mulai dari hari ini kita bersama-sama beraksi. Berusaha menjadi generasi yang penuh kasih, bukan menjadi pemuda-pemudi yang saling membenci. Menjadi garda terdepan dengan semangat berkolaborasi untuk negeri dan ibu pertiwi. Salam Warga Muda!


Bagikan