3   +   9   =  
Bagikan

Pandemi mengagetkan kita semua. Peristiwa ini tidak pernah  dibayangkan, tapi umat manusia sudah pernah mengalami hal serupa. Pandemi membawa dampak yang ekstrem, ia menghantam negara, menantang produsen, menggerus pekerja dan mengkarantina konsumen.

Semua orang kini memperbincangkan pandemi. kita semakin dibuat kocar-kacir oleh berbagai analisa mereka. Bangsa kita sedang di dera kepanikan untuk mencari sebuah jawaban dari sebuah peristiwa luar biasa.

Tidak ada yang aneh, karena memang ini merupakan sifat manusia. Selalu mencari penjelasan atau sebab dari sebuah peristiwa. Manusia selalu berkeyakinan, bahwa segala sesuatu dapat diterangkan, direncanakan dan diprediksi.

Sampai hari ini, Saya sendiri melihat, semakin tidak terduga sebuah peristiwa, makin besar dampak yang  ia berikan kepada kehidupan kita secara keseluruhan.

Hal ini berlaku sama di berbagai sektor baik sektor publik, privat maupun masyarakat sipil. Karena peristiwa tak terduga selalu berhasil memutar balikan bahkan mengkoreksi keyakinan kita semua.

Berbicara peristiwa langka, buat saya, Nassim Nicholas Taleb masih menjadi ahlinya, melalui buku The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable, ia membuat metafora Angsa Hitam untuk menjelaskan peristiwa yang dianggap “ajaib”.

Angsa Hitam menurut  Taleb (2007) adalah peristiwa langka yang tidak dapat diprediksi, memberikan dampak yang masif dan sesudah terjadi mendorong masyarakat untuk mencari sebab musabab dari peristiwa tersebut.

Angsa Hitam menunjukan wajah dari struktur berfikir masyarakat yang terbiasa dengan “kepastian” namun tidak terbuka pada “ketidakpastian”.

Hal ini yang membuat kita lebih sering mengapresiasi dokter yang dapat membuat orang sakit menjadi sehat daripada  kader Posyandu yang memberikan berbagai informasi kesehatan  yang dapat mencegah kita agar tidak sakit.

Padahal kita semua tahu bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, tetapi dilapangan tidak banyak imbalan berarti bagi orang-orang yang sejak awal bekerja untuk mencegah dan menanggulangi berbagai masalah (ancaman) sebelum terjadi.

Baca Juga  Doa Bulan Puasa untuk Generasi Muda Indonesia

Upaya “pencegahan” atau orang-orang yang bekerja di sektor ini, sering kali diremehkan bahkan dipinggirkan dari rencana-rencana strategis baik di sektor publik maupun sektor privat bahkan di tengah lingkungan masyarakat.

Bahkan kalau mau dibandingkan gajinya, pekerja yang mengobati orang sakit sudah pasti lebih besar daripada pekerja yang mencegah orang sakit.

Apresiasi masyarakat kita begitu rendah kepada orang-orang yang berada di garda terdepan pencegahan. Padahal merekalah yang membuat kita selamat dari ancaman apapun, sebelum menimpa kita.

Pandemi dan Masyarakat Resiko

Sejak dilanda pandemi, saya melihat kehidupan masyarakat semakin beresiko. Mengelola dan menanggulangi resiko menjadi urusan fundamental buat semua pihak sekarang.

Kita harus mulai mengkalkulasi potensi risiko-risiko yang tak terbayangkan yang akan muncul akibat pandemi dan pada saat yang sama menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Menurut Ulrich Beck,  dalam buku World Risk Society, masyarakat beresiko memiliki tiga karakteristik.

Pertama, resiko tidak hanya berdampak pada suatu  wilayah tertentu. Kedua, resiko tidak dapat dihitung dan diprediksi. Ketiga, resiko tidak dapat dikompensasi secara sempurna. Semua karakteristik ini  menjadi semakin kompleks akibat COVID-19.

Dari analisas Ulrich Beck, kita telah merasakannya langsung bahwa pandemi memang dengan mudah mendistrupsi kultur bahkan struktur sosial masyarakat saat ini. Sistem kapitalisme dan keangkuhan modernitas mulai terkoreksi.

Pemerintah dan perusahaan dipaksa untuk menemukan pola hubungan-hubungan sosial dan model bisnis yang baru.  Di sisi lain, masyarakat diharapkan dapat lebih reflektif menyikapi situasi-situasi di masa pergolakan ini.

Pada tingkat lanjut, kita sedang pada posisi zona lesu, dimana pandemi belum terkendali dengan baik, dan laju teknologi industri 4.0 belum sepenuhnya teradaptasi. Dalam suasana ini,  isu distribusi kesejahteraan dan jaminan keamanan akan menjadi sorotan semua pihak.

Baca Juga  Bagaimana Cara Pemuda Indonesia Melawan Corona?

Solidaritas multipihak adalah salah satu cara bagi kita untuk mencari jalan keluar dari malapetaka ini yang sebenarnya juga merupakan buah dari tindakan-tindakan “beresiko” masyarakat dan pemerintah kita dalam menyikapi masa awal penetrasi Covid-19 di Indonesia.

Saya juga melihat resiko dari pandemi meningkatkan ketimpangan kelas, semakin miskin sebuah masyarakat, ia akan semakin rentan terhadap berbagai resiko. Sedangkan, masyarakat yang memiliki kekayaan dapat dengan mudah membeli keamanan dan menghindari berbagai resiko dari pandemi.

Pada tingkatan negara, resiko-resiko dari pandemi mulai terpusat pada negara-negara berkembang, sementara negara-negara maju menjadikan resiko dari negara-negara berkembang untuk mendulang keuntungan, sebagai contoh dengan menjual teknologi-teknologi alat kesehatan kepada negara-negara berkembang, bisnis ini hanya tinggal menunggu waktu.

Pada sisi yang lebih positif, beberapa intelektual percaya bahwa resiko dari pandemi ini dapat menyatukan seluruh umat manusia melampui sekat-sekat teritorial negara, walaupun fakta yang terjadi sebaliknya, kebijakan isolasi dan nasionalisme makin menguat dilakukan oleh para pemimpin politik dunia.

Penting bagi kita bersama untuk menempatkan para pekerja “preventif” diberbagai sektor menjadi lebih terhormat. Karena merekalah kekuatan yang secara efektif yang menjaga masyarakat terhindar dari berbagai resiko.

Dengan demikian, upaya preventif harus diperluas, secara struktural maupun kultural. Memang proses ini sangat panjang karena sangat terkait dengan habitus baru yang perlu disosialisasikan terus-menerus melalui kekuatan aktor maupun institusi.

Saya percaya adagium yang menyatakan “mencegah lebih baik daripada mengobati” harus menjadi pedoman pembangunan di Indonesia secara menyeluruh, tidak hanya di sektor kesehatan. Karena selama ini saya melihat kecenderungan pembangunan nasional masih berkutat pada dimensi kuratif dibandingkan urusan preventif dan promotif pembangunan.

Paradigma semacam ini yang membuat pembangunan kita selalu berkutat pada investasi asing, utang luar negeri, pekerja asing dan produk asing, karena kesadaran pentingnya membangun kekuatan bangsa sendiri secara disiplin masih sangat berjarak dengan kepentingan jangka pendek  kita semua hari ini.

Baca Juga  Corona adalah Ancaman Bagi Kesehatan dan Ekonomi Masyarakat

Bagikan