6   +   8   =  
Bagikan

Lawan Corona, Lindungi Masa Depan Anak Indonesia – Warga Muda 

Dua hari yang lalu, saya sempat bermain-main dengan keponakan saya yang baru saja bertambah umur. Dia bilang, lawan COVID-19 itu caranya dengan C (cuci tangan), O (olahraga), V (vitamin), I (ikhtiar), dan D (do’a). Saya tersenyum sambil bertanya, “Keren! Siapa yang ngajarin itu?” Ternyata, gurunya lah yang mengajarkan singkatan itu. 

Hebat! Bagi saya itu salah satu cara sederhana bagi para orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mereka harus menjaga diri dari virus corona. Pada awal kedatangan COVID-19 di Indonesia, World Health Organization (WHO) pernah mengklaim bahwa orang lanjut usia (lansia) merupakan kelompok usia yang paling rentan terpapar COVID-19. Sedangkan, pemuda dan anak-anak dianggap tidak rentan terhadap pandemi ini, sehingga orang tua tidak perlu terlalu khawatir akan kesehatan anak-anak mereka. 

Menurut data yang didapat dari deteksi kasus COVID-19 oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) per 18 Mei 2020 menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat 3. 324 anak berstatus Pasien dalam Pengawasan (PDP), 129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak telah terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak meninggal dunia akibat virus ini. 

Data tersebut menunjukkan bahwa virus ini bisa menyerang siapa saja, tidak peduli umur, jenis kelamin, ras, suku, atau kelas sosial apapun, semua orang memiliki kerentanan untuk terpapar virus COVID-19. Tulisan saya kali ini mungkin akan sedikit berbeda. Biasanya, saya lebih suka membahas tentang bagaimana peran pemuda dalam menghadapi COVID-19. 

Pada tulisan-tulisan saya terdahulu, pembahasan tentang pemuda dan COVID-19 menjadi hal yang sangat menarik untuk didiskusikan bersama-sama. Namun pada kali ini, saya ingin membahas bahwa anak-anak Indonesia juga memerlukan perhatian yang luar biasa dari pemerintah, lingkungan, bahkan dari keluarganya sendiri agar dapat menerima situasi pandemi seperti ini. 

Kalau dipikir-pikir, hidup di tengah pandemi COVID-19 ini bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan tidak ada satu pun orang yang menginginkannya. Logikanya, jika orang dewasa saja terbebani, bagaimana dengan anak-anak? Tentu saja, ini bukan hal yang mudah bagi mereka. Ketika sekolah ditutup, waktu main dan jumlah interaksi antar sesama harus dibatasi, semua ini menjadi ‘ujian’ tersendiri bagi anak-anak. 

Mereka yang biasanya bisa bersenda-gurau dengan teman-temannya, kini harus belajar dari rumah tanpa bertatap muka langsung dengan guru dan teman-teman sekelasnya. Saya bisa paham bagaimana kakak saya harus memutar otak untuk menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa virus corona ini belum berakhir, sehingga mereka belum bisa berinteraksi secara bebas di luar rumah. 

Namun, bagaimanapun juga kita adalah orang-orang yang memiliki kewajiban untuk membantu melindungi masa depan anak-anak di sekitar kita. Tidak peduli apakah kita adalah seorang ibu atau ayah muda, abang, kakak, tante, paman. Siapa pun kita,  menjaga anak-anak di sekitar kita dari bahaya COVID-19 adalah suatu  kewajiban. 

Henrietta Fore selaku Direktur Eksekutif UNICEF menyatakan bahwa “Anak-anak adalah korban tersembunyi dari pandemi ini”. Mereka bukan hanya terkena dampak jangka pendek, namun juga jangka panjang. Risiko kesehatan bukan satu-satunya hal yang dapat menghantui kehidupan mereka, namun masalah kesejahteraan, perkembangan, bahkan prospek masa depan mereka nanti. 

 “Anak-anak adalah korban tersembunyi dari pandemi ini”- Henrietta Fore 

Peran Keluarga Muda dalam Melindungi Kesehatan Anak di Masa Pandemi

Memerangi coronavirus terhadap anak-anak itu harus dimulai dari keluarga, terutama para orang tua. Memisahkan anak-anak dari ‘dunia luar’ bukanlah hal yang kejam. Untuk saat ini, tindakan tegas dalam melarang anak bermain di luar rumah adalah bentuk kasih sayang yang tidak ternilai. 

Dalam hal ini, orang tua perlu menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya sendiri terlebih dahulu. Misalnya, rajin mencuci tangan, sehingga anak-anak akan mengikuti perilaku orang tuanya, dan semakin memahami bahwa mencuci tangan adalah praktik yang menyenangkan, serta sangat penting untuk membasmi virus. Cara sederhananya bisa menggunakan singkatan menarik seperti yang sudah saya paparkan di awal artikel ini. 

Yap! Anak-anak suka dengan singkatan kata atau mungkin kita bisa mengajak mereka untuk mencuci tangan sambil bernyanyi balonku ada lima, mungkin? Tujuannya, biar mereka tidak jenuh mencuci tangan minimalnya selama 20 detik. 

Keluarga muda juga perlu memperhatikan asupan gizi anak dan anggota keluarga yang lain. Tujuannya agar sistem imun tubuh menjadi kuat. Apabila sang ayah atau ibu harus beraktifitas di luar rumah seperti, work from office kembali, maka setidaknya gizi yang diperlukan tubuh tercukupi. 

Peran Pemuda dalam Melindungi Masa Depan Anak Indonesia

Sayangnya, tidak seluruh keluarga dapat memberi asupan gizi yang terbaik bagi anak-anaknya. Pandemi COVID-19 bukan hanya membawa ancaman kesehatan, namun permasalahan ekonomi juga turut ikut di belakangnya. Dilansir dari CNBC Indonesia, Susiwijono Moegiarso selaku Sekretaris Kemenko Perekonomian mengatakan bahwa data per 2 Juni 2020 menunjukkan bahwa sekitar 3,05 juta orang pekerja di Indonesia perekonomiannya telah terdampak COVID-19, mereka di PHK dan dirumahkan. 

Kondisi ini membuat banyak orang tua harus kehilangan pekerjaannya. Menganggur, tentunya bukan kondisi yang tepat untuk membangun dan menjaga suatu keluarga. Lagi-lagi, keluarga muda perlu bersikap lebih kuat secara fisik dan mental untuk menghadapi ini. Situasi yang penuh dengan ketidakjelasan (uncertainty) ini perlu dipersiapkan oleh para pasangan muda sebelum mereka melangkah lebih jauh ke jenjang pernikahan. 

Kembali lagi, peran pemuda tetap akan menjadi bagian penting dalam tulisan saya ini. Tanpa pemuda yang kuat dan berilmu, mereka tidak akan bisa menjadi orang tua yang hebat untuk anak-anaknya nanti. Sedangkan, masa depan Indonesia itu ada di tangan para pemuda, dan anak-anak adalah generasi penerus dari para pemuda saat ini. 

Menurut Debora Comini selaku Perwakilan UNICEF, “setelah pandemi, anak-anak di seluruh Indonesia akan terus merasakan dampaknya selama bertahun-tahun ke depan”. Tentunya, ini menjadi tugas bagi kita semua untuk membantu melindungi masa depan anak Indonesia. 

Menjadi pemuda yang peduli dengan sesama dan anak-anak di sekitarnya. Menjadi calon orang tua yang siap secara finansial, ilmu, serta kuat secara fisik dan mental. Selain itu, menjadi keluarga muda yang siap menghadapi segala situasi uncertainty juga sangat diperlukan. Yuk pemuda, terus jaga diri sendiri dan anak-anak di sekitar kita, demi masa depan anak Indonesia yang lebih baik. 

 

Baca Juga  Sikap Pemuda Dunia terhadap Covid-19

Bagikan