3   +   7   =  
Bagikan

Epidemi COVID-19 bisa membuat situasi kita makin rentan. bisa jadi malah jatuh di titik yang paling tragis. Kaum muda perlu menyiapkan diri, selain menjaga kesehatan, mereka juga harus bertahan dari dampak ekonomi pandemi virus ini.

Dalam suasana ekonomi yang kondusif saja, mendapatkan dan mempertahankan perkerjaan masih sangat berat bagi generasi muda, apalagi di tengah bencana.

Sebelum wabah virus, International Labour Organization (ILO) pada tahun 2019, menyatakan bahwa 267 juta anak muda di seluruh dunia dalam kondisi tanpa pekerjaan, pendidikan atau pelatihan.

Pada konteks di Indonesia, merujuk data Badan Pusat Statistik tahun 2019, angka pengangguran di bawah usia 30 tahun mencapai 50,39 persen. Dari tujuh juta pengangguran di Indonesia, separuhnya adalah anak muda

Anak-anak muda ini, saat memasuki pasar tenaga kerja juga mengalami dilema. Mereka lebih banyak memiliki “impian”, bukan keterampilan. Seandainya punya keterampilan, itupun sudah cukup usang dan tidak kompatibel dengan kebutuhan industri 4.0.

Gap pengetahuan dan kegagapan keterampilan di kalangan generasi muda adalah isu yang cukup serius bagi pelaku industri di tingkal lokal, nasional dan global.

Melimpahnya pekerja tak terampil, ditambah pandemi COVID-19. Sangat mungkin memicu situasi yang dapat menghancurkan jutaan pekerjaan. Sejak kemunculnya, menurut ILO, secara global hampir 2,7 miliar pekerja yang mewakili 81 persen tenaga kerja dari seluruh dunia terancam nasibnya.

Di Indonesia, terjadi hal yang serupa. Berbagai sektor ekonomi pada level mikro maupun makro sedang terpuruk, rugi besar, dan berpotensi bangkrut. Beban operasional yang tidak diimbangi dengan pendapatan jadi momok berbahaya.

Bagi para pengusaha, melakukan PHK adalah opsi paling mudah dilakukan untuk mengurangi resiko. Sementara nasib jutaan manusia menjadi taruhannya, dan tidak memiliki pilihan lain selain menerima kenyataan.

Baca Juga  Apakah Indonesia akan krisis Ekonomi karena Corona?

Para pekerja muda ini akan kehilangan pendapatan dan nasib buruk menimpa mereka tanpa permisi. Di tengah pandemi, menjalani hidup di tahun 2020, tentu semakin rumit untuk para pekerja muda. Karena banyak dari mereka tidak dilindungi jaminan sosial dan bergelut di sektor ekonomi informal.

Tanpa kebijakan yang tepat dari pemerintah Indonesia. Seluruh pekerja tidak hanya yang muda, sangat berisiko terpukul dan jatuh miskin. Layanan jaminan sosial dan akses kesehatan yang buruk akan mendidihkan situasi menjadi semakin dramatis.

Saya percaya, kondisi ini membuat kita harus semakin bijak dalam mengelola sumber daya publik yang terbatas. Pemerintah, swasta dan organisasi masyarakat sipil harus berkolaborasi merumuskan sesuatu yang kreatif untuk mempertahankan ekonomi, menciptakan jenis pekerjaan  dan bahkan model bisnis baru untuk menyelamatkan masa depan anak muda.

Lima alasan Pandemik COVID-19 Mengancam Pekerja Muda

Pertama, teman Saya merasakan sendiri, bahwa para pekerja muda lebih berisiko di pecat daripada generasi yang lebih tua di tengah pandemi COVID-19. Kurangnya pengalaman, sedikitnya jaringan, dan keterampilan yang belum mapan menjadi pertimbangan perusahaan untuk memutuskan hubungan kerja. Di situasi semacam krisis, para pekerja muda dipastikan sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru, dan uang tabungan mereka semakin habis untuk bertahan hidup.

Nasib buruk karena COVID-19 juga menimpa para wirausahawan muda yang sekarang sedang bimbang mengakses sumber daya dan mengatur arus kas di kondisi penuh ketidakpastian. Pembatasan mobilitas dalam kegiatan ekonomi akan menjadi mimpi buruk bagi generasi muda untuk mendapatkan nafkah.

Kedua, sebagaimana kita ketahui bersama, ana-anak muda Indonesia banyak yang bekerja di sektor ekonomi informal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor informal mendominasi pekerjaan di Indonesia. Pada Februari 2019, tercatat penduduk yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor informal sebanyak 74 juta jiwa. Sementara penduduk yang bekerja di sektor formal hanya 55,3 juta jiwa. Anak-anak muda yang bekerja di sektor informal banyak yang menerima upah harian, ini yang membuat mereka mau tidak mau harus tetap berkerja mempertaruhkan kesehatan mereka untuk bertahan hidup.

Baca Juga  Kuota 30 Persen Anak Muda di Parlemen, Perjuangkan!

Ketiga, para pekerja muda ini dibayar dengan upah rendah dan jam kerja yang tak teratur, keamanan kerja yang buruk dan rumitnya akses jaminan sosial untuk mereka. Para pekerja muda yang sudah tersingkir dari pekerjaannya karena pandemi banyak yang tidak mendapatkan pesangon karena periode kerjanya yang tidak cukup panjang di perusahaan. Tidak memiliki pekerjaan dan tabungan membuat generasi muda tertekan secara fisik maupun mental.

Keempat, anak-anak muda yang masih berkerja di sektor industri dan manufaktur sangat rentan terjangkit pandemi COVID-19. Sektor Industri dan manufaktur diprediksi menjadi arena yang paling parah dalam penyebaran virus COVID-19.

Pemerintah Indonesia masih belum memiliki protokol yang jelas untuk melembagakan keamanan bagi para pekerja di sektor ini, selain himbauan-himbuan yang tak karuan yang seringkali bertolakbelakang antar kementerian/lembaga terkait.

Kelima, pandemi COVID-19 telah terbukti mempercepat penetrasi teknologi digital di Indonesia. Lebih cepat dari dugaan kita bersamaan, mungkin sekarang penggunaan teknologi akan menjadi pilihan praktis korporasi untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Dalam laporan terbarunya, ILO menyoroti bahwa risiko otomatisasi akan menggerus para pekerja muda, karena pekerjaan yang mereka cederung lebih mudah untuk diotomatisasikan.

Pertanyaan selajutnya adalah apakah Indonesia sedang diambang pergolakan besar? Menurut saya, kita sedang dalam momen yang penuh kekhawatiran. Kita sedang sama-sama waswas, epidemi COVID-19 dan otomatisasi akan menciptakan pengangguran besar-besaran.

Dalam beberapa bulan kedepan tidak ada pekerjaan yang benar-benar aman dari pandemi, dan dalam beberapa tahun kedepan tidak ada satu profesipun yang bertahan dari otomatisasi.

Pemerintah Indonesia harus segera memikirkan stimulus dan perlindungan bagi para pekerja muda ini. Peningkatan pengangguran di kalangan generasi muda akan mengakibatkan permasalahan sosial-politik yang cukup besar.

Baca Juga  Sikap Pemuda Dunia terhadap Covid-19

Mengabaikan nasib pekerja muda saat ini, berarti pemerintah rugi besar karena telah membuang-buang talenta dan investasi pembangunan SDM Unggul yang sudah diupayakan bahkan sebelum wabah COVID-19 terjadi. Dalam jangka panjang pengangguran pemuda akan membebani bangsa dan masa depan Indonesia.

 

*tulisan ini sudah dipublikasikan haluan.co

 


Bagikan