1   +   4   =  
Bagikan

Ironi #Dirumahaja Bagi Pemuda Tunawisma – Warga Muda

#Dirumahaja telah menjadi kata sandi untuk melawan virus corona di Indonesia. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyerukan warganya untuk melakukan isolasi diri dengan tinggal di rumah. Kebijakan ini didasari oleh bias berpikir, bahwa setiap orang memiliki “rumah” dengan sanitasi yang memadai.

Padahal menurut Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, diperkirakan masih ada sekitar 77.500 gelandangan dan pengemis yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia pada tahun 2019 lalu. Kelompok ini dapat dikatakan berisiko paling tinggi secara medis karena pandemi ini bisa jadi “hukuman mati” untuk mereka.

Pandemi Covid-19 telah membuat kita menyoroti ketimpangan sosial dan memperhatikan masyarakat yang paling rentan, namun tidak untuk anak-anak muda tunawisma. Tulisan ini mencoba mengajak kita melihat kelompok ini, sekumpulan pemuda-pemudi yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal di tengah hilangnya normalitas.

Sekarang banyak yang khawatir bahwa tekanan pandemik akan memperburuk berbagai masalah dan ketenggangan sosial. Sejak tiga bulan lalu, anak-anak muda di Jakarta yang rentan langsung dihatam situasi, mereka mengalami stres tanpa adanya uluran tangan untuk masalah psikologis mereka yang dihantui berbagai kecemasan. Nyata tumpukan sembako tidak dapat menyehatkan jiwa mereka.

Dalam keadaan darurat, tekanan ekonomi mencabik-cabik emosi kita semua. Kesehatan mental anak muda kini jadi taruhannya dan penganiayaan terhadap anak-anak jalan juga meningkat tanpa disadari.

Terlebih lagi, pemuda-pemudi tunawisma tidak memiliki tempat berlindung, dan tidak ada perubahan yang berarti bagi hidup mereka setelah dan sebelum corona menghampiri. Pemuda-pemudi ini membutuhkan bantuan, tidak hanya tempat tinggal jangka pendek dan kebutuhan pokok selama pandemi. Mereka butuh bantuan yang lebih bersifat struktural ketimbang moral.

Baca Juga  Revisi UU Minerba Sah, Rakyat Makin Gerah

Ingat, keadaan darurat sekarang tidak bisa dibandingkan dengan bencana-bencana lainnya, yang lebih cepat dalam proses kembali kehidupan normal. Pandemi mempunyai durasi yang sangat lama pada proses pemulihannya, seiring berjalannya akan banyak yang dikorbankan. Semua ini sangat tergantung dari daya tahan fisik, mental maupun finasial masing-masing individu.

Saya melihat, di era pandemi sekaligus otomatisasi, tunawisma dikalangan anak muda berpotensi meningkat secara signifikan. Bisa jadi mereka menjadi tunawisma bersama dengan keluarganya. Akibat orang tua mereka kehilangan pekerjaan  dan tak punya daya untuk mempertahankan cicilan rumah atau membayar kontrakan mereka.

Banyak pemuda-pemudi saat ini, terutama yang hidup di kota besar, mulai memiliki berbagai hambatan untuk menjadi stabil. Kehilangan pekerjaan selama beberapa waktu terakhir akibat pandemi merupakan pukulan telak buat mereka. Mereka mulai memakan uang tabungannya, sedikit frustasi untuk membayar hutang-hutang mereka, dan mulai mencari cara untuk bertahan hidup, minimal mempertahankan “kos-kosan” mereka atau kembali ke kampung halaman.

 

 

Negara menolong manusia

Dengan gejolak pandemi, negara harus memenuhi kebutuhan warga negara sebagai manusia yang seutuhnya. Maka, perumahan bagi anak-anak muda tunawisma adalah prioritas bersama untuk memastikan perlindungan kepada mereka dari dampak buruk Covid-19.

Upaya uni membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Sehingga sumber daya dan kapasitas yang diperlukan ada untuk menjamin setiap nyawa anak-anak yang hidup tanpa rumah. Kami dari Warga Muda menyarankan negara harus mengambil langkah   sebagaimana berikut:

Pertama, negara menyediakan “rumah” untuk semua tunawisma. Dengan menyediakan perumahan permanen  bisa dalam bentuk barak tentara atau ruang-ruang publik lain (GOR, rumah ibadah, kantor pemerintahan, balai warga dan lainnya) untuk tempat mereka berlindung dari ganasnya pandemi.

Baca Juga  Megatren Global dan Ancaman Irelevansi Generasi Muda!

Kedua, negara harus menjamin keamanan, makanan, dan jaminan sosial bagi anak-anak muda tunawisma dengan pelayanan yang peka terhadap kesehatan jiwa dan raga mereka.

Ketiga, negara harus  menghentikan penggusuran atau pembongkaran tempat tinggal para tunawisma dan berikan mereka opsi untuk pindah ketempat berlindung yang lebih bermartabat untuk menyelamatkan mereka.

Keempat, pastikan akses terhadap  bantuan bagi individu, keluarga dan komunitas yang telah atau terancam menjadi tunawisma karena pandemi.

Bagi anak-anak muda tunawisma yang dites positif terkena virus corona, opsi karantina dengan layanan  optimal harus tersedia tanpa diskriminasi.

 

 

 

 

 

 


Bagikan