1   +   5   =  
Bagikan

Tugas Net Generation dalam Melawan Disinfodemic – Warga Muda

Percepatan kemajuan teknologi memudahkan kita dalam mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan. Di era padat informasi inilah semua orang dapat terkoneksi satu sama lain. Peleburan akan masifnya informasi yang berkembang sekarang justru menjadi musuh modern yang kini telah banyak menimbulkan perpecahan. Kemajuan teknologi khususnya pada informasi dan telekomunikasi yang semakin pesat tak jarang memicu terjadinya berita hoaks.

Khalayak dan media sosial telah lama terkontruksi dalam hubungan interaktif. Namun, berjalannya waktu khalayak memerankan posisinya sebagai konsumen dan produsen sebuah informasi. Khalayak atau masyarakat kini dengan mudahnya menerima dan menjual berita pada media sosial. Melirik fakta tersebut bukan tak mungkin bahwa penyebaran informasi bohong atau hoaks dapat di produksi oleh siapa saja.

Hoaks atau berita bohong adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Target dari hoaks biasanya terkait isu-isu politik, sosial, budaya, dan agama. Tak mengherankan bahwa hoaks seringkali didalangi olah seseorang, kelompok ataupun suatu golongan untuk menjadi alat kepentingan semata.

Jika dibenturkan dengan pandemi COVID-19 yang menggerogoti bumi pertiwi, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Widodo Muktiyo, mengatakan bahwa setidaknya ada 686 komunikasi tidak benar alias hoaks yang beredar selama pandemi COVID-19. Selain itu, survei yang dilakukan oleh Centre for International Governance Innovation (CIGI) mencatat 86 persen pengguna internet di dunia menjadi korban penyebaran berita hoaks.

UNESCO sendiri telah memeperingatkan tentang adanya disinfodemic yang akan membahayakan kondisi masyarakat saat pandemi. Disinfodemic merupakan istilah yang dibuat UNESCO merujuk pada masifnya penyebaran hoax dan disinformasi seputar Corona. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengatakan disinfodemic telah menjadi wabah penyakit kedua setelah virus corona itu sendiri.

Baca Juga  Bagaimana Cara Pemuda Indonesia Melawan Corona?

Disinfodemic juga menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh oknum jahat guna membuka praktik media online yang bermasalah dalam memberitakan situasi pandemi COVID-19. Data temuan disinfodemic di Indonesia yang dihimpun dari tim AIS Ditjen Aptika, hingga hari ini menunjukkan 1.471 sebaran isu yang ditemui dan dikenali dari berbagai platform digital. Sebanyak 1.116 konten masih perlu ditindaklanjuti dan 455 lainnya sedang dalam proses .

Menurut hemat penulis, bahaya hoaks dapat menimbulkan perasaan marah bahkan depresi. Artinya hoaks seputar pandemi COVID-19 atau disinfodemic dimaksudkan untuk memanipulasi opini publik, guna memancing respons emosional dari pembaca atau pemirsa. Sehingga dapat menimbulkan perasaan marah, curiga, cemas, dan bahkan depresi dengan mendistorsi pemikiran kita. Inilah yang menjadi titik kritis bahaya disinfodemic bagi seluruh rakyat Indonesia, karena ketika seseorang terganggu secara psikologis, maka imunitasnya juga akan menurun. Sehingga peluang untuk tertular virus COVID- 19 jadi lebih besar.

 

Pemuda Indonesia Lawan Disinfodemic

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2018 sebesar 51,5 persen atau sebanyak 132,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia yaitu sebenar 252,6 juta jiwa. Hasil survey APJII ini membuktikan bahwa pengguna internet yang dinilai dari segi usia didominasi oleh usia remaja yakni umur 20-24 Tahun.

Remaja pada usia inilah yang saat ini dikenal dengan generasi Digital Natives atau bisa disebut juga net generation merupakan generasi yang lahir ketika budaya digital telah tumbuh dan berkembang sehingga perangkat komunikasi seperti internet & smartphone telah menjadi bagian integral dari kehidupannya.  Melirik fakta tersebut, Di sinilah saatnya pemuda sebagai digital native generation atau net generation memiliki peran besar untuk dapat melawan hoaks seputar pandemi (disinfodemic) yang banyak bertebaran di media sosial.

Baca Juga  Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria : Institusi Pendidikan Harus Paham Bonus Demografi!

Hal  tersebut karena pemuda memiliki keterampilan dan akses informasi yang jauh lebih mudah dan lebih kaya. Beberapa hal yang bisa dilakukan pemuda sebagai net generation dalam mewalan Hoax seputar pandemic (disinfodemic) di antaranya :

  1. Turut aktif dalam mengedukasi masyarakat terkait Covid-19.
  2. Menyebarkan dan membuat konten positif.
  3. Update informasi seputar Pandemi Covid-19.
  4. Tidak asal sharing informasi dari sumber yang tidak jelas.

 

Tentunya, semua ini perlu dimulai dari diri kita sendiri. Yuk, jadi pemuda-pemudi Indonesia yang bijak terhadap berita-berita hoaks, serta berantas disinfodemic mulai dari sekarang!


Bagikan