3   +   6   =  
Bagikan

Hay Sobat Muda, kali ini kita berkesempatan untuk ngobrol bareng salah satu sobat dari Komunitas Bhineka Ceria. Bhinneka Ceria sendiri merupakan sebuah komunitas yang bergerak pada tiga aspek yaitu, pendidikan, pemuda, dan pengabdian.

Bersama Sobat Ringgana Wandy Wiguna (Iing), yang saat ini menjabat sebagai Manager Pengabdian Masyarakat, Bhinneka Ceria. Kita ngobrol-ngobrol soal bonus demografi khususnya gimana pandangannya, berhubung  Bhinneka Ceria sendiri selama ini aktif di ranah pendidikan dan juga pemuda.

Yuk simak obrolan bersama Sobat Iing.

WM: Sobat Iing sudahkah sobat tahu bonus demografi? Bagaimana sobat menganggapinya?

Sobat Iing : Iya lumayan tahu. Bonus demografi itu adalah ledakan penduduk usia produktif mencapai 70% dibandingkan dengan usia non produktif yang hanya 30%. Kalo saya sendiri menyambutnya dengan bersikap optimis saja dan mengajak para anak muda agar siap menghadapi bonus demografi. Asalkan kita optimis kita dapat menghadapinya dan justru mendapatkan manfaat positif dari bonus demografi.

WM: Menurut sobat, apa si tatangan yang harus dihadapi dari adanya bonus demografi?

Sobat Iing: Kalau berbicara soal tantangan, woww… saya pikir sebenarnya ada cukup banyak yah. Soalnya bonus demografi sendiri adalah sebuah kondisi dimana jumlah usia produktif membeludak. Pasti akan membawa beberapa efek yang diakibatkan, persaingan di dunia kerja diprediksi akan semakin ketat karena jumlah usia produktif sangat besar. Artinya penduduk usia produktif ini harus mampu menghadapi persaingan ketat ini, jika kita gagap dalam menghadapinya, pasti kita bakal tersisih. Tantangan yang paling penting buat para usia produktif adalah bagaimana mereka mampu membaca dan mengikuti perkembangan ini.

WM: Kalo menurut sobat, soal dampak antara positif dan negatifnya bagaimana?

Baca Juga  RKUHP Disahkan, Pasal-Pasal Ini Bikin Kamu Kaget

Sobat Iing: Mmm… kalo berbicara masalah positif dan negatifnya, sebenarnya saya adalah orang yang cukup optimis dan cenderung melihat bonus demografi akan berdampak positifnya, meskipun harus dibarengi dengan kesiapan usia produktif secara matang terutama anak muda. Buat saya cukup optimis, karena kita akan memiliki jumlah usia produktif yang besar, tentunya akan sangat menguntungkan dan seharusnya kita akan memiliki produktivitas tinggi khususnya untuk  pembangunan, jika itu terkelola dengan baik. Tapi kalau tidak (terkelola), ledakan usia produktif tersebut dapat menjadi bencana. Misalnya membludaknya jumlah pengangguran jika lapangan pekerjaan tidak bisa menampung usia produktif ini, dan itu dapat berpengaruh kepada hal lain seperti konflik horizontal di masyarakat.

WM: Bonus demografi pasti akan berhubungan dengan anak muda, menurut sobat apa nih yang harus dilakukan untuk mengahadapi bonus demografi?

Sobat Iing: Yang harus dilakukan anak muda menurut saya adalah banyak bergaul, banyak bermain dengan teman atau memperbanyak relasi pertemanan. Perluasan jejaring pertemanan itu perlu bangat biar nanti kita bisa saling share baik itu informasi, pekerjaan dan lain-lain. Selain itu mulai biasakan lah untuk membaca dan lebih mengamati fenomena dan juga perubahannya. Itu memungkinkan kita membantu menambah kreatifitas dan inovasi baru sehingga kita selalu dipenuhi ide-ide segar.

WM: Untuk komunitas Sobat sendiri (Bhinneka Ceria) , sejauh mana sudah bersiap menyambut bonus demografi?

Sobat Iing: Sejauh ini bonus demografi sudah mulai menjadi perhatian kami. Behinneka Ceria sendiri merupakan komunitas yang fokus pada pendidikan, anak muda, dan pengabdian. Kita terus melakukan kegiatan dengan pemuda dan juga terus melakukan pengabdian. Melalui metode gerakan kita, kita mulai menekankan untuk meningkatkan cara berfikir kreatif dan juga memasukan wawasan yang lebih luas. Tepatnya lebih kepada saat kita melakukan kegiatan belajar mengajar kita membawa konten soal upaya untuk menyambut bonus demografi tersebut, yang di artikulasikan dalam bentuk yang simpel dan kreatif  juga berwawasan. Untuk internal kita sendiri, kita sudah menekankan kepada pengurus dan juga memperkenalkan isu tersebut kepada para volentir Bhinneka Ceria. Selain itu beberapa kali kajian soal bonus demografi juga pernah kita adakan untuk internal kita.

Baca Juga  Generasi Milenial adalah Generasi Negatif, Masa Iya?

WM: Sebagai komunitas yang bergelut di bidang pendidikan, menurut Sobat bagaimana seharusnya institusi pendidikan saat ini menghadapi bonus demografi?

Sobat Iing: Bonus demografi sendiri adalah soal bagaimana mengahadapi jumlah ledakan peduduk usia produktif. Menurut saya yang utama dari institusi pendidikan adalah bagaimana menyikapinya. Institusi pendidikan harus mencetak lulusan yang sesuai dengan kondisi yang akan dihadapi. Metode pengajaran dan kurikulum  seharusnya disesuaikan dengan kondisi yang ada. Ini soal serius, harusnya semua institusi pendidikan harus benar-benar memahami bonus demografi. Sejauh ini Indonesia memang cukup terlambat dalam merespon isu soal bonus demografi. Baru pada tahun 2015 lalu indonesia mulai memasukan soal bonus demografi dalam rancangan pembangunannya, padahal negara lain yang sudah mengalami bonus demografi, mereka mempersiapaknya dari sejak lama. Makanya itu, saya bilang Indonesia cukup lambat merespon isu tersebut, dan seharusnya penerapan kurikulum di sekolah adalah dirancang sesuai dengan dunia yang akan dihadapi saat keluar dari bangku sekolah. Saat ada ledakan penduduk usia kerja, mereka bisa berinovasi secara mandiri bukan tergantung sepenuhnya kepada Pemerintah untuk meminta lapangan pekerjaan.

WM: menurut kamu sejauh mana institusi pendidikan mampu berperan dalam menyambut bonus demografi?

Institusi pendidikan mampu menjadi salah satu sarana dalam menyambut bonus demografi. Namun bukan berarti semuanya akan beres dengan institusi pendidikan yah, ada banyak hal atau bagain-bagian yang memang harus dikolaborasikan. Kita gak bisa mengabaikan peran Pemerintah, Stakeholder, juga komunitas-komunitas masyarakat semua harus saling berkolaborasi karena ini akan kita hadapi bersama. Institusi pendidikan dapat berperan dalam pembentukan mentalitas serta cara berfikir bagi setiap orang. Jadi pendidikan harus mencermikan kondisi yang akan dihadapi, agar cara berfikir mereka gak berbeda total antara saat mereka belajar dan saat mereka masuk dunia yang sesungguhnya. Kalo institusi pendidikan masih kaku dalam metode pengajarnnya, masih mengekang cara berfikir bebas dan kurang mengapresiasi kreatifitas, bagaimana mereka nanti saat lulus dan masuk ke dalam dunia kerja. Cekatakan semacam itu  akan menjadi manusia yang bergatung dalam dunia kerjanya. Jika pendidikan disesuaikan dengan kondisi yang ada, saya sangat optimis akan berperan besar dalam pemebentukan manusia yang tangguh dan siap mengahadapi situasi yang akan dihadapi.

Baca Juga  Usia Menteri Pemuda dari Zaman ke Zaman!

WM: Apakah kamu yakin, Indonesia bakal sukses menyambut bonus demografi?

Saya harus opitimis dong, yang penting kita saling berjejaring bersama dan terbuka berfikir. Kita semua harus menyadari jika bonus demografi udah didepan mata, jadi kita harus menyambutnya sejak dini dan tetap optimis tentunya!


Bagikan