9   +   6   =  
Bagikan

Hola sobat muda, kali ini kami berdiskusi bareng sobat muda dari komunitas difapedia.com. Mukhanif Yasin Yusuf sang founder mengungkapkan bahwa ia mendirikan ini sebagai bentuk dedikasi , menginspirasi dan menginklusi dan tetap berfokus dalam dunia difabel.

Terlahir hingga berumur 11 tahun ia mengalami gangguan dalam pendengaran. Sebagai penyandang difabel dalam pendengaran (difabel rungu) “dia lebih senang dipanggil ini”.

kemudian ia menjawab tantangan itu dan masuk ke Universitas Gadjah Mada serta lulus dengan segudang prestasi baik disisi akademik hingga non akademik. Berbagai macam innovasi dan karya tulis telah ia lahirkan. Berikut obrolan lengkap kami dengan sobat Mukhanif.

WM : Apa yang membuat sobat termotivasi untuk mendirikan difapedia.com?

Mukhanif : Dikarenakan masa depan adalah dunia digital. Dan sudah saatnya kampanye isu difabel berbasis digital. Hanya saja, belum ada media yang menjangkau generasi milenial. itulah kenapa difapedia lahir dengan gaya yang mirip hipwee atau idntimes, hanya saja all about topicnya adalah difabel. Terlebih targetnya adalah jangka panjang, menyiapkan generasi milenial untuk memiliki perspektif difabel. Karena saya sadar, mainstreaming paling cocok adalah sejak dini mungkin.

WM : Menurut anda apakah media di indonesia sudah ramah difabel?

Mukhanif : Sejauh ini dalam pengamatan saya belum ramah. Baik dari sisi perspektif maupun konten. Misalnya beberapa media masih menggunakan istilah “cacat” atau “penderita”. Istilah cacat ini sudah ditinggalkan, dan istilah “penderita” ini menganggap difabel sebagai penyakit. Lebih cocok “penyandang”. Sisi lain, kalau melihat hitungan media dalam memberitakan difabel porsinya belum seberapa. Dan untuk media yang formatnya audio visual, mayoritas belum ada teks – subtitle -close captioned. Belum lagi kalau ngomongin konten yang ada. Seringkali hanya bombastis, bahkan cenderung clickbait.

Makanya difapedia.com menyajikan secara berimbang, di difapedia contohnya ada tips menghadapi atau penanganan banjir bagi difabel, daftar kampus yang menerima mahasiswa difabel, mekanisme advokasi yang bisa dilakukan, dan lain lain. Semua dengan gaya bahasa yg mudah diterima milenial.

Baca Juga  Demonstrasi Asik ala Gen Z

WM : Media seperti apa yang anda harapkan di masa depan dan sekarang?

Mukhanif : Kedepannya harapannya media yang ramah difabel, baik dari sisi cara penyajian maupun kontennya. Jadi tidak sekadar menjadikan difabel sebagai obyek berita untuk menggaet market, tapi sekaligus berperan sebagai media untuk mewujudkan indonesia yang inklusif. Sebisa mungkin dalam memberitakan difabel media bukan disebabkan karena momentum, tapi karena kesadaran.

WM : Menurut anda platform digital dan teknologi merupakan ancaman atau harapan bagi kelompok difabel?

Mukhanif : Sebenernya semua tergantung dari perspektif dan pola pikir dari sisi mana kita melihatnya. Kalau saya sebagai pribadi, karena platform digital dan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita nafikkan, maka ia harus diambil sebagai peluang untuk memberikan harapan bagi difabel.

Kita yakin, bahwa teknologi dan digital sifatnya adalah sebuah benda mati, ia bersifat netral, ia baru “bergerak” ketika manusia memberi “sentuhan”. Nah, tugas kita adalah bagaimana memberikan sentuhan yang bisa bermanfaat bagi difabel.

Misalnya sekarang saya sudah bisa “mendengar” dengan bantuan teknologi transliterasi dari audio ke dalam teks, meski blm 100% akurat, tapi sudah bisa membantu. Jadi, tugas kita adalah bagaimana mengedukasi dan mengarahkan manusia untuk memiliki perspektif difabel dalam dunia digital dan teknologi..

WM : Menurut anda, apakah media dapat menciptakan masyarakat yang inklusif? Apa makna inklusif bagi anda?

Mukhanif : Ya sangat bisa. Inklusif dalam artian tidak ada lagi diskriminasi dan marginalisasi, sehingga tidak ada lagi segresi antara difabel dengan non-difabel di segala lini masyarakat. Yang menjadikan mereka difabel adalah karena adanya hambatan-hambatan, ketika hambatan itu hilang maka difabel dapat menjalankan kehidupannya seperti yang lain.

Baca Juga  Adaptasi Penyandang Disabilitas di Tengah Pandemi Covid-19

Orang yang berkacamata, misalnya, sejatinya adalah difabel, Tapi karena hambatan penglihatannya sudah teratasi dengan kacamata, maka mereka dapat melihat atau membaca seperti biasa.

Dalam masyarakat inklusi, standar atau tolak ukur yang dipakai adalah kompetensi, bukan status difabelnya. Misalnya syarat-syarat tenaga kerja sekarang ini masih banyak yang mengecualikan difabel, dan hal ini yang menurut saya salah.


Bagikan