4   +   5   =  
Bagikan

Halo sobat muda, kali ini kami ngobrol bareng sobat muda dari kelompok peneliti Basic Income Lab.

Sobat Dhita Mutiara Nabella sang project manager menuturkan bahwa Alam – kondisi fisik , revolusi industry 4.0 dan perlindungan sosial – Kesejahteraanlah yang melatar belakangi Basic Income Lab didirikan pada awal tahun 2019 lalu dan secara organisasi masih berada dibawah naungan Research Center Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia. Berikut obrolan lengkap kami dengan sobat dhita.

WM : Sebuah ide baru yang belum secara masif masyarakat Indonesia mengetahui ini.. Lalu bisakah sobat jelaskan apa itu basic income?

Dhita : Basic income pada dasarnya yaitu pemberian uang tunai kepada seluruh masyarakat secara berkala dengan syarat minimal atau bahkan tanpa syarat untuk menerima uang tersebut.

WM : Beberapa pekan kemarin, sobat dan tim sudah melangsungkan basic income bootcamp pertama. Banyak pembicara dan materi yang menarik khususnya membicarakan 4.0, nah bagaimanakah sisi empiris antara basic income dengan 4.0 itu sendiri?

Dhita : Seperti yang kita ketahui bahwa revolusi 4.0 memiliki berbagai dampak terhadap kehidupan manusia, salah satunya dalam hal lapangan kerja, karena tenaga manusia kemungkinan besar akan banyak digantikan perannya oleh robot atau mesin. Oleh karena itu, basic income bisa jadi berperan sebagai social protection dari dampak tersebut.

WM : Negara mana sajakah diluar indonesia yang sudah menerapkan ini didalam kebijakannya? Seperti apa tingkat keberhasilannya?

Dhita : Sudah ada cukup banyak negara yang melakukan uji coba terhadap basic income, diantaranya Kenya, Finland, Brazil, Iran, India dan berbagai negara lainnya. Tentunya uji coba tersebut dilakukan dengan menyesuaikan kondisi negara yang bersangkutan, baik dari segi cakupan wilayah dan juga besaran uang yang diterima oleh masyarakat tersebut.

Baca Juga  12  Wabah Paling Mencekam Dalam Sejarah Dunia Selain Corona, Kenapa Milenial dan Gen Z Harus Tahu?

Dari berbagai eksperimen yang dilakukan di negara tersebut, ada yang berhasil, namun ada juga yang masih perlu dievaluasi. Sebagai contoh di India, beberapa wilayah telah dilakukan uji coba penerapan basic income, dan hasilnya mampu meningkatkan sanitasi, nutrisi, dan tingkat kehadiran sekolah.

WM : Kebijakan seperti apa yang mereka terapkan untuk merealisasikan program ini?

Dhita : Ada berbagai skema yang sedang dan masih terus dikembangkan diberbagai negara, tergantung dengan sumber daya yang dimiliki oleh negara tersebut. Ada yang memberikan hanya di wilayah tertentu di negara tersebut, atau ada juga yang dibatasi oleh usia, sehingga pada umumnya tidak sepenuhnya universal basic income.

WM : Sobat, realistiskah jika program BI ini diterapkan di Indonesia?

Dhita : Patut untuk dicoba dan terus dilakukan diskusi dari berbagai pihak. Akan realistis jika dilakukan eksperimen di wilayah tertentu dulu di Indonesia, tentunya kita juga harus memikirkan regulasi saat ini yang sedang berjalan, misalnya Program keluarga Harapan (PKH).

Kita sebaiknya melakukan analisis terlebih dahulu terkait efektivitas program yang telah berjalan saat ini, kemudian kita bandingkan dengan cost jika basic income diterapkan. Dengan demikian, akan terlihat perbandingan dari kedua skema tersebut.

WM : Terakhir, apa harapan sobat dan team?

Dhita : Harapannya semoga diskusi dan penelitian terkait basic income semakin menjadi perhatian masyarakat, karena bisa jadi ini merupakan salah satu opsi yang bisa Indonesia tempuh untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa depan.

 

Nofa Ksatria adalah Deputy Youth Dialogue dari perkumpulan warga muda, sehari-hari mengamati serta melakukan dialog atau wawancara langsung kepada Pemuda-Pemudi inspiratif. Ia adalah lulusan Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta. saat ini ia sedang menempuh Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia dengan konsentrasi tata kelola pemilu.


Bagikan